Nilai Intelektual Filosofis dalam Kajian Metafisis

Oleh: Bandeh Khudo

Masalah ketuhanan Nahjul Balaghah terbagi dalam dua kategori: (1) dunia materi dengan segala sistem yang berlaku di dalamnya; dunia ini diteliti sebagai kaca yang mencerminkan ilmu dan kesempurnaan penciptanya, dan (2) pemikiran rasional dan perhitungan filosofis murni, dan mayoritas pembahasan Nahjul Balaghah mengenai ketuhanan masuk kategori yang kedua ini, seperti saat membahas sifat Kamâl dan Jalâl Tuhan yang hanya menggunakan metodologi rasional filosofis.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada perbedaan pendapat dan keraguan di sebagian orang ketika berbicara tentang nilai pembahasan dan penggunaan metode berpikir rasional filosofis. Sejak dahulu kala sampai sekarang, ada orang-orang yang melarang metodologi ini karena bertentangan dengan syariat atau akal, bahkan keduanya. Di zaman kita sekarang, ada kelompok yang beranggapan bahwa hati Islam berseberangan dengan analisa dan argumentasi seperti ini. Akibatnya muslimin dalam mengkaji permasalahan di atas terpengaruh oleh filsafat Yunani dan tidak lagi mengambil petunjuk atau ilham yang diberikan kitab suci mereka, Al-Qur’an. Padahal apabila ajaran-ajaran Al-Qur’an direnungkan secara teliti dan benar, niscaya mereka tidak akan mengalami pembahasan yang rumit dan berlika-liku. Maka dari itu, pada akhirnya mereka meragukan otensitas dan penisbatan kajian rasional ketuhanan Nahjul Balaghah kepada Amirul Mukminin as.

Pada abad kedua dan ketiga Hijriah, muncul kelompok yang menentang pemikiran rasional dengan menggunakan kaca mata syariat. Menurut mereka, muslimin seharusnya mengabdi (tunduk total) pada leterlek teks agama (Al-Qur’an) sebatas yang bisa dimengerti oleh masyarakat umum dan tidak seyogyanya mereka bertanya atau mendiskusikan makna tersebut karena itu adalah bid’ah. Kalau terkadang ada orang yang bertanya tentang ayat “arrohmanu alal arsyistawa”, mereka melengos dan mengerutkan wajah pertanda tidak senang dan mencekal pertanyaan seperti ini sambil berkata, “Al-kaifiyyah majhûlah was su’âl bid’ah”; bagaimana Dia bersila adalah hakikat yang tidak diketahui dan pertanyaan seputar itu adalah terlarang![1]

Abad ketiga Hijriah adalah abad kemenangan mereka yang kemudian dikenal dengan sebutan “kemenangan kaum Asy’ariah atas kelompok Mu’tazilah (yang mendukung rasionalitas pemikiran)”. Kemenangan ini merupakan pukulan telak terhadap kehidupan rasional Islam. Hal yang sama juga terjadi pada Syi’ah yang dilakukan oleh kelompok Akhbâriyûn pada abad kesepuluh sampai empat belas Hijriah, dan puncaknya, pada abad kesepuluh dan sebelas Hijriah mereka berhasil menang dalam melanjutkan jejak pemikiran kaum Asy’ariah.

Itulah tadi perlawanan terhadap metode rasional pemikiran perspektif syariat. Adapun perlawanan rasional terhadap hal ini bermula dari Eropa merupakan efek dari kemenangan metode eksperimen dalam penelitian fisika atas metode silogisme (qiyâs) di sana. Pola pikir ini kemudian bukan saja menggeser metode silogisme dalam fisika saja, tapi juga melucuti nilai ilmiahnya sampai pada kajian-kajian yang lain. Hanya filsafat material saja yang bisa dipercaya. Sebagai konsekwensi, semua masalah ketuhanan diragukan dan tidak diterima dengan alasan keluar dari eksperimen dan kesaksian indrawi.

Fenomena badai Asy’ariah di samudera Islam, ditambah lagi dengan kesuksesan metodologi sains dan eksperimen di bidang fisika yang terjadi secara beruturut-turut dan sangat menakjubkan, semua itu mengguncang kelompok muslim non Syi’ah dan menyebabkan munculnya pendapat kompilitif (talfîqi; campur sana dan sini) yang menentang metode rasional pemikiran tentang ketuhanan dan metafisika, baik menurut syariat maupun akal. Dari sisi syariat, menurut mereka Al-Qur’an hanya mempercayai metode sains dan eksperimen untuk mengenal Tuhan. Artinya, mengenal Dia melalui penelitian ciptaan-cipataan-Nya. Adapun lebih dari itu sama sekali tidak bernilai dan sia-sia. Ada puluhan ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk meneliti fenomena-fenomena alam dan mengatakannya sebagai password tempat; bermula dan kembali (mabda’ wa ma’ad). Sementara dari sisi rasional mereka mengutip ucapan para filsuf materialis Eropa dalam tulisan dan ceramah mereka.

