Identitas Filsafat Islam

Oleh: Mohammad Adlany

Mukadimah

Persoalan-persoalan yang relevan dalam tema ini adalah apakah ada filsafat Islam? Apakah Islam memiliki filsafat? Apakah ada probabilitas filsafat Islam? Apa hakikat dan identitas filsafat Islam? Terdapat dua perspektif makro yang berkaitan dengan hakikat, keberadaan, dan identitas filsafat Islam. Sebagian mengakui eksistensi filsafat Islam dan sebagian lainnya menafikan keberadaannya.

Problematika yang berkaitan dengan identitas dan esensi filsafat Islam adalah kemungkinan bersatunya kaidah filsafat dengan ajaran Islam serta peran dan fungsi ajaran Islam dalam menilai pemikiran filsafat. Sebagian memandang adanya kemungkinan filsafat Islam dengan membaginya ke dalam filsafat khusus Islam dan filsafat umum Islam. Filsafat khusus Islam berasal dari teks-teks suci agama Islam dan filsafat umum Islam merupakan rangkuman dari pemikiran dan pandangan para filosof muslim. Filsafat khusus Islam secara otomatik memiliki sifat keislaman karena bersumber langsung dari teks-teks suci Islam. Namun, karena disebabkan oleh faktor penafsiran manusia terhadap teks-teks agama maka kemurniannya sangat bersifat relatif. Kemurnian itu hanya terdapat dalam pemikiran para rasul dan orang yang dijamin oleh Tuhan tentang keotentikan pemikiran keislamannya.

Menurut mereka, substansi dan identitas filsafat khusus Islam tidak lain adalah teks-teks agama yakni al-Quran dan hadis Nabi yang memiliki derajat keyakinan yang sangat tinggil seperti hadis mutawatir dan hadis shahih. Oleh karena itu, filsafat adalah skema, kerangka, dan kulit luar agama. Dan agama merupakan substansi filsafat. Dengan ungkapan lain, filsafat adalah interpretasi manusia terhadap teks-teks agama. Filsafat ini terwujud dari esensi agama dalam bentuknya yang paling benar dan sempurna. Para filosof menafsirkan teks-teks agama dan mewujudkan filsafat dari esensi agama dengan bantuan pisau analisis logika (ilmu mantik) dan seluruh ilmu dengan kadar relasinya masing-masing.

Apakah hasil-hasil pemikiran para filosof Islam bersumber dari filsafat Yunani yang kemudian dikawinkan dengan teologi Islam? Jika filsafat Islam dipandang sebagai sebuah jenis filsafat yang dikonstruksi oleh kaum muslim, maka bagaimana dengan karya-karya filosof Masehi dan Yahudi yang juga memiliki karakteristik yang sama dengan filsafat Islam. Begitu pula, kita berhadapan dengan karya-karya filsafat yang tidak berasal dari teks-teks agama, melainkan sebuah karya filsafat murni. Karena itu, memberikan label keislaman terhadap karya-karya filsafat seperti ini adalah hal yang tidak mungkin.

Mengenai apakah filsafat Islam memiliki karakteristik yang bersifat universal sebagai alat yang sesuai untuk seluruh cabang ilmu Islam dan pijakan segala pengetahuan? Sebagian mempercayai bahwa inti seluruh pembahasan filsafat Islam seputar masalah akal dan agama, ajaran Islam dan pemikiran Yunani. Para pendukung teori ini meyakini bahwa terdapat kemungkinan untuk mengintepretasikan seluruh bentuk filsafat Islam dalam hubungannya dengan masalah sentral ini. Pandangan lain menyatakan bahwa filsafat Islam merupakan simbol sebuah upaya untuk menciptakan keharmonisan antara Islam dan akal. Motivasi inilah yang menjadi dasar filosof Islam yang harus diperhatikan ketika mengkaji karya mereka.

