Tentang Ilmu Hushuli [10]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Apabila ada dua eksistensi yang mandiri dan independen sedemikian rupa sehingga keadaan eksistensial yang satu sama sekali tidak berkaitan dengan atau berasal dari yang lain, dan konsekuensinya tidak ada hubungan kausalitas yang konstan antara keduanya, maka tampaknya adalah benar kalau dikatakan bahwa yang satu “mutlak netral” dalam hubungannya dengan yang lain. Cara lain untuk menyatakan hal ini adalah bahwa kedua wujud yang berbeda ini “berjauhan” secara eksistensial dari yang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan dan ditafsirkan bahwa keduanya secara eksistensial absen dari dan tidak hadir bagi atau tidak bersatu dengan yang lain.

Di sini, seperti yang telah ditunjukkan, kata “ketidakhadiran” yang sangat sering dipakai dalam teknik linguistik filsafat Iluminasi, berarti bahwa tidak ada kaitan dan hubungan logis, ontologis, atau bahkan epistemologis antara kedua eksistensi tersebut, yang dianggap berada dalam situasi dan kondisi wujud yang sama sekali berbeda. Ungkapan “mutlak netral” karenanya adalah ungkapan yang sah untuk menamai pengertian ketidakhadiran yang khusus seperti itu.

Suatu entitas mental atau hal-hal yang berada di alam pikiran berhadapan dengan sebuah obyek eksternal pertama-tama akan tampak sebagai dua eksistensi yang mutlak netral terhadap dan tidak hadir bagi yang lain. Ini berarti bahwa keduanya tidak terikat secara logis, ontologis, ataupun epistemologis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa “netralitas” seperti itu tak pernah bisa dihilangkan sama sekali dan diubah menjadi “kesatuan mutlak” sehingga kedua eksistensi itu menjadi satu realitas dan sama secara serempak dan dalam segala hal. Adalah suatu kontradiksi dan kekeliruan yang nyata bahwa sebuah entitas mental dan obyek eksternal menjadi identik dan menyatu secara mutlak, baik secara logis, ontologis, atau epistemologis apabila keduanya dianggap berbeda dalam ketiga kriteria ini.

Hanya ada satu kemungkinan bagi kedua eksistensi yang berbeda ini untuk berkumpul, bersatu, dan terikat satu sama yang lain melalui semacam unifikasi. Yakni unifikasi fenomenal yang bersifat epistemik, bukan logis ataupun ontologis. Sebuah obyek eksternal boleh jadi memiliki, di samping realitas faktualnya yang termasuk dalam tatanan wujud, sebuah representasi fenomenal dalam pikiran kita,[1] yang berhubungan dengan tatanan konsepsi. Ini tidak berarti sebuah tatanan wujud eksternal muncul, berada, dan berdiam dalam pikiran kita sehingga secara eksistensial dianggap bersatu dengan pikiran kita, dan sekaligus dipandang termasuk dalam tatanan konsepsi. Juga bisa dikatakan bahwa salah satu ciri utama tatanan konsepsi adalah bahwa dengan bersifat mental ia sangat bergantung dan mendapatkan realitasnya dari diri kita serta dihasilkan oleh pikiran kita dalam wilayah aksi fenomenal kita, sementara tatanan wujud dicirikan oleh eksisnya ia tidak dalam diri kita, tetapi dalam dirinya sendiri, dan terletak di luar diri kita di dunia eksternal yang independen terhadap pancaran mentalitas kita.

Telah ditegaskan bahwa satu-satunya cara yang mungkin diambil ke arah unifikasi kedua eksistensi yang pada awalnya netral itu adalah unifikasi epistemik. Akan tetapi, bagaimana sifat unifikasi ini dan bagaimana ia terjadi, tetap menjadi sebuah pertanyaan. Jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini terletak pada gagasan korespondensi (al-muthabaqat). Arti korespondensi yang dipakai dalam teori pengetahuan ini ringkasnya adalah “kemiripan” dalam isi dan “keidentikan” dalam bentuk.[2] Artinya, bentuk internal disatukan dengan bentuk material eksternal, akan tetapi eksistensi mental tak pernah identik dengan eksistensi eksternal. Kedua mode eksistensi yang berbeda itu karenanya saling menyerupai satu sama lain berkat unifikasi formal. Jika keidentikan formal ini tidak ada, maka tidak akan ada kemungkinan “komunikasi” antara pikiran manusia dengan dunia realitas.[3]

