Ketidakterbatasan Potensi Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, yang dimaksud dengan kesempurnaan dalam wujud adalah dicapainya maksud dan tujuan yang sebelumnya tidak dimiliki, atau diperolehnya sesuatu setelah ketiadaan sesuatu itu. Dari sini terdapat kemungkinan bahwa penciptaan eksistensi mempunyai tingkatan dan gradasi, dimana suatu tingkatan merupakan tingkatan yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari tingkatan yang lain, dan pada derajat-derajat yang lemah senantiasa terdapat potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi, dan setelah melakukan gerak, sesuatu yang lemah itu akan menjadi sempurna.

Misalnya, di alam natural terdapat potensi sumber alam yang beragam, di alam natural dan tabiat ini juga terdapat tumbuhan dan tumbuhan ini kemudian menjadi makanan bagi hewan, lantas makanan ini berubah menjadi darah, lalu darah berubah bentuk menjadi sperma dan dari sperma akan terbentuk hewan lain dari generasi baru.

Demikian juga, hewan inipun (misalnya kambing) akan menjadi makanan untuk manusia dimana dari makanan tersebut kemudian terbentuk nutfah yang selanjutnya akan menghasilkan manusia baru, dan pada manusia baru ini yang karena terjadi pertumbuhan dan perkembangan, secara lambat laun akan mulai belajar dan menjadi orang yang berpendidikan tinggi, lalu perlahan-lahan akal, pikiran, dan rasionalitasnya akan mengaktual dan akhirnya akan menjadi sebuah realitas wujud yang bersifat spiritualitas atau ruhani dan kemudian berjalan dari alam tabiat menuju ke alam metafisika dan alam malakuti. Atau karena pengaruh pensucian diri, akhlak yang mulia, dan ibadah yang ikhlas, dia akan hidup dan berbentuk menjadi jiwa malakuti dan Ilahi, dan setelah di alam materi ini dia akan ditempatkan pada kedudukan yang paling tinggi kemudian dibangkitkan dan dikumpulkan bersama para Nabi dan Rasul, para kekasih Tuhan, orang shaleh, dan para malaikat muqarrabin.

Dengan demikian, kita telah memahami bahwa kesempurnaan akan mungkin terwujud dan tercapai ketika:

  1. Eksistensi mempunyai keragaman derajat dan tingkatan, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi;
  2. Setiap derajat dan tingkatan yang rendah, senantiasa memiliki potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi;
  3. Derajat dan tingkatan yang rendah ini, akan bisa sampai ke puncak tujuan dengan gerak dan usahanya sendiri. Akan tetapi berdasarkan pendapat kaum materialis dan liberalis modern yang tidak menerima realitas sesuatu kecuali materi, mengatakan bahwa kesempurnaan sama sekali tak bermakna dan tidak mungkin ada.

Dari pendahuluan di atas, akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa setiap aliran pendidikan yang berpikir terhadap pembinaan dan pertumbuhan manusia dan berpikir untuk membimbing generasi manusia, selama mereka belum memiliki pengenalan yang mendetail dan hakiki tentang dimensi-dimensi wujud manusia, apapun yang mereka desain dan rencanakan untuk pembinaan manusia merupakan hal yang jauh dari harapan dan tidak akan mampu melakukan penghidmatan hakiki kepada masyarakat sedikitpun, dan apabila mereka tidak bisa mengalihkan masyarakat dari kesesatan dan menghindarkan mereka dari segala penyimpangan, maka aliran-aliran pendidikan dan pembinaan ini tidak akan pernah bisa memberikan hidayah dan bimbingan.