Melacak Identitas Filsafat Islam

Salah satu tradisi filsafat Islam yang diletakkan oleh para filosof Peripatetisme adalah upaya jujur dalam menunjukkan bagaimana pemikiran filosof seperti Plato dan Aristoteles yang hingga pada batasan tertentu bisa disesuaikan dengan pandangan Islam. Dan karena ada pertemuan di antara dua maktab pemikiran ini maka hadir begitu banyak tema dan pandangan yang menarik. Sangat mudah bagi kita untuk membedakan wacana filsafat Islam dan kajian filsafat klasik Yunani. Tujuan Al-Farabi menggunakan kata-kata yang berasal dari teks-teks agama atau istilah-istlah Arab ialah menunjukkan kemampuan istilah-istilah itu dalam menggambarkan pandangan filsafat dan membuka kunci pemahaman yang diinginkan oleh para pemikir Yunani. Al-Farabi bukan hanya ingin mentransfer esensi pembahasan ke dalam masyarakat Islam, bahkan ia ingin membumikan pembahasan itu dan menunjukkan bahwa itu sama diminati oleh masyarakat Islam dan Yunani. Namun, hal ini tidak berarti bahwa filsafat Islam mengadobsi sepenuhnya filsafat Yunani dan menerapkannya dalam pemikiran Islam.

Jangan dibayangkan bahwa filosof Islam dalam stadium pertama sepenuhnya bergelut dengan pemikiran dan pandangan yang diadobsi dari budaya non Islami. Bisa diyakini bahwa pemikir ini memilki perspektif yang bersumber dari maktab yang mempunyai kekayaan rasional dan sepenuhnya berada dalam jangkauannya, dan kemudian perspektif-perspektif tersebut diubah, dikembangkan, dan diaplikasikan dalam tema yang beragam. Persoalan ini tidak bersifat bebas, bahkan suatu hal yang bersifat urgen. Pembahasan yang terlontar dalam filsafat Yunani tidak dapat dengan mudah terulang dalam alam pemikiran Islam, melainkan supaya bermakna mesti diadaptasikan dengan dunia pemikiran Islam. Oleh karena itu, ketika filsafat Yunani telah diadobsi ke dalam filsafat Islam maka spektrum maknanya telah berubah dan berganti. Poin ini sangat beralasan dimana setiap budaya yang mengikuti alurnya sendiri niscaya menyesuaikannya dengan karakter alaminya. Misalnya, dalam pengkajian terhadap penciptaan alam, Islam menginginkan muatan kajian ini memiliki spektrum berbeda yang sesuai dengan ajaran Islam yakni alam ini memiliki awal dan akhir.

Banyak filosof Islam mengubah teori Aristotelian dengan bermaksud menyelaraskan dengan ajaran al-Quran. Yang pasti sebagian dari penjabaran filsafat ini yang disamping lebih sistimatik juga lebih mendapatkan perhatian dari uraian lain filsafat. Namun, yang menjadi poin penting adalah semua teori dan pemikiran ini dibangun di atas argumentasi filsafat dan dikaji dalam sudut pandang filsafat. Bagi orang yang tenggelam dalam renungan terhadap pemikiran filsafat ini akan nampak dengan jelas kreasi baru dalam hampir keseluruhan pembahasannya, yakni tanpa diragukan bahwa filosof Islam yang menulis tema-tema yang terkait dengannya tidak dilatari dengan pikiran yang kosong, melainkan memaknainya dan memberikan spektrum baru terhadap tema-tema tersebut sesuai dengan esensi masalah yang mereka saksikan sendiri.

Para filosof Islam memandang mungkin filsafat Islam dengan alasan bahwa akal bisa mengenal hakikat, namun akal  juga tidak sepenuhnya bisa menyingkap seluruh hakikat. Mereka menyatakan bahwa antara zaman kami dan zaman para filosof Yunani telah lahir sebuah agama Islam. Lantas bagaimana mungkin orang yang aktif mengkaji filsafat dalam lingkungan Islam memiliki pemikiran yang sama dengan orang yang tidak mengenal Islam. Ungkapan mereka ini tidak menyebabkan filsafat serupa dengan ilmu kalam (teologi). Karena teologi adalah suatu ilmu yang prinsip dasarnya murni berasal dari wahyu Ilahi. Ilmu kalam dimulai dari unsur keimanan dan peran akal hanya digunakan sebatas menjelaskan doktrin keimanan yakni akal ditempatkan sebagai instrumen belaka. Ini kebalikan dengan filsafat yang konklusi argumentasinya ditarik dari mukadimah-mukadimah yang berasal dari akal murni. Kebenaran hukum filsafat bersumber dari dasar yang bersifat aksioma dan ketelitian silogismenya. Agar kebenaran filsafat semakin kokoh maka mesti diilhami dan dilegitimasi oleh wahyu Ilahi. Oleh karena itu, jika satu prinsip agama tidak bisa dijelaskan oleh filsafat maka hanya diterima sebagai doktrin keimanan. Ketidakmampuan filsafat menjelaskan suatu prinsip agama hanya dapat disaksikan dalam filsafat Peripatetisme dan Iluminasionisme. Sementara, dalam filsafat Mulla Sadra, ajaran agama dan filsafat berjalan secara harmonis. Filsafat bisa memaparkan rukun-rukun keimanan agama dan ajaran agama memberikan obyek kontemplasi bagi filsafat. Boleh dikatakan bahwa ajaran dan prinsip keimanan Islam sepenuhnya bisa dikaji secara filosofis. Agama dari satu sisi bisa berperan sebagai tolok ukur atas capaian-capaian filsafat, yakni ketika kaidah filsafat kontradiksi dengan rukun agama maka filsafat mesti mengkaji ulang kaidah itu. Tak bisa disangkal sokongan besar wahyu Islam dalam proses kesempurnaan filsafat Islam.

