Tentang Huduts dan Qidam-nya Alam [4]

Oleh: Mohammad Adlany

Ibnu Sina pada bagian ini berupaya menjelaskan persoalan huduts dan qidam-nya alam dengan mengajukan pertanyaan: Apakah alam bersifat qâdim atau hâdits?

Pada pembahasan ini, Ibnu Sina mengisyaratkan tiga hal:

  1. Keyakinan yang beragam tentang pencipta alam;
  2. Argumentasi para teolog tentang huduts-nya alam;
  3. Dalil para filosof tentang qidam-nya alam.

Di bawah ini akan diuraikan ketiga hal tersebut:

1. Keyakinan yang beragam tentang pencipta alam

Sebagian kelompok meyakini bahwa maujud materi secara esensial terwujud dengan sendirinya dan tidak membutuhkan suatu Pencipta eksternal, maujud materi mesti-ada dengan sendirinya.

Akan tetapi, berdasarkan penjelasan Ibnu Sina, awal bab keempat kitab Isyaratnya, telah ditetapkan bahwa maujud materi adalah bukan maujud yang ada dengan sendirinya dan perkataan Nabi Ibrahim As dalam al-Quran, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam,”[1] karena sesuatu yang berada dalam “wadah” imkan, merupakan suatu bentuk dari “ketenggelaman”. Setiap fenomena dan maujud yang memiliki sifat imkan (mungkin ada dan mungkin tiada) pada hakikatnya berada di tingkatan rendah eksistensi.

Kelompok lain berkeyakinan bahwa maujud materi sebagai akibat dan bukan sebagai Wâjibul Wujûd. Akidah ini terbagi dalam beberapa aliran:

  1. Sebagian mereka beranggapan bahwa inti dan hakikat maujud materi ini adalah bukan akibat, tetapi Wâjibul Wujûd. Sementara fenomena-fenomena yang tercipta dari hakikat maujud materi ialah akibat. Mereka ini meyakini dua Wâjibul Wujûd di alam ini. Dan kita ketahui bersama bahwa dualitas Wâjibul Wujûd adalah suatu kemustahilan;
  2. Aliran lainnya mempercayai dua Wâjibul Wujûd atau meyakini beberapa sesuatu itu yang merupakan unsur-unsur alam dan pembentuk materi sebagai Wâjibul Wujûd, dan menyangka bahwa maujud-maujud yang lain merupakan ciptaannya. Aliran ini dari aspek kaidah dan nilai kebenaran adalah sama dengan kelompok yang lain tersebut dimana berkeyakinan tentang ke-Wâjibul Wujûd-an sesuatu yang pada hakikatnya tidak memiliki sifat-sifat yang layak sebagai Wâjibul Wujûd.

2. Argumentasi para teolog tentang huduts-nya alam

Para teolog dan filosof sepakat tentang ketunggalan dan keesaan Wâjibul Wujûd. Akan tetapi, pada aspek lain, para teolog mengambil jalan berbeda dan meyakini bahwa Tuhan berwujud sejak azali dan makhluk pada tingkatan tertentu tidak bersama dengan Tuhan (makhluk tak azali).

Pada tingkatan tertentu itu, yang ada hanya wujud Tuhan dan Dia belum menciptakan sesuatu. Kemudian pada “kondisi tertentu” Dia memulai mencipta dan berkehendak untuk mewujudkan makhluk. Ini berarti bahwa alam yang dicipta Tuhan itu adalah suatu alam yang hâdits. Alam pada awalnya tiada dan pada tingkatan tertentu menjadi ada. Untuk membuktikan kebenaran akidah ini mereka membangun tiga dalil:

  1. Apabila kita tidak menerima asumsi bahwa alam pada awalnya tiada dan pada tingkatan tertentu menjadi ada, maka lawan dari ini harus kita asumsikan bahwa alam tidak berawal dan pada “masa lalu” terdapat maujud-maujud beraneka ragam yang tak berhingga. Oleh karena itu, semestinya pada “masa lalu” terdapat waktu tak terbatas, manusia tak berhingga, atom tak terbatas, air hujan yang tak terbatas, daun-daun pohon yang tak terbatas, dan lain-lain. Dan semua maujud tak terbatas ini berwujud secara aktual, karena setiap maujud-maujud tersebut terwujud pada “saat” itu juga.

