Manusia Menurut Akal dan Al-Quran

Oleh: Mohammad Adlany

Mengenal Diri = Mengenal Kesempurnaan

Setiap benda secara khusus memiliki kesempurnaannya sendiri. Untuk membedakan kesempurnaan setiap benda maka kita harus mengenal dan mengetahui hakikat benda tersebut. Demikian juga untuk mengetahui kesempurnaan manusia, harus pula dilakukan melalui pengenalan dan makrifat diri manusia secara utuh dan komprehensif. Seseorang bisa menyatakan dirinya mampu mengetahui setiap titik kulminasi dan kesempurnaan manusia dengan baik, ketika dia memiliki makrifat menyeluruh, benar, dan mendetail tentang hakikat manusia.

Mengenal manusia secara hakiki berarti mengenal kesempurnaannya secara hakiki pula. Selama manusia belum mengenal dirinya dengan benar berarti dalam menentukan kesempurnaan dirinya pun akan mengalami kesalahan, dan kadangkala dia akan menempatkan ketidaksempurnaan dan kekurangan pada posisi kesempurnaan dan kebahagiaan. Orang yang tidak mengenal dirinya, dia tidak akan mengetahui apa-apa tentang kesempurnaannya.

Manusia dikatakan tidak berhasil ketika dia menganggap segala kecenderungan alami dan keinginan syahwatnya sebagai puncak kesempurnaan, jika demikian maka dia tak lebih dari seekor binatang yang berbulu halus dan memakan “rumput-rumputan” yang berkualitas unggul. Mereka inilah yang tidak mengenal dirinya karena telah meletakkan kecenderungan materi sebagai tujuan hakiki jiwanya. Oleh karena itu, manusia yang lalai terhadap jiwanya, sama sekali tidak akan pernah menggapai kesempurnaan dan kebahagiaan.

 

Alienasi Manusia Modern

Manusia pada masa modern ini telah kehilangan jati dirinya. Dia telah meletakkan dirinya pada wilayah yang tak bisa tergapai dan hakikat dirinya tetap tersembunyi di balik tirai kejahilan dan kebodohan. Dikarenakan manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka dia melakukan kesalahan dalam menentukan kesempurnaan hakiki. Mereka hanya mengenal dirinya sebatas tubuh kasar dan menyangka bahwa seluruh kebahagiaannya terletak pada semakin banyaknya dia memperhatikan tubuh dan memenuhi keinginan-keinginan rendah tubuh.

Dengan alasan inilah, banyak yang mendefinisikan kebahagiaan dan kesempurnaan manusia sebagai, tidur yang baik, pola dan menu makanan yang baik, tempat piknik yang sesuai, rumah besar, mobil indah, dan pernik-pernik kehidupan materi lainnya, dimana untuk menggapai ide-idenya ini manusia tidak akan segan-segan untuk mencampakkan kasih sayang, toleransi, rasionalitas dan menggantikannya dengan kekerasan, dan tanpa mempertimbangkan baik atau buruknya segala perbuatan yang dilakukannya, dia telah membuat jurang yang terjal dan berbahaya bagi jasmani dan jiwanya sendiri, dan sesuatu yang mempunyai nilai penting baginya hanyalah realitas materi yang manfaat.

Sebagai misal, pada zaman perang Irak-Iran, terlihat orang-orang yang bukan warga negara Irak telah menjadi pilot yang disewa oleh Irak. Mereka membombarder kota-kota Iran dengan imbalan uang yang tak terkira banyaknya. Sekarang, jika orang semacam ini membuat istana, membeli mobil, dan vila dengan uang yang dihasilkannya, apakah dia bisa dikatakan sebagai manusia yang berbahagia dan telah sampai pada kesempurnaan? Apakah dia bisa dikatakan sebagai orang yang berhasil dan sukses?

Ya, bisa jadi orang yang tidak mengenal manusia dan kesempurnaannya, menganggap persoalan-persoalan tak berharga seperti ini sebagai sebuah kesempurnaan, dan dia sama sekali tidak akan bertanya kepada pemilik segala kemewahan ini tentang sumber dan asal seluruh harta dan kekayaan yang telah dia hasilkan.

Akan tetapi orang yang mengenal hakikat manusia dan kesempurnaannya, dia hanya akan menganggap harta benda dan materi sebagai sebuah kekayaan yang berharga dan bermanfaat ketika mengantarkannya kepada kemuliaan dan kebahagian hakiki dan sesuai dengan martabat suci manusia.