Namun, anehnya sebagian filosof yang karena dipengaruhi oleh pandangan para teolog yang menolak filsafat sebagai bagian agama, mengingkari pengaruh kuat Islam dalam pemikiran filsafat dan menolak mentah-mentah keberadaan filsafat Islam. Dalam pandangan mereka ini, filsafat Al-Farabi, Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Mulla Sadra tidak bisa digolongkan sebagai filsafat Islam, karena dasar filsafat ini identik dengan filsafat Yunani.

Apakah filsafat Islam tidak hadir dalam bentangan sejarah? Sebagian menafikannya dengan alasan bahwa Islam diawal munculnya hanya berisi ajaran-ajaran praktis dan tidak memiliki pemikiran teoritis. Perlu dipandang apa maksud ungkapan mereka ini. Jika yang dimaksud oleh mereka bahwa Islam tidak memiliki pemikiran teoritis dan hanya mengatur hubungan spiritual dan material dalam masyarakat, maka sesungguhnya mereka ini tidak mengetahui sebagian realitas sejarah Islam. Tidak ada keraguan bahwa al-Quran adalah kitab yang penuh dengan hikmah dan mengandung begitu banyak konsep-konsep teoritis tentang Tuhan, Nama-nama, Sifat-sifat-Nya, hubungan Tuhan dengan alam, jiwa yang nonmateri, hubungan timbal balik jiwa dan badan, kebaikan dan keburukan, kebebasan dan kehidupan akhirat, awal mula dan tujuan hidup manusia, keabadian ruh dan makhluk lainnya. Hadis dari para Imam Ahlulbait Nabi mengandung begitu banyak konsep-konsep yang tinggi dalam masalah irfan dan filsafat. Kitab seperti Nahjul Balaghah, Tauhid Shaduq, dan Ushul Kafi mengandung asas-asas irfan, filsafat, dan berisi ajaran Rasulullah tentang kepercayaan kepada Tuhan Yang Esa, inayah-Nya, berita tentang kehidupan abadi, serta alam-alam suci (malakut) yang tinggi. Walaupun kandungan hadis-hadis ini tidak dipaparkan dalam bentuk uraian khas filsafat, namun ungkapan suci itu hadir dalam wacana yang dapat diuraikan dalam warna filsafat dan konklusi-konklusi filsofis bisa ditarik dari teks-teks suci tersebut.

Korelasi filsafat dan agama dalam filsafat Islam tidak bersifat aksiden dan permukaan. Filosof tidak mendekatkan agama kepada filsafat dengan berpijak pada kemashlahatan khusus. Filosof jangan dicela karena tidak mengajarkan filsafat murni dan mewarnai filsafat dengan warna agama. Filosof muslim tidak berupaya mendamaikan agama dengan filsafat dengan merujuk kepada filsafat Yunani. Terobosan dan kreasi baru yang dicapai dalam filsafat Islam ini, dari sisi kuantitas, merupakan pengembangan dan perluasan filsafat Yunani dan, dari dimensi kualitas, lebih tinggi dari perspektif-perspektif yang lontarkan oleh filosof Yunani. Masalah-masalah ini kurang lebih bisa dijumpai dalam pembahasan tentang Tuhan, hubungan Tuhan dengan alam, hakikat jiwa, dan relasi jiwa dengan Tuhan. Misalnya dalam filsafat Mulla sadra, nampak pengaruh fundamental al-Quran dan hadis-hadis nabi dalam mengkonstruksi persoalan-persoalan baru dan mereformasi prinsip dan tolok ukur filsafat. Kebanggaan filsafat Islam, terutama al-Hikmah al-Muta’aliyah[1], terwujud secara khusus dalam pembahasan-pembahasan yang secara mendalam dipengaruhi oleh ajaran-ajaran suci agama, seperti kajian tentang Tuhan, alam, manusia, dan korelasi di antara ketiga realitas ini.