Akan tetapi, asumsi tersebut di atas sangatlah bermasalah karena konsekuensinya akan terdapat maujud aktual yang tak terbatas dimana terwujud secara berurut-urutan. Dan juga karena semua maujud tak terbatas harus berada dalam koridor kewujudan (yakni semua aktual, tak ada yang potensial), perkara ini mustahil terjadi. Walaupun kewujudan semua maujud ini tidak sezaman, karena setiap bagian dari maujud sementara terwujud pada tempatnya sendiri, namun pada hakikatnya, bisa dihukumi bahwa semua maujud secara bersamaan terwujud. Dalil awal para teolog ini menjelaskan kemustahilan keazalian dan ke-qadim-an alam.

  1. Dalil kedua adalah bahwa kita tidak bisa menjelaskan setiap dari maujud dan fenomena hari ini dengan menyatakan bahwa maujud dan fenomena tersebut tidak terwujud, kecuali setelah terwujudnya maujud-maujud tak terbatas; yakni mengungkapkan bahwa maujud hari ini bergantung pada perwujudan maujud-maujud tak terbatas, sementara tidaklah benar jika kita menyatakan bahwa maujud-maujud tak terbatas harus terwujud sebelum perwujudan fenomena dan maujud hari ini. Bagaimana kita bisa mengasumsikan bahwa penciptaan fenomena hari ini (seperti hujan yang sedang terjadi) bergantung pada keberadaan maujud tak berhingga. Oleh karena itu, apabila alam ini tidak berawal (dalam zaman), maka setiap maujud dan fenomena hari ini akan terwujud pasca keberadaan maujud tak terbatas, dan hal ini adalah mustahil.
  2. Setiap zaman yang baru terwujud pula maujud yang baru dimana secara kuantitatif menambah jumlah maujud sebelumnya. Apabila alam tak berawal (dalam zaman) dan maujud yang lalu dipandang tak terbatas, maka akan terjadi kontradiksi, karena dari satu aspek kita mengasumsikan bahwa maujud yang lalu adalah tak berhingga dan pada sisi lain kita mengasumsikan bahwa maujud yang terbatas hari ini manambah jumlah maujud-maujud tak terbatas. Sementara penambahan itu tidak sesuai dengan ketakterbatasan. Oleh karena itu, kita mesti memandang bahwa alam itu adalah hâdits.

Dalam hal ini kita bisa bertanya dengan cara menentukan titik tertentu dimana dipandang oleh para teolog sebagai titik permulaan alam, dengan menyatakan: Mengapa alam bermula pada titik tersebut dan bukan pada titik sebelumnya atau setelahnya? Terdapat beberapa solusi atas pertanyaan ini:

Sebagian beranggapan bahwa alam pada titik itu memiliki prioritas, kelayakan, dan mashlahat untuk terwujud, yakni mashlahat ini berkaitan dengan kemestian penciptaan alam (bukan sebelumnya atau setelahnya);

  1. Sebagian lain berkeyakinan bahwa penciptaan alam selain pada titik itu adalah hal yang tidak mungkin;
  2. Dan sebagian lain menyatakan bahwa kemestian keberadaan alam sama sekali tidak berhubungan dengan titik tertentu. Satu-satunya pengaruh dalam penciptaan alam ialah kehendak dan iradah Tuhan. Dan pertanyaan tentang prioritas penciptaan Tuhan adalah tidak bermakna; yakni tidaklah benar jika kita bertanya: Mengapa Tuhan menciptakan alam ini pada zaman dan titik tertentu dan bukan pada zaman dan titik sebelum atau sesudahnya?