Orang-orang yang mendukung berat pendapat di atas dan menghujat habis lawannya adalah Farid Wajdi dalam ‘Alâ Ithlâl al-madzhâb al-Mâddiah, Sayid Abul Hasan an-Nadawî al-Hindî dalam Mâdzâ Khasira al-‘Alam bi Inhithâth al-Muslimin, dan para penulis gerakan Ikhwanul Muslimin, seperti Sayid Qutub dan yang lain.

An-Nadawi mengatakan di dalam buku tersebut, pasal “Penyeberangan Muslimin Dari Masa Jahiliah ke Islam”,  bertemakan “Muhkamât dan Hal-hal yang Jelas Seputar Ketuhanan”, “Para nabi telah memberitakan pada umat manusia tentang Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya, awal mula alam semesta dan ujungnya. Mereka ungkapkan data-data ini secara gratis sehingga manusia tidak lagi memerlukan pembahasan tentang dasar-dasar dan pengantar yang sebetulnya tidak dimiliki oleh manusia (karena ilmu-ilmu dasar dan pengantar itu metafisik dan supranatural, sementara kawasan ilmu pengetahuan manusia terbatas pada fisika saja). Namun, umat manusia tidak mengindahkan anugerah ini melainkan mereka sibuk mencari dan membahas permasalahan metafisika dan ketuhanan yang pada hakikatnya tidak lain merupakan perjalanan di kawasan yang gelap gulita dan kebodohan.”[2]

Dia melanjutkan pada pasal berikutnya tentang kemunduran muslimin dan mengkritik ulama Islam dengan tema kurangnya perhatian terhadap ilmu-ilmu bermanfaat seraya berkomentar, “Perhatian yang diberikan ulama dan para cendekiawan muslim kepada ilmu-ilmu sains yang praktis tidak sama, bahkan jauh di bawah perhatian yang mereka berikan pada penelitian metafisika yang mereka pelajari dari Yunani, padahal metafisika dan filsafat ketuhanan Yunani tidak lain adalah keyakinan penyembah arca yang diberi warna-warni baru, dan merupakan sederet anggapan atau omong kosong yang tidak bermakna. Pada hakikatnya, Allah SWT telah memenuhi kebutuhan muslimin dengan ajaran-ajaran langit yang menyerupai penelitian dan analisa kimia sehingga mereka tidak lagi perlu pada pembahasan rasional metafisika. Akan tetapi, muslimin tidak mensyukuri nikmat Allah yang besar ini melainkan mereka habiskan energi dan kecerdasan mereka untuk filsafat dan pemikiran rasional yang pelik.”[3]

Tidak diragukan lagi bahwa pendapat orang seperti Farid Wajdi dan Nadawi ini terhitung reinkarnasi dan bangkitnya kembali aliran Asy’ariah dengan wajah yang modern karena sudah bergabung dengan filsafat materialis.

Sekarang, kita tidak bisa mendiskusikan nilai pemikiran rasional secara filosofis. Anda bisa mendapatkan penjelasan yang cukup detail di artikel yang berjudul “Nilai Pengetahuan” dan “Kelahiran Keberagaman Intelektual” dalam kitab “Dasar-dasar Filsafat Dan Metode Realisme”. Adapun sekarang kita cukupkan pembahasan menurut pandangan Al-Qur’an saja; apakah Al-Qur’an hanya mengakui metode penelitian sains dan eksperimen untuk masalah ketuhanan, sementara jalur-jarul lain terlarang ataukah tidak demikian?

Tapi sebelumnya perlu diingat satu hal bahwa perbedaan Asy’ariah dan non-Asy’ariah bukan pada harus dan tidaknya merujuk pada sumber Al-Qur’an dan sunah dalam masalah ketuhanan. Melainkan terletak pada bagaimana cara menggunakan sumber tersebut. Menurut Asy’ariah, kita harus mengabdi total atau tunduk sepenuhnya pada teks tanpa ada tanya dan pembahasan lagi. Itu artinya kita menyifati Allah dengan keesaan, ilmu, kuasa dan al-asmâ’ al-husnâ lainnya hanya karena disebutkan oleh syariat. Andaikan syariat tidak menyebutkannya, kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apakah Allah SWT bersifat demikian atau tidak? Karena pokok dan dasar-dasarnya tidak dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus menerima bahwa Allah SWT meyandang sifat-sifat itu, akan tetapi kita tidak akan bisa mengerti maksud Allah SWT memiliki sifat-sifat tersebut. Peran teks-teks agama di bidang ini adalah memberitahu kita bagaimana harus berpikir sesuai yang diinginkan agama dan bagaimana kita harus berkayakinan sebagaimana semestinya menurut agama.