Seluruh ikhtilaf pendapat yang terdapat pada konsep etika-etika barat dan non-barat bersumber pada ketiadaan pengenalan manusia dalam dimensi-dimensi hakikinya. Apabila mereka telah mengingkari baik dan buruknya perbuatan, berarti mereka telah menganggap etika dan akhlak sebagai sesuatu yang nisbi dan relatif, mereka tidak menganggap pentingnya ilmu dan pembinaan etika untuk manusia, mereka menganggap pembinaan etika dan akhlak hanyalah akan membatasi kebebasan dan ruang gerak manusia saja, atau mereka menganggap prinsip dan asas persoalan etika bersumber pada instink dan masalah-masalah seksual, yang hal ini muncul dari ketiadaan pengenalan yang mendetail dan hakiki atas diri manusia dan ketiadaan pemahaman terhadap kelayakan kehidupan duniawi dan ukhrawi manusia.[1]

Etika dan Kemuliaan Era Kontemporer

Pada masa kontemporer, generasi manusia telah terjerumus ke dalam kehidupan hedonisme, egoisme, fanatisme, konsumerisme dan sikap angkuh dan sombong. Mereka sama sekali tidak meyakini adanya nilai kebahagiaan dan kehidupan hakiki serta tidak sepakat adanya tindakan yang harus dilakukan untuk membatasi pemuasan syahwat dan kesenangan pribadi.

Ilmu, etika, akhlak, dan program pembinaan serta seluruh perencanaan pendidikan lainnya mesti berdasarkan pada tolok ukur materi. Apabila gerakan dan program semacam ini dimunculkan dan diwujudkan dalam kehidupan manusia dan memaksa manusia untuk mengikuti prilaku masyarakat liberal atau mengubah seluruh aturan-aturan suci Ilahi menjadi aturan-aturan berskala materi dan berorientasi pada pemuasan dimensi jasmani manusia, atau mengubah setiap proposisi dan nilai-nilai yang pasti menjadi nilai-nilai yang relatif, maka hal ini akan mengakibatkan hadirnya kebiadaban dan kebebasan mutlak yang akan berkonsekuensi negatif pada generasi manusia selanjutnya dimana akan menjadi sebuah generasi malang yang hanya akan menjadi alat pemuas hawa nafsu, egoisme, dan kejahilan. Fenomena semacam ini bisa disebut dengan jahiliyah modern yang teramat mengerikan.

Hal ini terjadi terutama ketika tujuan-tujuan rendah ini telah terwujud dan terimplementasikan, karena modernisasi politik yang ada saat ini tidak bisa dibandingkan dengan era sebelumnya. Saat ini, seluruh kekuatan fisik, perekonomian, dan pengetahuan telah dikorbankan sebagai alat untuk mencapai keinginan-keinginan rendah pribadi dan egoisme, dan mereka telah meletakkan seluruh fasilitas yang memungkinkan hanya untuk satu tujuan yakni meraih kekuasaan dan kejayaan materi.

Namun keadaan akan menjadi lain apabila rahmat Tuhan tercurah pada generasi manusia yang malang ini dan kekuatan agung-Nya menghalangi langkah mereka lalu menghadirkan generasi baru yang akan bangkit dan melawan segala bentuk kezaliman dan jahiliyah dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang dianugrahkan Tuhan pada mereka.

Pada zaman ini, ilmu teronggok dalam kesuciannya sendiri, tidak memberi kemuliaan dan keutamaan pada manusia dan tidak pula menjadi sesuatu yang bisa dipercaya untuk mempertahankan hak asasi manusia, melainkan seluruhnya telah menjadi kacung para agresor, setiap pandangan dan pikiran kita dan setiap kebaikan dan perbaikan yang kita usahakan hanya akan menjadi bahan celaan dan ejekan dari kaum tak bermoral ini.

Lembah yang mengerikan dan menakutkan ini merupakan sebuah lintasan yang sebelumnya tidak pernah dilalui oleh manusia manapun dan hingga kini manusia pun belum pernah tertimpa musibah dengan tingkat kejahilan yang sedemikian mengerikan. Bisa jadi, ketika kelak manusia telah duduk pada masa kejayaan dan telah menemukan peradaban, rasionalitas, etika, dan kemuliaan, mereka akan menggambarkan kurun keduapuluh dan keduapuluh satu ini sebagai titik puncak kezaliman dan kejahilan manusia.