3. Argumentasi para filosof tentang qadim-nya alam

Para filosof berkeyakinan bahwa wujud Tuhan adalah tunggal dan berdasarkan prinsip ini mereka menerima bahwa Wâjibul Wujûd memiliki segala kesempurnaan aktual yang tak terbatas. Para filosof juga beranggapan bahwa pra-perwujudan makhluk (pada “ketiadaan murni”) tak ada satupun kondisi dan syarat tertentu sehingga bisa dibandingkan dengan kondisi dan syarat lain, dan lantas dihukumi bahwa Tuhan tidak mencipta sesuatu karena tidak memenuhi syarat dan kondisi (A) itu atau Tuhan mencipta sesuatu karena memenuhi syarat dan kondisi (B) tertentu, dan alam ini dicipta karena telah memenuhi kondisi dan syarat yang layak.

Pandangan seperti ini adalah mustahil dan tidak benar, karena pada ‘ketiadaan murni’ tak ada satupun realitas sehingga bisa dibandingkan bahwa realitas itu memiliki keunggulan dan kelayakan dari realitas yang lain.

Dengan demikian, Tuhan yang azali adalah tunggal, esa, tetap dan tak berubah, memiliki semua nama, sifat, dan kesempurnaan. Tak bisa dikatakan bahwa Tuhan, pada awalnya, tak memiliki sifat sempurna dan kemudian Dia memilikinya. Tuhan memberikan secara konstan kemestian mewujud kepada segala perkara yang mungkin terwujud dan Dia memiliki semua sifat yang mesti, niscaya, maha sempurna.

Oleh karena itu, tidak satupun perubahan yang bisa digambarkan terjadi pada zat Tuhan. Sementara yang berkaitan dengan perbuatan mencipta alam, dikarenakan tak satu pun realitas berwujud pada ketiadaan murni, tidak bisa dipandang bahwa suatu syarat lebih baik dari syarat lain atau suatu kondisi lebih unggul dari kondisi yang lain. Pada keadaan seperti ini, jika ditetapkan bahwa Tuhan mewujudkan alam, maka niscaya alam akan terwujud seketika (tidak dalam koridor zaman)[2] dan apabila alam mustahil tercipta, maka niscaya alam sama sekali tidak akan terwujud. Dengan demikian, tak ada perubahan apapun yang bisa digambarkan terjadi pada zat dan perbuatan Tuhan.

Para teolog meyakini sesuatu yang berubah, yaitu irâdah dan kehendak Tuhan. Mereka menyatakan bahwa Tuhan dengan segala kesempurnaan-Nya, tapi Dia tak berkehendak untuk menciptakan alam dan dari satu sisi alam bergantung atas kehendak Tuhan. Pada awalnya, Tuhan tak beriradah dan kemudian Dia berkehendak.

Asumsi kehadiran sirâdah baru pada titik tertentu penciptaan alam adalah tidak logis, kecuali jika kita bisa membuktikan alasan kemunculan irâdah dan kehendak baru Tuhan. Adalah hal yang mustahil digambarkan tentang kehadiran kehendak baru tanpa ada motivasi, sebab, dan alasan. Begitu pula mustahil diasumsikan keberadaan karakter baru atau syarat lain tanpa hadirnya suatu perubahan.

Dengan demikian, semua asumsi tersebut berujung pada perubahan, sementara kita mengasumsikan bahwa Wâjibul Wujûd tidak akan pernah berubah. Bagaimana para teolog mampu menyelesaikan masalah ke-huduts-an alam dengan mengasumsikan kemunculan kehendak baru pada zat Tuhan, sementara irâdah baru tersebut sama seperti alam itu sendiri yang hâdits dan bergantung pada suatu sebab? Tak ada perubahan apapun pada zat Tuhan, oleh karena itu, zat Tuhan adalah suatu hakikat yang tetap dan konstan.

Tak ada bedanya bahwa faktor dan penyebab perubahan itu adalah kemunculan syarat-syarat baru atau hilangnya hambatan, seperti Anda mengasumsikan bahwa melakukan suatu perbuatan tidak mengandung manfaat dan pada waktu tertentu dengan syarat khusus melakukan perbuatan ini memiliki mashlahat. Mengenai asumsi hilangnya halangan, Anda bisa mengasumsikan bahwa jika satu perbuatan dilakukan sebelumnya maka akan hadir keburukan, akan tetapi, jika sementara perbuatan itu tidak dilakukan hingga keburukan menjadi sirna, atau tidak diperbuat karena ada halangan dan halangan ini pada titik tertentu akan sirna. Semua asumsi ini adalah tidak logis dan tidak rasional.