Filosof muslim menegaskan tentang eksistensi Tuhan, kenonmaterian dan keabadian jiwa. Keseluruhan filsafat mereka berpijak pada pemikiran tentang Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan hakikat-hakikat yang azali dan segenap alam eksistensi. Tuhan mewujudkan alam tersebut dari “ketiadaan” dan sebab keabadian eksistensi alam dikarenakan “hembusan” penciptaan yang terus menerus. Apakah filsafat Yunani memahami arti “penciptaan” dan menegaskan Tuhan sebagai pencipta alam? Pertanyaan seperti ini akan mengantarkan kita untuk memahami bahwa filosof muslim telah tercerahkan dalam masalah-masalah ini dengan berpijak pada tradisi-tradisi Islam. Dasar-dasar filsafat Islam ialah produk dari suatu kontemplasi mendalam atas ajaran-ajaran Islam tentang Tuhan dan hubungan Dia dengan manusia dan alam. Para filosof muslim mengenal Tuhan sebagai realitas yang tidak terbatas, wujud-Nya mandiri secara esensial, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Kuat, Pencipta langit dan bumi, yang mencipta manusia dalam “bentuk-Nya” sendiri, dan mengabadikan segala sesuatu di awal penciptaannya. Perspektif seperti ini tidak sama dengan pandangan Plato, Aristoteles, dan filosof Yunani lainnya. Karakteristik lain filsafat Islam adalah kajiannya yang mendalam tentang manusia dan alam dari dimensi hubungan keduanya dengan Tuhan dan memandang segala sesuatu itu berada dalam cakupan dan liputan-Nya.

Apakah filsafat Islam memiliki asas, dasar, dan kaidah khusus? Ataukah asas-asasnya sepenuhnya sama dengan filsafat Yunani? Filosof muslim bukan pengikut Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Ialah suatu fakta bahwa para filosof muslim telah mengerahkan kemampuannya di jalan ini untuk mengharmoniskan unsur-unsur filsafat Yunani dengan pemikiran Islam. Akan tetapi, jangan dipahami bahwa filsafat Islam hanya gabungan dari filsafat Yunani dan ajaran agama. Upaya filosof muslim untuk menyesuaikan agama dan filsafat dari satu sisi dan mengharmoniskan filsafat dan irfan dari aspek lain ialah langkah awal dalam mengkontruksi filsafat Islam dan sekaligus mengembangkan dasar dan kaidah filsafat mereka sendiri. Para filosof muslim berpikir bagaimana menghidupkan sebuah filsafat yang bisa melandasai peradaban besar dengan berpijak pada nilai-nilai religius dan mengungguli segala pemikiran filsafat yang ada. Dengan demikian, titik tekan filosof muslim bukanlah sekedar menafsirkan teks-teks agama dengan alat bantu filsafat atau menegaskan bahwa filsafat itu adalah batinnya agama, karena sebelum mereka telah ada upaya ini baik di awal munculnya Islam maupun di akhir  Islam. Sebelum Al-Farabi, Al Kindi juga giat mengkaji tema-tema filsafat Yunani, namun tidak dipandang sebagai pendiri filsafat Islam, karena dia bukan hanya mencukupkan diri menafsirkan pemikiran-pemikiran Yunani, melainkan sama sekali tidak serius mengkonstruksi filsafat dalam peradaban Islam dan berpandangan bahwa filsafat bisa ditempatkan disamping agama dengan tetap menjaga kemandiriannya masing-masing. Akan tetapi, Al-Farabi dan Ibnu Sina menafsirkan filsafat Yunani berdasarkan kaidah baru, dan menjelaskan hubungan agama dan filsafat dengan bantuan kaidah baru itu. Apa kaidah baru itu? Kita ketahui bahwa tema sentral filsafat adalah wujud, maujud, dan masalah yang terkait dengan eksistensi. Pertanyaan pertama filsafat adalah apa maujud itu dan mengapa maujud-maujud itu ada? Jawaban atas pertanyaan inilah yang menyebabkan filsafat itu menjadi beragam. Jawaban Aristoteles berbeda dengan yang ditawarkan oleh Plato, begitu pula jawaban Al-Farabi dan Ibnu Sina berbeda dengan kedua filosof Yunani.