Manusia tidak Berpengetahuan Saat Lahir

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”[2]. Mungkin bisa dikatakan bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, tidak berilmu dan tidak berpengetahuan, tidak berdaya dan tidak mampu.

Pada saat kelahirannya ini, bahkan dia tidak mempunyai kekuasaan terhadap inderanya sendiri misalnya terhadap matanya sendiri, sedangkan seluruh gerakan yang terjadi pada tubuhnya tidak lain merupakan kumpulan refleksi dan aktivitas tak sadar yang dilakukan oleh otot-otot tubuh (yakni tidak bersumber dari iradah dan kehendaknya sendiri), dimana Tuhan dengan perantaraan aksi dan reaksi tak sadar ini memberikan peregangan-peregangan alami supaya kelenjar dan otot-otot tubuhnya mengalami elastisitas dan selanjutnya secara bertahap mampu menggerakkan mata, kaki, tangan, dan indera lainnya yang berdasarkan kewenangan dan ikhtiarnya sendiri.

Kebalikan dengan yang terjadi pada awal kelahiran makhluk-makhluk hidup lainnya yang semuanya telah dilengkapi dengan seluruh perangkat pertahanan dan perangkat hidup yang telah disesuaikan dengan tempat dan kondisinya, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk terjun langsung dalam kancah kehidupan dunia ini.

Mereka mampu mengenali kelompok dan golongan mereka serta mampu menentukan pihak musuhnya dengan tepat. Mereka juga mampu menentukan makanan, menghindarkan diri dari kekerasan, memisahkan kebaikan dan keburukan dari lingkaran kehidupannya, dan semua ini telah mereka miliki persis sejak saat kelahirannya dan untuk memperoleh hal-hal itu mereka sama sekali tidak membutuhkan proses belajar mengajar sebagaimana manusia.

Perbedaan ini terjadi karena seluruh makhluk hidup yang ada di alam ini – kecuali manusia – telah mampu mencukupkan dirinya dengan informasi dan pengetahuan yang ada (yakni pengetahuan alami atau instink), dan pengetahuan mereka tidak mengalami pertambahan kecuali sangat sedikit.

Meskipun tidak disangkal tentang adanya beberapa jenis hewan yang memiliki kemampuan belajar dan mengikuti proses pembelajaran dan pelatihan dalam batasan yang tertentu, seperti kuda, kera, anjing, dan sebagian jenis burung dan bahkan pada berbagai pertunjukan terlihat juga beberapa jenis hewan ganas yang mampu melakukan aktivitas belajar ini, akan tetapi hal ini merupakan perosalan yang sangat jarang terjadi dan membutuhkan jerih payah yang sangat besar yang kadangkala diiringi pula dengan bahaya yang tidak sedikit, akan tetapi tidak demikian halnya dengan makhluk bernama manusia, karena manusia mempunyai kapasitas, potensi, dan kemampuan yang tidak terbatas dalam proses belajar mengajar.

Ketidakterbatasan Potensi dan Kemampuan  Manusia

Dimensi-dimensi yang membedakan antara manusia dan seluruh makhluk hidup lain adalah potensi, kapasitas, dan kemampuan belajar dan menuntut ilmu yang tidak terbatas. Namun kemampuan ini berada dalam dua arah positif dan negatif.

Al-Quran berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”[3]

Terdapat dua arah dan kecenderungan pada diri manusia, yaitu kecenderungan menaik dan kecenderungan menurun. Pada satu sisi manusia merupakan sebaik-baiknya wujud makhluk, akan tetapi pada sisi yang lain merupakan mengarah pada asfalus-safilin, yaitu pada derajat wujud yang terendah, dan manusia terletak di antara dua kutub tertinggi dan terendah ini.