Dalam hal ini ada kelompok lain yang menentang pandangan di atas dan berpendapat bahwa masalah-masalah tersebut bisa dimengerti sebagaimana layaknya argumentasi rasional lainnya. Dengan kata lain, dasar dan prinsip-prinsipnya bisa diraih oleh manusia sehingga kapan saja dia kuasai dan gunakan secara benar, maka dia akan memahaminya. Lalu bagaimana dengan teks agama tadi? Peran teks agama adalah menginspirasi akal dan menggerakkan pikiran manusia serta menyediakan dasar dan prinsip-prinsip yang diperlukan. Pada hakikatnya, menghamba (ta’abbud) dalam hal-hal intelektual tidaklah bermakna. Seorang yang berpikir dan memutuskan sesuatu menurut perintah terlebih dahulu seperti halnya orang yang menunggu perintah terlebih dulu hanya untuk berpendapat apakah pemandangan ini indah atau tidak. Di satu sisi, kita ditanya bagaimana Anda melihat barang ini? Besar atau kecil? Putih, hitam, atau biru? Indah atau jelek? Tapi harus menjawabnya sesuai dengan perintah dan murni mengabdi, itu sama dengan tidak berpikir dan menerima tanpa memikirkan terlebih dahulu.

Singkat kata, pusat pembicaraan ini bukan hendak menjawab apakah manusia mampu melangkah lebih jauh dari wahyu utusan Tuhan ataukah tidak? Na’ûdzu billâh! Jelas tidak mungkin manusia bisa melewati wahyu Tuhan. Apa yang telah disampaikan oleh keluarga Rasul melalui wahyu adalah puncak kenaikan dan kesempurnaan ajaran Tuhan. Jadi sebetulnya inti pembicaraan terpusat pada potensi akal pikiran manusia; apakah dia mampu menempuh perjalanan intelektual rasional di bidang metafisika dan ketuhanan dengan melewati dasar dan prinsip-prinsipnya ataukah tidak?[4]

Dan sejak awal tidak diragukan bahwa Al-Qur’an mengajak manusia untuk meneliti alam materi dan menjadikannya sebagai pengantar pengenalan Tuhan dan alam metafisik, menganjurkan manusia agar memperhatikan fenomena-fenomena alam dan penciptaan sebagai bukti-bukti pengenalan Tuhan. Semua itu merupakan salah satu asas utama ajaran Al-Qur’an yang mendapatkan penekanan luar biasa; memerintahkan manusia untuk melakukan penelitian pada bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia itu sendiri. Begitu pula tidak diragukan bahwa muslimin tidak menapaki jalur ini sebagaimana lazimnya, dan mungkin penyebab utama lambatnya perkembangan muslimin di bidang ini adalah filsafat Yunani yang murni menggunakan silogisme rasional dalam masalah-masalah fisika sekalipun. Namun demikian, sejarah ilmu pengetahuan melaporkan bahwa para cendekiawan muslim tidak mengenyampingkan metode eksperimen secara keseluruhan sebagaimana orang-orang Yunani, melainkan merekalah (ilmuan muslim) yang menemukan metode eksperimen untuk pertama kalinya, sementara Eropa pada hakikatnya, tidak seperti yang populer sekarang, bukanlah penemu awal metode sains. Akan tetapi, mereka mengikuti jejak muslimin.

 

Nilai Penelitian Perspektif Hadis dan Al-Qur’an

Satu hal lagi yang perlu direnungkan adalah apakah perhatian serius yang diberikan oleh Al-Qur’an terhadap penelitian makhluk langit dan bumi berarti menutup semua pintu dan jalur yang lain? Atau bahkan sebagaimana Al-Qur’an mengajak manusia untuk meneliti hal-hal itu sebagai tanda-tanda Allah SWT, ia juga mengajak manusia pada cara yang lain, yaitu pemikiran? Lebih mendasar lagi, pertanyaannya adalah seberapa besar nilai penelitian makhluk Tuhan dari sisi kontribusi yang diberikan pada ajaran-ajaran yang dikehendaki Al-Qur’an dalam kitab langit yang suci ini?