Perubahan dan Kesempurnaan

Insan berada pada lintasan yang terletak di antara dua kutub positif dan negatif. Menghadap ke satu arah artinya membelakangi arah lainnya. Mendekati salah satu kutub akan berarti menjauhi kutub yang lainnya. Dengan perkataan lain, semakin dia terikat dengan alam tabiat dan jasmani maka sejauh itu pulalah dia telah menjauhi alam spiritual dan Ilahi, persis dengan tolok ukur tersebut, mensucikan diri dari pengaruh alam materi, akan senantiasa diiringi dengan kebersihan ruh, pertumbuhan, dan kesempurnaan spiritual. Menjadi jelas bahwa berkumpulnya dua kutub positif dan negatif adalah mustahil, hal ini sama dengan kemustahilan berkumpulnya dunia dan akhirat secara bersamaan.

Dalam salah satu ayat-Nya, Allah swt berfirman, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”[1]

Sebelum ini kami telah mengatakan bahwa seiring dengan semakin jauh dari satu kutub akan diikuti dengan semakin dekatnya ke kutub yang berlawanan. Tentang masalah ini, saya teringat dengan cerita yang biasa dikatakan oleh sebagian ulama besar kepada murid-muridnya. Suatu hari aku kehilangan sebuah cincin, dan aku menghabiskan beberapa waktu untuk mencarinya. Persis pada saat aku tengah mengkonsentrasikan diriku untuk pekerjaan ini, tiba-tiba muncul pikiran dalam benakku, kenapa aku bisa sedemikian mencintai sesuatu sehingga waktuku terbuang sia-sia untuk itu, sedangkan hal ini tidak layak bagiku. Jadi, aku menghentikan pencarian cincin itu sejak saat itu juga. Lalu aku berwudhu dan menyibukkan diri dengan belajar di perpustakaan.

Hari itu aku merasakan adanya cahaya dalam diriku, aku mampu menyelesaikan sebuah tema ilmiah dengan sangat cepat dan pada waktu yang singkat aku telah mampu mempelajari dan menyelesaikan begitu banyak problem dan tema yang ada di dalam kitab dan jadilah aku mengetahui bahwa dengan meletakkan urusan dunia dan menggantikannya dengan memusatkan perhatian pada pelajaran, Tuhan telah memberikan taufik padaku, dimana dalam waktu yang demikian singkat aku telah berhasil mengambil manfaat terpenting dari sebuah ilmu.

Sebuah Catatan

Apabila mereka menganggap dunia sebagai satu-satunya tujuan maka akan menyebabkan terhijabnya diri dari Tuhan dan terkuburnya seluruh kesempurnaan spiritual manusia. Akan tetapi, apabila dunia ini dimanfaatkan dengan cara yang benar yakni diletakkan dalam garis perkembangan dan kesempurnaan hakiki manusia, bukan saja dunia ini tidak negatif bahkan bisa menjadi media pertumbuhan manusia ke arah tujuan penciptaannya yaitu Tuhan.

Para filosof Islam menyepakati bahwa manusa merupakan hasil ciptaan yang paling sempurna. Dia memiliki seluruh kesempurnaan dan seluruh tahapan eksistensial, yakni pada manusia ditemukan seluruh kesempurnaan dyang ada pada alam materi hingga alam non-materi, atau dengan ibarat lain, substansi manusia merupakan cermin dan gambaran eksistensi secara universal beserta seluruh tingkatan-tingkatannya. Manusia adalah alam minor atau sebagian menyebutnya sebagai alam mayor. Dia juga memiliki seluruh kesempurnaan alam natural, sebagaimana bisa dikatakan:

  1. Seluruh unsur yang merupakan pembentuk seluruh substansi makhluk ada di dalam badan manusia;
  2. Mekanisme alam natural dari yang bersifat empiris, terbagi, dan terkomposisi juga hadir di dalam tubuh manusia;
  3. Manusia memiliki seluruh kesempurnaan botani, yaitu apa yang terdapat di dalam mekanisme botani seperti kawin, berkembang biak, membentuk, tumbuh, mencerna, menarik, menolak, penyerapan, dan pencernaan nutrisi ada pada manusia dalam bentuk yang lebih sempurna dan mendetail.

Manusia juga memiliki kesempurnaan hewani, antara lain: 1. ruh bukhari[2], 2. ruh nafsani (psychic spirit), 3. ruh tabiat (natural soul), dan 4. ruh hewani (animal spirit).