Manusia mempunyai potensi dan kemampuan gerak menyempurna sedemikian sehingga mampu mencapai kedudukan tertinggi di alam eksistensi (yaitu kedudukan malakuti dan Ilahi), akan tetapi dia juga memiliki potensi untuk jatuh terjerumus pada posisi terendah yang bahkan lebih rendah dari kedudukan yang dimiliki oleh binatang dan setan. Yang kelak akan menjadi bagian manusia dari dua titik ini hanya bergantung dari proses pembelajaran yang dilaluinya di dunia ini, dimana menjelang nafas terakhir seluruh potensi-potensi ini akan terhenti dan tidak lagi memiliki persiapan dan kelayakan untuk menerima kesempurnaan apapun, keadaan ini sebagaimana sebuah angka yang konstan dan secara tetap berada pada tingkatan wujudnya yang tertentu.

Pada salah satu hadits dikatakan, “Hari ini kamu memiliki potensi dan kemampuan untuk melakukan gerak dan memproses diri untuk menambah kesempurnaan diri kalian sendiri, akan tetapi setelah nafas yang terakhir dan penghabisan, kamu hanya akan disibukkan dan diperhadapkan dengan berbagai perhitungan terhadap apa-apa yang kamu kerjakan dan hasilkan dalam kehidupan di dunia.”[4]

Manusia merupakan satu-satunya eksistensi yang dalam proses perjalanan penciptaan, telah tercipta dengan memiliki potensi, kemampuan, dan kapabilitas. Hanya manusialah yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh, berkembang, dan mengubah tingkatan wujudnya dalam kehidupannya, bahkan para malaikat muqarrabin pun diciptakan dengan keadaan mereka yang permanen dan tidak akan pernah berubah dari apa yang telah ada.

Hanya manusialah yang akan mampu bergerak dan berproses ke satu arah positif dengan adanya proses belajar dan mengajar.

Fitrah Manusia Ada Sejak Lahir

Manusia pada tahapan awal kelahirannya memiliki potensi-potensi khusus yang akan segera dan cepat mengaktual tanpa melewati proses belajar mengajar ataupun bimbingan, dan potensi-potensi khusus ini akan mekar di dalam diri manusia yang kemudian akan berfungsi dan bertujuan untuk menyiapkan lahan dalam melakukan proses pembelajaran dan pendidikan. Potensi-potensi yang telah mengaktual ini dinamakan fitrah manusia.

Dalam waktu yang sangat singkat manusia akan memahami persoalan-persoalan logis semacam kemustahilan hukum kontradiksi, hukum-hukum sebab-akibat (kausalitas), dan aksioma-aksioma lainnya.

Demikian juga, dalam waktu yang tidak berapa lama, dengan sendirinya dia akan menemukan dan mengetahui berbagai persoalan etika dan akhlak beserta prinsip-prinsipnya, seperti masalah-masalah keburukan kezaliman, kebaikan keadilan, tercelanya kebohongan, pahitnya kekerasan, keindahan alam, dan persoalan lain yang bersifat fitrawi.

Demikian juga, setelah beberapa waktu lamanya dia akan mampu menyusun argumentasi-argumentasi sederhana, terutama premis awal argumentasi, dan kadangkala pula dia akan mengutarakan premis-premis mayor untuk merasionalisasikan perbuatan-perbuatannya.

Poin Penting

Pengetahuan atas hukum-hukum sebab-akibat (kausalitas) dan kemustahilan kaidah kontradiksi, untuk tingkatan anak-anak tidak bermakna sebagai sebuah istilah filsafat atau pelajaran logika sebagaimana yang dipelajari secara khsusu, melainkan bermakna sebuah bentuk pengetahuan yang hadir dari fitrah sucinya dimana disebut sebagai pengetahuan terhadap hukum sebab-akibat dan kemustahilan kontradiksi.