Dengan demikian, tidak ada alasan kuat bagi ke-huduts-an alam (yakni penundaan penciptaan alam) dari sisi hakikat zat Tuhan selain kita menyatakan: para teolog itu beranggapan bahwa Tuhan tidak mesti menciptakan alam dan menghindar untuk memancarkan kebaikan dan kesempurnaan-Nya hanya dikarenakan bahwa ma’lul-Nya pernah ‘tiada’ dan memiliki sifat huduts itu.

Apabila kehendak Tuhan itu kita letakkan sebagai alasan bahwa Dia tidak mencipta alam hingga alam itu memiliki sifat huduts, maka cara pandang seperti ini adalah sangat lemah dan setiap manusia memahami bahwa pandangan seperti itu adalah tidak logis. Disamping itu, sifat huduts yang dimiliki oleh alam akan senantiasa dimilikinya di titik manapun Tuhan memulai menciptanya; yakni kalaupun alam dicipta lebih awal atau lebih lambat, maka alam tetap hâdits.

Jika kita memperhatikan poin ini bahwa alam secara esensial adalah mumkinul wujud dan keniscayaan wujudnya bersumber dari Wâjibul Wujûd, maka “keabadian” wujudnya tidaklah menjadi masalah. Dengan ini, kita bisa menarik konkulusi bahwa alam itu bisa “senantiasa” berwujud dan pada saat yang sama juga terus menerus membutuhkan emanasi Tuhan. Keberwujudannya ialah abadi, karena kebergantungannya juga abadi.

Kita tidak punya alasan kuat untuk menetapkan kebutuhan alam dengan mengasumsikan bahwa alam itu pada “zaman” tertentu tiada dan kemudian mengada.

  1. Kritikan yang diajukan oleh para teolog bahwa konsekuensi ke-qadim-an alam adalah keberadaan maujud-maujud tak terbatas pada “masa” lalu. Sesungguhnya prasangka seperti ini secara prinsipil adalah keliru. Tidaklah demikian bahwa jika satu hukum mencakup masing-masing individu, maka mesti juga meliputi kumpulan individu-individunya. Di sini satu per satu maujud hadir pada waktu tertentu, namun hal ini tidaklah bermakna bahwa pada waktu tertentu keseluruhan maujud juga hadir dan tak terbatas.

Kita tak menerima bahwa maujud-maujud tak terbatas hadir secara seketika dan bersamaan. Masing-masing maujud tak terbatas itu pada kondisi tertentu terwujud dan kemudian menjadi tiada. Jadi kesalahan berpikir para teolog itu ialah menggeneralisasikan hukum masing-masing maujud kepada kumpulan maujud itu. Apapila kita menerima generalisasi hukum ini, maka kita pun bisa menyatakan: kumpulan tak terbatas itu adalah sangat mungkin terwujud, sebagaimana juga masing-masing individu kumpulan itu adalah mungkin terwujud.

  1. Kritikan ketiga dari para teolog ialah kejadian-kejadian harian menambah kuantitas kejadian-kejadian masa lalu, sementara kejadian tak terbatas pada masa lalu mustahil mengalami penambahan dan pengurangan. Dalam menjawab pertanyaan ini bisa dikatakan bahwa pada kejadian tak terbatas dimana masing-masingnya hadir secara bertahap pada waktu tertentu dan juga akan mengalami ketiadaan, dengan demikan asumsi penambahan dan pengurangan sama sekali tidak kontradiksi dengan sesuatu yang tak terbatas. Oleh karena itu, kritikan para teolog tersebut adalah tidak beralasan.
  2. Sementara sanggahan kedua para teolog – yang bersandar pada bahwa konsekuensi asumsi ke-qadim-an alam adalah setiap kejadian dan maujud bergantung pada kejadian tak terbatas – adalah juga tak berdasar, karena apabila dikatakan bahwa wujud (A) bergantung pada wujud (B), maknanya ialah walaupun kedua wujud itu secara aktual belumlah terwujud, namun hubungan mereka sedemikian sehingga kalau kita menginginkan eksistensi (A) maka terlebih dahulu kita mesti memiliki wujud (B), yakni wujud (A) ini akan terwujud pasca keberadaan (B).