Fakultas Insani

Secara umum manusia mempunyai dua fakultas, yaitu fakultas eksternal dan internal. Fakultas eksternal terbagi lima bagian: penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan peraba. Tentunya para psikolog kontemporer menambahkan indera keenam yang bertanggung jawab terhadap perbandingan ukuran. Fakultas internal manusia antara lain:

  1. Indera musytarak (common sense), indera ini bisa diibaratkan sebagaimana kolam kecil dimana sungai-sungai kecil mengalir ke arahnya dan seluruh air berkumpul di dalam kolam kecil tersebut, yaitu seluruh bentuk-bentuk yang ditransmisikan ke otak oleh panca indera di atas berkumpul di indera pusat ini;
  2. Fakultas khayal (representative faculty), fakultas ini merupakan penyimpan seluruh bentuk dan gudang seluruh gambaran. Salah satu keistimewaan dari indera khayal ini adalah hanya memahami bentuk-bentuk partikular saja;
  3. Fakultas estimasi (wahm, estimative faculty), yang mempersepsikan makna-makna partikular, seperti makna persahabatan, permusuhan, dan lain sebagainya;
  4. Fakultas penyimpan (faculty of memory), fakultas ini yang mengarsipkan dan merekam seluruh bentuk dan makna partikular dan setelah berlangsungnya waktu, fakultas ini mampu menghadirkan kembali bentuk-bentuk dan makna-makna tersebut;
  5. Fakultas imajinasi (mutakhayyilah, imagingal faculty), fakultas ini mampu mengkomposisikan atau memisahkan makna-makna dan bentuk-bentuk yang berbeda, dan dari pemisahan serta pengkomposisian makna dan bentuk tersebut akan memunculkan begitu banyak makna dan bentuk lain;
  6. Fakultas akal dan rasio (faculty intellectual), fakultas ini yang mempersepsikan makna-makna universal;
  7. Fakultas berpikir (mufakkirah, faculty of thought), dengan fakultas ini bentuk-bentuk rasionalitas menjadi realitas yang empirik dan memiliki kemampuan membentuk argumentasi dan burhan untuk persoalan-persoalan yang tak jelas.

Manusia Menurut Al-Quran

Al-Quran secara tegas mengisyaratkan terhadap dua dimensi manusia yaitu dimensi materi (Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah) dan dimensi non-materi (dan Aku tiupkan di dalamnya dari ruh-Ku), setelah itu untuk dimensi non-materi di dalam al-Quran diletakkan beberapa tingkatan dan derajat.

Tingkatan pertama, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”[3]. Ini tak lain adalah tingkatan fakultas murni yang dalam lembaran wujud manusia belum sampai pada tahapan aktual, dan tidak ada sesuatupun yang dia ketahui. Akan tetapi untuk manusia ini, telah diletakkan fakultas yang tiada akhir yang mampu bergerak ke arah tak terbatas sehingga menjadi khalifah Tuhan di atas muka bumi. Berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”[4] Dari dari hal ini, di antara seluruh ciptaan alam, Tuhan memberikan kemulian khusus dan kedudukan yang istimewa, berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam …”[5] Demikianlah al-Quran menganggap bahwa struktur wujud manusia merupakan struktur yang terbaik dari seluruh struktur ciptaan-Nya, dan Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.[6]

Tuhan senantiasa memberitahukan tentang kemuliaan dan ketinggian manusia atas seluruh makhluk, dan hendaklah manusia mengetahui bahwa terdapat nilai yang sangat berharga dalam dirinya, dimana dunia dan seluruh isinya tidak ada harganya sama sekali buatnya. Tuhan memberikan kerendahan derajad kepada orang-orang yang hanya menumpahkan perhatiannya kepada dunia ini, kepada Nabi-Nya Allah berfirman, “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi”[7].

Poin yang menarik di sini adalah bahwa sebenarnya dunia tidaklah kecil dan tak berharga, melainkan manusia telah sampai pada batasan kemuliaan kesuciannya sehingga menurut pandangan Tuhan, seluruhnya adalah untuk manusia dan tidak ada sesuatupun yang layak menduduki ketinggian nilai manusia dan menusia tak layak menjual dirinya kepada selain-Nya.