Al-Farabi dan Ibnu Sina berpandangan bahwa wujud hakiki adalah Tuhan dan Dialah yang memancarkan wujud kepada alam. Kesatuan pemikiran Islam bermuara dari dimensi bahwa wujud itu bersifat hakiki dan asasi dalam metafisika. Dan dengan dasar inilah, Tuhan dipandang sebagai wujud itu sendiri. Hal ini sebagai asas inti, tolok ukur, dan mizan dalam menarik konklusi-konklusi dalam wilayah kajian ontologi filsafat Islam. Hasil terpenting dari asas ini bisa disaksikan dalam pembahasan mengenai hubungan Tuhan (al-Haq) dan makhluk (al-Khalq). Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah filsafat, Ibnu Sina membagi mumkinul wujud (contingent being atau makhluk) ke dalam dua pembagian: wujud (eksistensi) dan kuiditas (mahiyah). Dan kuiditas itu dibagi lagi ke dalam satu substansi (jauhar) dan sembilan aksiden (‘aradh). Bisa disaksikan bahwa sepuluh kategori-kategori (maqulat) dalam filsafat Aristoteles adalah kategori-kategori wujud, bukan kategori-kategori kuiditas. Bentuk pembagian ini bukan semata bersifat partikular dan jangan dipandang hanya sebagai suatu perubahan yang kecil dalam salah satu bab filsafat, melainkan memiliki konsekuensi fundamental dalam mengkonstruksi masalah-masalah inti dalam filsafat Islam. Seiring dengan perubahan dalam pembagian itu, makna ”hakikat” dan “kausalitas” juga mengalami perubahan. Para filosof  Islam menyatakan bahwa Tuhan adalah hakikat itu sendiri. Mereka memandang bahwa kausalitas itu juga bermakna “sebab efisien” (sebab pengada realitas atau sebab hakiki). Makna ini tidak ditemukan dalam filsafat Yunani.

Filosof Islam meletakkan filsafatnya dalam kerangka, sistem, dan asas pemikiran akan eksistensi Tuhan, hal ini berbeda dengan Plato dan Aristoteles. Menurut Al-Farabi dan Ibnu Sina, zat Tuhan, dipandang dalam aspek sebagai wujud murni, merupakan wujud yang tak terbatas. Ibnu Sina berhasil mengagas argumen yang dinamakan “burhan shiddiqin”. Inilah kebanggaan yang dicapai oleh Ibnu Sina dengan melontarkan penjelasan yang sangat teliti berkaitan dengan realitas wujud Tuhan. Pasca Ibnu Sina, argumen ini juga hadir dalam bentuk yang kokoh dan sangat mendalam dalam filsafat Iluminasi dan Hikmah Muta’aliyah. Tidak terdapat keraguaan sedikitpun bahwa argumen seperti ini tidak ada dalam karya-karya filosof Yunani. Filosof-filosof Yunani seperti Plato dan Aristoteles tidak memiliki pandangan bahwa Tuhan adalah wujud itu sendiri dan juga tidak memaparkan hubungan Tuhan dan alam dalam kerangka wujud.

Plato dan Aristoteles meyakini tentang “sumber segala eksistensi”. Namun, tidak bisa dikatakan bahwa mereka juga mempercayai tentang kepenciptaan Tuhan. Walaupun kedua filosof tersebut menerima konsep “sumber pertama segala realitas” dan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa alam seperti itu. Namun, mereka tidak menjelaskan mengapa alam ada atau tujuan diwujudkannya alam? Apabila Aristoteles mengetahui bahwa Tuhan itu ada dan wujud Tuhan menyatu dengan kuiditas-Nya (kesatuan wujud dan kuiditas hanya pada zat Tuhan), maka tidak terdapat kemungkinan dia lupa dan lalai terhadap persoalan penciptaan. Kalau kita menetapkan sebab pertama itu adalah wujud, namun pada saat yang sama kita tidak menempatkannya sebagai sebab keberadaan segala realitas lainnya, maka hal itu adalah mustahil. Oleh karena itu, tidaklah tepat kalau kelalaian Aristoteles terhadap kepenciptaan Tuhan bersumber dari kelemahan hubungan logikal bagian-bagian filsafatnya satu sama lain, melainkan berasal dari kaidah-kaidah dan dasar-dasar filsafatnya.