Sebagai contoh, suara yang sangat pelan akan menarik perhatian anak ke arah sumber suara, dan apabila hadir suara menggelegar yang sampai ke telinganya, dia akan menjadi takut lalu menangis. Dia akan merasakan bentuk pandangan ibunya yang lagi marah dan akan sedih dengan ketiadaan perhatian kedua orang tuanya, sementara itu pandangan yang penuh kasih sayang akan dia anggap sebagai perhatian mereka padanya, sehingga mengarahkannya untuk mendekat dan melekat dalam pelukan mereka.

Ketika lapar, dengan keadaan yang khas tanpa adanya kemampuan berbicara dia akan mencari air susu dan makanan dari ibu, begitu juga ketika jauh darinya, dia akan merasa sendirian lalu dia akan mengungkapkan kesedihannya. Pada persoalan-persoalan semacam ini dia akan mengambil kesimpulan dari premis-premis tertentu dan mengetahui dengan baik arah, dasar, dan konsekuensi dari premis tersebut.

Ketika si anak ini menyaksikan botol susu di hadapannya ia kemudian akan memintanya dari ibu, akan tetapi ketika sang ibu menolak untuk memberi dan mengatakan bahwa ini bukan botol susu, maka si anak ini dengan menyaksikan adanya kontradiksi akan menjadi sangat kecewa dan dia akan mengungkapkan kekecewaannya tersebut dalam bentuk suatu tangisan.

Salah satu dari tanda-tanda Ilahi yang paling besar dan mulia tidak lain adalah fitrah agung manusia yang menakjubkan ini. Manusia mempunyai potensi tidak terbatas yang telah terwujud sejak awal kehidupannya dimana realitas ini dengan sendirinya merupakan media bagi proses pembelajaran, pembinaan, pendidikan, dan media argumentasi. Sementara untuk melakukan transfer makna-makna mesti dipersiapkan oleh guru bagi muridnya.

Apabila pada diri para murid tidak tersedia potensi dan kemampuan untuk mengambil kesimpulan dan silogisme dari premis-premis argumentasi, maka mustahil akan terjadi proses belajar dan mengajar serta pendidikan. Yang dilakukan oleh guru hanyalah membentuk, menyusun, dan melahirkan premis-premis, akan tetapi penyimpulan dan silogisme berada di tangan para murid.

Apabila guru menghadirkan dan mewujudkan dua premis serta berkata kepada para muridnya bahwa “alam mengalami perubahan”, dan “setiap perubahan adalah bersifat temporer”, di sini apabila murid tidak mampu mengambil kesimpulan dan silogisme bahwa “alam adalah bersifat temporer”, maka tujuan dari metodologi dan proses belajar mengajar dan pendidikan sama sekali tidak akan tercapai.

Tentunya, apabila dua premis yang subyektif (makna-makna premis masih dalam sebuah perdebatan atau tidak bersifat aksioma) dalam argumentasi-argumentasi yang saling berkaitan satu dengan lainnya, maka dalam hal ini kesimpulan yang dihasilkan akan keluar dari kewenangan seseorang, baik argumentasi tersebut sesuai dengan keinginan rivalnya ataupun bertentangan dengannya. Potensi dan kemampuan yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada para hamba-Nya ini adalah dimaksudkan supaya mereka mempunyai persiapan untuk proses menyempurna dan dengan perantara potensi-potensi ini mereka akan sampai pada titik kulminasi dan terselamatkan dari alam materi ini lalu melesak dan menanjak ke alam malakuti dan Ilahi.


[1] . Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai persoalan ini, rujuklah: Usul Falsafah wa Rawas-e Riyalism, pada pembahasan Ta’lim wa tarbiyat; Syahid Muthahhari, Insan Kamil.

[2] . Qs. An-Nahl: 78.

[3] . Qs. At-Tiin: 4-5.

[4] . Ghurar wa Durar, Imam Ali as, hal 120.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s