Mengenai hal ini Allah berfirman, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”[8]. Dalam al-Quran, jiwa manusia merupakan dimensi permanen dan abadi yang setelah hancurnya badan di dalam kubur masih tetap hidup dan akan melewati kehidupan barzakhnya, “Dan di hadapan mereka ada barzakh, sampai pada hari mereka dibangkitkan”[9], dan pada ayat lainnya berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”[10]. Dalam al-Quran difirmankan bahwa hari ketika seluruh manusia dibangkitkan, pada masing-masing mereka akan diperintahkan untuk membacakan lembaran jiwanya sendiri, Allah berfirman, “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”[11]. Tuhan juga meletakkan manusia sebagai sebuah hakikat yang abadi dan berfirman bahwa manusia setelah hari perhitungan akan menjalani kehidupan abadinya. Di dalam al-Quran terdapat ayat yang berbunyi, “Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran) mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”[12].

Demikian juga, mengenai orang-orang yang berbuat baik, Allah berfirman, “Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka”[13]. Al-Quran pun meletakkan tingkatan dan derajat untuk jiwa non-materi manusia, tingkatan pertamanya adalah jiwa ammarah yang terkadang jiwa berbuat baik dan buruk, kekuatan ini akan menjadi aktual dan bertindak untuk memenuhi keinginannya dan apapun yang diinginkannya dia akan berusaha untuk ke arahnya. Kadangkala manusia terjerumus ke dalam keinginan palsu dan senantiasa mengikuti apa yang menjadi keinginannya dan memalingkan diri hal-hal yang tak tersirat.

Oleh karena itu, al-Quran menukilkan perkataan Nabi Yusuf as yang mengatakan, “Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku”[14]. Apabila manusia menempatkan dirinya pada wilayah penyembahan Tuhan, maka perintah Tuhan akan meliputi dan menapasi realitas kehidupannya dan jiwa manusia akan tersinari dengan iman yang bergerak secara rasional dan dalam naungan Ilahi. Pada tahapan ini, jiwa manusia berada pada derajat jiwa lawwamah yang dengannya ia dapat melihat kejelekan dan keburukan dengan jelas, dan apabila manusia terjerumus dalam dosa pada tingkatan ini, maka dia akan sangat terhina dan tersiksa karena menentang hukum fitrahnya.

Al-Quran sedemikian memperhatikan tingkatan jiwa lawwamah ini sehingga bersumpah, “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”[15] yaitu bahwa jiwa lawwamah telah diletakkan di sisi hari kiamat dan terdapat dua sumpah di dalamnya. Tentunya terdapat kesesuaian yang sangat antara hari kiamat dengan jiwa lawwamah.

Salah satu karakteristik dari jiwa lawwamah adalah penentuannya terhadap baik dan buruk dimana Tuhan mengilhami nafsu ini supaya mengetahui tolok ukur dari keburukan, kebaikan, dan keindahan prilaku. Masalah ini merupakan hal paling rumit dalam persoalan filsafat akhlak khususnya di kalangan teolog dan pemikir barat.

Setelah tahapan ini, manusia kan sampai pada jiwa mutmainnah (tenang) yang merupakan paling tingginya kedudukan jiwa dimana para manusia sempurna berjalan ke arah ini. Berkaitan dengan jiwa suci dan mulia ini, dalam al-Quran Allah Swt berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”[16]. Mereka ini adalah orang-orang yang dalam seluruh kehidupannya, tidak melihat adanya sedikitpun kerugian. Apapun yang terjadi atau akan terjadi dan segala takdir yang telah tertulis seluruhnya berada di bawah pengaturan Sang Hakim yang tidak menginginkan sesuatupun selain kebaikan, mashlahat dan nikmat. Jiwa mutmainnah memahami dan mengetahui bahwa seluruh keteraturan dan mekanisme alam berada di bawah lingkup Tuhan dimana tidak ada sebutirpun yang akan berpindah dari tempatnya kecuali dengan iradah dan kehendak-Nya. Dari sinilah, sehingga para pesuluk senantiasa ridha dan bahagia dengan takdir-Nya.


[1] . Qs. Al-A’la: 16.

[2] . Materi lembut

[3] . Qs. An-Nahl: 78.

[4] . Qs. Al-Baqarah: 30.

[5] . Qs. Al-Israa: 70

[6] . Qs. At-Tiin: 4.

[7] . Qs. An-Najm: 29.

[8] . Qs. Al-Baqarah: 29.

[9] . Qs. Al-Mukminuun: 100.

[10] . Qs. Ali-Imran: 169.

[11] . Qs. Al-Israa: 14.

[12] . Qs. Al-Baqarah: 257.

[13] . Qs. Anbiyaa: 102.

[14] . Qs. Yusuf: 53.

[15] . Qs. Al-Qiyamah: 1-2.

[16] . Qs. Al-Fajr: 27-28.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s