Argumen penggerak pertama (dalam argumen gerak) yang digagas oleh Aristoteles secara mandiri tidak bisa menegaskan aspek kepenciptaan Tuhan. Penggerak pertama ini tak lain adalah sebab akhir (final cause, tujuan akhir segala sesuatu, sebab yang karenanya segala sesuatu bergerak). Menurut Aristoteles, cinta kepada Tuhan yang menyebabkan langit dan bintang teratur. Sementara para filosof Islam beranggapan bahwa cinta dan inayah Tuhan kepada alam semesta yang merupakan sumber gerak mereka. Perbedaan dua jenis gerakan ini ialah sama dengan perbedaan “sebab akhir” dan “sebab hakiki”. Ini salah satu perbedaan filsafat Yunani dan Islam mengenai dasar gerak alam semesta.

Terdapat dua alasan mengapa filsafat Islam bisa menyempurnakan filsafat Yunani. Pertama, dasar-dasar tertentu filsafat Yunani memiliki kebenaran. Kedua, dengan bantuan wahyu Islam, filsafat Islam bisa mengembangkan filsafat Yunani ke tahap yang lebih sempurna. Dua alasan ini tidak hanya terbatas pada Al-Farabi dan Ibnu Sina, karena pasca kedua filosof ini, hadir jenis lain dari filsafat Islam yakni filsafat Iluminasionisme[2] dan irfan teoritis[3]. Filsafat Iluminasionisme menggunakan dua unsur dalam menyingkap hakikat, argumentasi akal dan kasyf wa syuhud (penyingkapan batin dan penyaksian intuitif).

Puncak Kesempurnaan Filsafat Islam, Sebuah Identitas Baru

Filsafat Iluminasionisme mendapatkan perhatian kecil di kalangan Ahli Sunnah dan meraih sambutan besar dan hangat dalam mazhab Syiah Imamiyah. Pandangan-pandangan Suhrawardi, dalam volume yang cukup besar, bisa menggantikan posisi filsafat Peripatetisme di alam pemikiran Syiah. Pada dasarnya, maktab Suhrawardi merupakan perkawinan filsafat Peripatetisme dengan teori-teori irfan. Gabungan kedua aliran ini kemudian diletakkan dalam alur dan kerangka ajaran-ajaran Syiah dan hadir dalam bentuk dan sistem yang baru dalam dunia filsafat. Dengan alasan ini mengapa para peneliti sejarah filsafat yang mengkaji kehidupan pemikiran kaum muslimin menarik suatu kesimpulan bahwa filsafat Islam, dalam arti yang sebenarnya, tidak berakhir pada Ibnu Sina, melainkan pasca wafatnya, dimulailah penyebaran ajaran-ajaran Suhrawardi di wilayah-wilayah Timur Islam.

Syaikh Isyraq mengajukan berbagai kritikan terhadap dasar filsafat Aristoteles dan filsafat Peripatetisme Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi. Salah satu asas fundamental yang menjadi perbedaan kaum Iluminasi dan Peripatetik, yang hal itu juga merupakan masalah-masalah substansial filsafat Islam, adalah perbedaan metafisikal antara kuiditas dan wujud. Perspektif Suhrawardi didasarkan pada dimensi bahwa wujud di alam eksternal tidak berbeda dengan kuiditas. Ia tidak menerima pandangan Al-Farabi dan Ibnu Sina serta para pengikut mereka yang beranggapan bahwa dalam setiap sesuatu yang berwujud, wujudya merupakan suatu perkara yang hakiki dan riil, kuiditas mesti memerlukan wujud untuk aktual. Dalam pandangan Suhrawardi, hanya kuiditas sesuatulah yang berdimensi hakiki dan wujud bersifat aksiden. Inilah bentuk pemikiran yang memandang kuiditas tersebut sebagai yang fundamental dan prinsipil di alam realitas. Teori ini disebut sebagai “Prinsipalitas Kuiditas” (Al-Ashalatul Mahiyah) yang juga menjadi konsep dasar filsafat Iluminasionisme. Gagasan ini kemudian diterima oleh filosof Mir Damad.

Namun, Mulla Sadra, murid Mir Damad, tidak menerima konsep dasar itu dan mengajukan beragam kritikan terhadapnya. Sebagai penggantinya, ia pun lantas menggagas suatu teori yang meletakkan wujud sebagai dimensi yang prinsipil dan fundamental di alam eksternal. Dengan digagasnya konsep yang oleh Mulla Sadra disebut sebagai “Prinsipalitas Wujud” (Al-Ashalatul Wujud), maka seluruh pandangan filsafat Iluminasionisme ia tafsirkan berdasarkan konsep ini dan teologi eksistensial Mulla Sadra diposisikan sebagai pengganti teologi kuiditas Suhrawardi.