Sesungguhnya nilai kontribusi yang diberikan oleh penelitian fenomena alam penciptaan ini terhadap masalah yang secara terang-terangan dibawakan oleh Al-Qur’an adalah sedikit, karena Al-Qur’an menyampaikan permasalahan-permasalahan seputar ketuhanan yang sama sekali tidak bisa diraih dengan penelitian fenomena-fenomena alam materi.

Nilai penelitian sains dan fisika tidak lebih dari hanya membuktikan adanya kekuatan bijak dan alim yang mengatur alam semesta ini. Apa yang mampu dicerminkan oleh alam natural hanya sebatas membuktikan adanya alam metafisika dan Tangan Kuasa Yang Maha Mengetahui yang mengatur segala-galanya.

Tapi, perlu diketahui bahwa Al-Qur’an tidak puas hanya dengan pengetahuan akan adanya kekuatan bijak dan alim yang mengatur alam semesta. Hal itu bisa saja dinisbatkan pada kitab-kitab langit lainnya, namun tidak bisa dinisbatkan pada Al-Qur’an yang merupakan pesan langit terakhir yang berulang kali menyampaikan hal-hal seputar ketuhanan dan metafisika.

 

Intelektual Murni Rasional

Awal permasalahan utama yang tidak mampu dijawab sendiri oleh penelitian eksperimental pada alam materi adalah keharus-adaan Tuhan dan ketidakterciptaan Tangan Kuasa metafisik tersebut. Cermin natural hanya mampu membuktikan keberadaan Tangan kuasa yang mengatur jagat raya, tapi tidak bisa menjelaskan bagaimanakah Tangan kuasa dan bijak itu? Apakah Dia sendiri didominasi dan diatur oleh kekuatan yang lain ataukah dia berdiri sendiri. Dan apabila dia terdominasi oleh kekuatan lain, bagaimana dengan kekuatan lain tersebut? Tujuan dan terget Al-Qur’an bukan sebatas kita mengetahui keberadaan Tangan kuasa dan bijak yang mengatur alam jagat, melainkan kita harus tahu bahwa pengatur yang sebenarnya adalah Allah SWT. Allah SWT adalah wujud yang laisa kamitslihi syai’un (tak satu pun yang menyerupai-Nya) dan Dzat yang memiliki segala kesempurnaan. Dengan kata lain, Dia adalah kesempurnaan mutlak. Dengan meminjam ibarat Al-Qur’an, lahul matsalul a’lâ. Bagaimana mungkin penelitian natural dapat menjelaskan masalah-masalah seperti ini?

Masalah berikutnya adalah keesaan Tuhan yang disampaikan oleh Al-Qur’an dalam bentuk argumentasi seperti yang disebut oleh ilmu logika dengan silogisme ististnâ’î, demonstratif atau burhân yang disampaikan oleh Al-Qur’an seperti yang dikenal oleh filsafat Islam dengan sebutan burhân tamânu’ (demonstrasi saling mencegah). Terkadang melalui saling tercegahnya sebab-sebab pelaku, seperti dalam ayat “qul lau kâna fîhimâ âlihatun illallôh lafasadatâ”[5], terkadang lewat jalur saling tercegahnya sebab-sebab tujuan, seperti dalam ayat “mat-takhodzallôhu min waladin(w) wa mâ kâna ma’ahu min ilâhin idzal-ladzahaba kullu ilâhin bimâ kholaq wa la’alâ ba’dluhum ‘alâ ba’dh”[6].[7]

Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mengetahui keesaan Tuhan melalui penelitian pada sistem penciptaan alam natural sebagaimana dia menganjurkannya untuk mengetahui keberadaan Tuhan Pencpita alam. Pada hakikatnya, anjuran seperti itu sama sekali tidak mungkin dan tidak dibenarkan.

Contoh permasalahan yang diutarakan Al-Qur’an adalah sebagai berikut: laisa kamitslihî syai’un wa lil-lâhil matsalul a’lâ, lahul asmâ’ul husnâ wal amtsâlul ulyal malikul quddûsul ‘azîzul mu’minul muhaiminul azîzul jabbârul mutakabbir, aynamâ tuwallû fa tsamma wajul-lôh, huwal-lôhu fis samâwâti wa fil ardh, huwal awwalu wal âkhiru wazh zhôhiru wal bâthin, alhayyul qoyyûm, allôhush shomad, lam yalid wa lam yûlad wa lam yakun lahû kufuwan ahad.