Inilah makna kebergantungan hakiki. Akan tetapi adalah tidak benar bahwa setiap kejadian yang hadir hari ini bergantung pada kejadian-kejadian tak terbatas pada masa lalu, karena secara praktis kita melihat bahwa setiap kejadian-kejadian ini bergantung pada kejadian-kejadian yang terbatas dan berhingga, yakni apabila diinginkan besok turun hujan, maka mesti dibutuhkan awan (bukan berarti untuk turunnya hujan maka keseluruhan kejadian alam harus terulang).

Disamping hal ini, berdasarkan perspektif para teolog sendiri yang beranggpan bahwa “hukum kumpulan kejadian-kejadian itu adalah sama dengan hukum yang meliputi masing-masing kejadian”, ketika setiap kejadian membutuhkan faktor-faktor terbatas maka kumpulan kejadian-kejadian juga bergantung pada faktor-faktor terbatas, bukan faktor-fakor tak terbatas. Jika maksud dari para teolog adalah “kalau diasumsikan alam ini ialah qadim, maka mustahil setiap kejadian harus bergantung pada kejadian-kejadian tak terbatas pada masa lalu (dimana masing-masing kejadian itu hadir pada waktu tertentu)”, maka secara prinsipil perdebatan berkaitan dengan kemustahilan dan ketakmustahilan masalah tersebut.

Kami menyatakan bahwa alam adalah qadim, dengan demikian setiap kejadian bergantung pada kejadian tak berawal dan tak terbatas, dan para teolog berkeyakinan bahwa alam adalah hâdits dan bergantung pada kejadian yang terbatas.

Di sinilah inti perdebatan tersebut dan dasar masing-masing pandangan ini tidak bisa dijadikan mukadimah untuk membuktikan aspek kemustahilan pandangan yang lain, misalnya jika dikatakan: “Ke-qadim-an alam ialah mustahil, karena ke-qadim-an (yakni keberadaan kejadian tak terbatas pada masa lalu) adalah mustahil.” Menolak pandangan kami adalah tanpa dalil dan semata-mata konsekuensi perspektif kami dipandang salah oleh para teolog, sementara kami katakan: “Sebagaimana ketakmustahilan ke-qadim-an alam, keberadaan kejadian-kejadian tak terbatas pada masa lalu ialah juga tak mustahil.” Secara mendasar, ke-qadim-an dan keberadaan kejadian-kejadian tak terbatas pada masa lau ialah memiliki makna sama, oleh karena itu, perbedaan ungkapan-ungkapan yang ada tidak bisa dijadikan dalil pembatalan suatu gagasan.

Dengan memperhatikan analisa di atas, kita mesti meyakini (berdasarkan perspektif para filosof) bahwa Pencipta alam ialah Wâjibul Wujûd dan sama sekali Dia tidak memiliki perbedaan hubungan  dengan waktu dan keberadaan alam (yakni waktu maujud pertama kali diciptakan oleh-Nya). Namun hubungan maujud alam materi (dimana merupakan maujud yang terus berubah) dengan Wâjibul Wujûd adalah memiliki perbedaan. Maujud seperti akal pertama dimana secara langsung dicipta oleh Wâjibul Wujûd, hubungannya dengan-Nya adalah sama.

Akan tetapi, buah dari pohon tertentu pada masa akan datang, walaupun buah ini pada hakikatnya adalah juga dicipta oleh Tuhan, dikarenakan membutuhkan zaman dan kondisi tertentu, maka hubungannya dengan Wâjibul Wujûd adalah berbeda.[3]


[1] Q.S. Al-An’am (6): 76

[2] Yakni karena zat dan sifat Tuhan adalah qadim, dengan demikian eksistensi alampun (yang merupakan ciptaan Tuhan) adalah qadim. Di sini ke-qadim-an alam karena ke-qadim-an Tuhan.

[3] Ibnu Sina, Isyarat wa at-Tanbihat, jilid kedua, bagian kelima, hal. 26.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s