Pertentangan Suhrawardi tidak hanya terbatas pada gagasan-gagasan filsafat Ibnu Sina dan Al-Farabi. Ia juga menafikan salah satu dasar utama sistem filsafat Aristoteles, yakni konsep tentang bentuk (ash-shurah) dan materi (al-maddah) yang merupakan poros utama filsafat natural Peripatetisme, dan menggagasnya dalam bentuk yang lain. Dengan dasar ini, Suhrawardi melancarkan pertentangannya dengan Aristoteles yang mengingkari konsep “alam ide” milik gurunya sendiri, Plato, dan beranggapan bahwa segala sesuatu di alam materi ini tidak memiliki realitas (tidak berwujud) pada tataran tertinggi alam. Begitu pula, dia menolak definisi Aristoteles tentang ruang, namun menerima konsep tentang ruang yang memiliki kesamaan dengan konsep ruang yang digagas oleh Plato.

Di bagian kedua kitab Hikmatul Isyraq, Suhrawardi mengkaji mayoritas persoalan yang dilontarkan oleh filosof Ilahi di alam pemikiran Islam. Di awal bagian itu, ia menganalisa tentang manifestasi cahaya Tuhan yang merupakan konsep yang paling fundamental dalam maktab filsafat ini. Suhrawardi menisbahkan segenap hakikat mutlak itu kepada realitas Ilahi yang tak terbatas, Nurul Anwar (baca: Tuhan). Ia mempunyai suatu pandangan kritis yang menyanggah argumentasi Ibnu Sina dalam membuktikan wujud Tuhan, karena ia berkeyakinan bahwa argumentasi Ibnu Sina secara lahiriah bersifat dialektikal dan polemikal belaka. Dalam perspektif Suhrawardi, Nurul Anwar yang merupakan sumber segala cahaya lain, harus memiliki eksistensi, karena mustahil jika mata rantai cahaya-cahaya itu saling bergantung satu sama lain secara tak terbatas, karena itu mata rantai ini harus berakhir kepada suatu cahaya yang merupakan cahaya pertama yang tidak bergantung lagi kepada cahaya yang lain.

Tema kajian lain Suhrawardi adalah tentang kehidupan alam akhirat (eskatologi atau ma’ad) dan kondisi makhluk hidup pasca kematian. Suhrawardi memperkenalkan alam akhirat sebagai jalan kembalinya jiwa dan ruh ke “rumahnya” yang hakiki. Tujuan setiap manusia mestilah seperti ini, karena setiap jiwa yang berada dalam setiap tingkatan kesempurnaan dan dalam setiap detik kehidupannya mencari Nurul Anwar (Tuhan), walaupun dia tidak mengetahui tujuan utama dan obyek asli pencariannya. Kebahagian hakiki terwujud dengan pancaran cahaya-cahaya Ilahi dan menyatakan bahwa setiap manusia yang tidak mengecap kenikmatan dari pancaran cahaya-cahaya Ilahi maka tidak satupun kenikmatan yang bisa dirasakannya. Dalam perspektifnya, setiap kenikmatan di dunia ini adalah cermin kenikmatan makrifat dan kelezatan kebahagiaan akhir jiwa, yakni mencapai ke tingkatan cahaya-cahaya malaikat dengan perantaraan pensucian jiwa dan perbuatan kezuhudan.

Tingkatan paling tinggi yang mesti dicapai oleh jiwa adalah derajat jiwa Ilahi atau jiwa para nabi yang secara alami mengetahui bentuk-bentuk universal atau malaikat-malaikat pengatur spesies. Jiwa para nabi sedemikian tingginya sehingga mampu memahami segala sesuatu dengan tanpa belajar kepada guru tertentu dan tanpa membaca kitab-kitab. Jiwa mereka mencapai derajat kesucian sehingga dapat mengetahui hakikat-hakikat segala sesuatu dengan musyahadah (penyaksian intuitif) dan mukasyafah (penyingkapan batin) dan mampu mempengaruhi fenomena-fenomena di alam materi sebagaimana jiwa setiap individu bisa mempengaruhi anggota-anggota tubuhnya. Bahkan para nabi dengan iradah dan kehendaknya bisa mengabadikan para malaikat pengatur spesies dengan cara memancarkan cahaya wujud kepadanya. Ilmu para nabi adalah sumber segala ilmu para malaikat pengatur spesies itu. Rasulullah saw, nabi terakhir, melakukan mi’raj “bersama” dengan Tuhan dengan melewati seluruh tingkatan wujud dari alam materi ke alam malakuti atau berjalan secara internal dari jiwa ke akal (sebagai alam minor) sendiri menuju alam Ilahi.