Untuk apa Al-Qur’an menyampaikan masalah-masalah ini? Apakah dia ingin mengutarakan hal-hal yang tidak mungkin untuk dimengerti seperti yang dikatakan oleh an-Nadawi bahwa dasar dan prinsipnya tidak dimiliki oleh manusia dan Al-Qur’an hanya meminta manusia untuk menerimanya sesuai perintah dan mengabdi tanpa perlu mengerti, atau sungguh-sungguh Al-Qur’an ingin manusia mengenal Allah SWT dengan sifat-sifat ini? Kalau memang Al-Qur’an menghendaki manusia untuk mengenali Tuhannya dengan sifat-sifat ini, maka lewat jalur apakah dia harus mengenal-Nya? Bagaimana mungkin manusia bisa mengerti ajaran-ajaran seperti ini melalui penelitian alam natural, karena penelitian eksperimental alam materi hanya mampu menjelaskan kepada kita adanya Tuhan yang Maha Tahu dalam artian Dia menciptakan sesuatu atas dasar pengetahuan? Akan tetapi, Al-Qur’an menginginkan lebih dari itu, yaitu innahû bikulli syai’in ‘alîm, la ya’zubu ‘an ‘ilmihi mitsqôlu dzarroh, qul lau kânal bahru midadal likalimâti robbih.

Yang diinginkan Al-Qur’an adalah mengetahui bahwa ilmu Allah SWT dan kekuasaannya tidak terbatas. Bagaimana mungkin seseorang bisa memahami ketidakterbatasan ilmu dan kekuasaan Allah SWT lewat jalur penelitian eksperimental terhadap alam natural?

Ada juga masalah lain yang dibicarakan Al-Qur’an seperti buku-buku tinggi: lauh mahfûzh (papan terjaga), lauh mahw wa itsbât (papan penghapusan dan penetapan), determinasi dan hak pilih, wahyu, iluminasi dan lain sebagainya. Tidak satu pun dari masalah ini bisa diraih dan dimengerti melalui jalur penelitian alam natural.

Sudah pasti Al-Qur’an menyampaikan pembahasan ini sebagai paket serial pelajaran. Di sisi lain, Al-Qur’an juga menganjurkan kita agar merenungkan masalah yang disampaikan; afalâ yatadabbarûnal Qur’an am ‘alâ qulubin aqfâluhâ, kitâbun anzalnahû ilaika mubârokun(l) liyaddabbarû âyâtih. Oleh karena itu, pasti ada jalan yang diresmikan Al-Qur’an untuk sampai pada hakikat-hakikat tersebut di atas, dan Al-Qur’an sama sekali tidak menyampaikan hal-hal yang tidak mungkin dimengerti.

Ruang lingkup permaslahan yang disampaikan Al-Qur’an seputar metafisika jauh lebih luas dari apa yang bisa dibuktikan oleh penelitian alam natural. Maka dari itu, pada akhirnya muslimin terpaksa harus memilih jalur lain untuk memahaminya; ada yang melalui suluk dan perjalanan spiritual dan ada juga yang memilih pemikiran rasional.

Saya tidak mengerti! Apa yang bisa dikatakan oleh mereka yang beranggapan bahwa Al-Qur’an hanya membuka pintu penelitian alam natural dalam masalah ketuhanan, berkisar tentang beragam masalah yang disampaikan Al-Qur’an yang merupakan salah satu keistimewaan Al-Qur’an dibanding dengan kitab-kitab suci langit lainnya?

Motivator dan inspirator Amirul Mukminin as untuk mengutarakan pembahasan seperti ini adalah penafsiran Al-Qur’an itu sendiri. Jika tidak ada Ali as, maka mungkin untuk selamanya ajaran-ajaran rasional Al-Qur’an ini tinggal tanpa tafsir dan penjelasan yang benar. Mengingat sedikit banyak nilai pembahasan ini sudah terbukti, maka pada artikel berikutnya kita akan membawakan beberapa contoh dari Nahjul Balâghah tentang masalah ketuhanan dan metafisika.


[1] Silakan Anda rujuk pengantar jilid kelima buku “Dasar-dasar Filsafat dan Metode Realisme”.

[2] Mâdzâ Khasira al-‘Alam bi Inhithâth al-Muslimin, cetakan keempat, hal. 97.

[3] Ibid, hal. 135.

[4] Silakan Anda rujuk pengantar jilid kelima dari buku “Dasar-Dasar Filsafat dan Metode Realisme”.

[5] QS. al-Anbiya’ : 22.

[6] QS. Al-Mukminun : 91.

[7] Silakan Anda rujuk jilid kelima buku “Dasar-Dasar Filsafat Dan Metode Eealisme”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s