Ketika kita berbicara tentang gagasan korespondensi (al-muthabaqat), tentu saja harus dicatat bahwa paling tidak pada saat ini kita tidak berurusan dengan penetapan kriteria pernyataan-pernyataan logis yang mesti benar atau salah. Dalam filsafat Iluminasi persoalan ini dipandang berasal dari persoalan-persoalan yang sudah ada sejak asalnya. Bagaimana pengetahuan kita bisa berkorespondensi dengan dunia realitas? Atau, dengan perkataan lain, bagaimana kita bisa memahami dunia eksternal kita sebelum kita mampu berbicara dan membuat kalimat-kalimat mengenainya? Inilah pokok dan ranah pembicaraan yang menjadi perhatian kita dalam masalah keadaan dimana suatu pernyataan tertentu adalah benar atau salah, adalah masalah lain yang mesti dibahas pada tempat tersendiri.

Telah ditunjukkan bahwa tidak seperti ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) ditandai oleh keterlibatan pengertian ganda obyektivitas (yakni ilmu hushuli mempunyai dua obyek, obyek subyektif-esensial dan obyek obyektif-aksidental). Ia mempunyai obyek subyektif (yang terletak dalam pikiran), sebagai esensi yang diperlukan oleh pengetahuan seperti itu, dan juga mempunyai obyek obyektif yang terletak di luar tatanan konsepsi (yang terletak di alam eksternal) dan merupakan rujukan obyektif pengetahuan tersebut. Obyek yang pertama oleh filsafat Iluminasi disebut “obyek yang hadir”, dan obyek yang terakhir disebut “obyek yang tak hadir”, yang realitasnya terpisah dari realitas pikiran “subyek yang mengetahui”.

Dalam kasus pengetahuan ini, obyek subyektif memainkan peran representasi perantara dalam pencapaian suatu pengetahuan. Artinya, obyek subyektif, melalui konseptualisasi, menyuguhkan realitas obyek eksternal di hadapan pikiran “subyek yang mengetahui”. Untuk mencapai tindakan representasi ini harus ada “kesesuaian” dan “keidentikan” dalam pengertian korespondensi antara kedua jenis obyek tersebut. Sebagai representasi, obyek subyektif dan esensial, dan karenanya keseluruhan kesatuan pengetahuan, hanya bisa dimengerti apabila ia memiliki kesesuaian dan korespondensi dengan obyek eksternal. Karenanya, ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) adalah pengetahuan dimana:

  1. Terdapat dua jenis obyek: obyek internal (obyek esensial dan imanen) dan obyek eksternal (obyek aksidental dan transitif). Artinya, baik obyek subyektif maupun obyek obyektif harus sudah berada dalam tatanan aktual.
  2. Ada hubungan korespondensi antara kedua obyek tersebut.

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, karena hubungan korespondensi bersifat aksidental, artinya, pengetahuan kita mungkin berkoresponden atau tidak dengan realitas eksternal, maka dualisme logis kebenaran dan kesalahan, atau kekeliruan, perlu dipertimbangkan. Apabila obyek subyektif-esensial kita benar-benar berkoresponden dengan obyek obyektif-aksidental, maka pengetahuan kita mengenai dunia eksternal adalah benar dan sahih, akan tetapi apabila kondisi koresponden belum diperoleh, maka kebenaran pengetahuan kita tidak akan pernah dihasilkan. Ini karena oposisi terhadap kebenaran dan kesalahan termasuk jenis oposisi khusus. Ia menuntut suatu relasi yang aplikasinya dapat bersifat simetris bahkan jika hubungan itu tak simetris. Ini berarti bahwa pada setiap proposisi atau kalimat dimana kualitas “kebenaran” bisa diterapkan, kualitas kesalahan dengan alasan yang sama bisa diterapkan secara potensial, dan terhadap setiap proposisi atau kalimat dimana kualitas kesalahan bisa diterapkan, maka kualitas kebenaran, atas dasar yang sama secara potensial juga bisa diterapkan.

Dalam filsafat Iluminasi, menurut prinsip-prinsip yang layak, telah dikembangkan oposisi-oposisi (taqâbul) tertentu yang tidak dapat ditemukan dalam kotak perlawanan tradisional. Di antaranya, oposisi dan taqâbul terhadap apa yang disebut sebagai “bakat dan privasi” (‘adam wa malakah) mesti dikhususkan dalam kaitannya dengan kebenaran dan kepalsuan. Sifat oposisi ini, ketika dielaborasi, menyarankan suatu kategori oposisi yang di dalamnya mesti terdapat sesuatu yang memenuhi syarat bagi pemenuhan salah satu kualitas yang berlawanan. Sebuah contoh yang disebutkan oleh para filosof ini adalah obyek bernyawa yang memenuhi syarat untuk melihat atau buta, yang kerentanan terhadapnya tidak dimiliki oleh obyek tak bernyawa. Kita bisa mengatakan bahwa individu atau spesies binatang tertentu buta karena pada keadaan generik ia mempunyai kemampuan untuk melihat. Akan tetapi, kita tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa benda tertentu (tak bernyawa), katakanlah batu, adalah buta karena keadaan generik dari benda ini tidak menganggap akan adanya kemampuan untuk dapat melihat.[4] Jadi, benda apapun yang mempunyai, menurut fitrahnya mempunyai “kemampuan” untuk memenuhi salah satu kualitas yang berlawanan ini, ia mempunyai kemampuan dan kerentanan untuk dikualifikasikan oleh kualitas yang lain, dan sebaliknya. Perlawanan (tashâd) antara kebenaran dan kesalahan dianggap termasuk dalam jenis ini, dan berlaku hanya pada penilaian-penilaian dan pernyataan-pernyataaan yang, melalui hubungan korespondensi, memenuhi syarat untuk benar atau salah. Akan tetapi, ketika penerapan kriteria kesalahan tidak berlaku, maka penerapan kriteria kebenaran juga tidak berlaku.

Melalui korespondensi dengan rujukan obyektifnya, ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) memiliki kemampuan untuk menjadi benar. Oleh karena itu, ada kemungkinan pengetahuan ini tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang layak dan sebagai akibatnya ia lantas menjadi salah. Akan tetapi, sifat dan karakteristik ini tidak berlaku dalam ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), sebab jenis pengetahuan ini tidak mempunyai kaitan dan hubungan apa-apa dengan korespondensi, sehingga tidak ada kemungkinan untuk menjadi salah. Dengan demikian, ia tak mungkin dipersalahkan. Sebagaimana dinyatakan oleh sifat perlawanan (tashâd), apabila tidak ada kerentanan terhadap kesalahan, maka tidak ada pula makna bagi kebenaran. Dengan demikian, dualisme kebenaran dan kesalahan hanya berlaku dalam perlawanan yang layak dimana kemungkinan salah satu pihaknya merupakan tolok ukur bagi kemungkinan pihak lain. Ketidakmungkinan yang satu juga dipandang sebagai kriteria bagi  ketidakmungkinan yang lain. Akan tetapi, seperti telah kita nyatakan, dalam derajat eksistensi ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) yang tinggi terdapat versi kebenaran lain yang, seperti halnya pengetahuan itu sendiri, termasuk dan digolongkan ke dalam tatanan eksistensi dan bukan tatanan konsepsi dan representasi.[5]


[1] . “Representasi fenomenal” ini dalam bahasa Ilmuminasi Islam disebut al-asrar al-muthabiq li al-waqi’, yang berarti efek mental yang berkoresponden dengan realitas obyek tersebut. Lihat Kitab Al-Masyari wa Al-Mutharihat (Istanbul, 1845), hal. 479.

[2] . Ini adalah pengertian khas Islam mengenai  fenomenologi pikiran. Lihat Kitab Al-Asfar, jilid 2, pasal 4.

[3] . Mulla Hadi Sabziwari, Syarh-I Manzhumah, hal. 58-85.

[4] . Jenis perlawanan ini disebut ‘adam wa malikah’. Lihat Sabziwari, Syarh-i Manzhumah, hal. 153.

[5] . Untuk pembahasan mengenai semua pengertian penting “kebenaran”, lihat bahasan Al-Farabi yang dikutip oleh Sabziwari, al-Manzhumah, hal. 170.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s