Dengan berdirinya kekuasaan Safawi di Iran, terjadilah perubahan dalam filsafat Islam di Iran yang berpuncak pada hadirnya Sadruddin Syirazi yang dikenal dengan nama Mulla Sadra. Filosof agung ini, yang dengan memanfaatkan teori-teori filsafat sebelum dia, telah berhasil mengkonstruksi ruang baru dalam pemikiran rasional dan mendirikan suatu maktab baru filsafat yang hingga kini masih terus hidup dan mendapatkan sambutan hangat dari para pemikir-pemikir kontemporer. Dari dimensi ini, tanpa diragukan bahwa Mulla Sadra adalah sosok yang paling cemerlang di alam pemikiran dunia Islam. Zaman ketika pemikiran filsafat mengalami kemunduran, Mulla Sadra berhasil menghidupkan kembali filsafat dengan menyajikan pandangan baru terhadap filsafat Yunani dan memberikan analisa baru terhadap gagasan filsafat Peripatetisme Islam dan Iluminasionisme dengan mengambil ilham dan berpijak pada ajaran-ajaran suci Islam. Dalam keseluruhan persoalan filsafat, Mulla Sadra merupakan sosok yang paling giat dan tercerahkan dalam generasi filosof-filosof Islam. Dalam dirinya bertemu dan menyatu secara sempurna beragam aliran-aliran pemikiran yang berabad-abad telah mengalami proses saling mendekat. Dia memahami secara baik bagaimana sebenarnya suatu teori dan gagasan filsafat yang benar tentang alam (kosmologi), karena itu, untuk mewujudkan suatu sistem baru filsafat, ia tidak merasa puas hanya dengan mengumpulkan dan menyusun beragam teori-teori filsafat.

Filsafat Mulla Sadra bisa dikaji dari dimensi filsafat murni dan perspektif yang berpijak pada pengalaman riil spiritual. Dimensi pertama, filsafat adalah suatu sistem pemikiran yang teratur, sistimatik, dan logis yang istilah-istilah dasar dan definisinya telah dikontruksi oleh Ibnu Sina. Ungkapan ini juga berlaku dalam pemikiran Suhrawardi dan Ibnu Arabi. Suhrawardi juga mampu menggabungkan secara sempurna pengalaman mistikal dengan pemikiran analitis-filosofis dalam satu bangunan pemikiran yang disusun dengan metodologi logikal yang teratur secara sistimatik. Para urafa Islam, yang dipelopori oleh Ibnu Arabi, pun memiliki perspektif yang sama seperti itu mengenai hubungan timbal balik filsafat dan irfan. Kaidah yang mendasar dalam irfan, seorang sufi dan arif yang tidak memiliki kekuatan pemikiran teoritis adalah sufi yang kurang sempurna. Hal ini juga berlaku pada filosof yang minus pengalaman mistikal, maka ia dipandang sebagai filosof yang tidak sempurna. Kaidah inilah yang mendasari bangunan pemikiran filsafat Sadrul Muta’allihin.

Melalui Mulla Sadra terjadi perubahan yang mendasar dalam proses perjalanan filsafat di dunia Islam. Poin yang paling konstruktif dalam reformasi dan kemajuan itu adalah ketika Mulla Sadra mampu meramu, menyempurnakan, dan mengembangkan dasar-dasar pemikiran Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu Arabi dan kemudian menciptakan suatu sistem baru filsafat dengan dimensi-dimensi yang begitu luas, umum, dan lengkap.

Jenis filsafat yang dikonstruksi oleh Mulla Sadra merupakan sistem ketiga filsafat Islam yang original. Dua mazhab filsafat yang lalu adalah filsafat Peripatetisme (Al-Farabi dan Ibnu Sina) dan filsafat Iluminasionisme (Syaikh Isyraq). Dengan keunggulan-keunggulan khusus yang dimiliki olehnya dan penguasaannya yang sempurna terhadap filsafat Iluminasionisme, Peripatetisme, dan irfan, serta pemahamannya yang sangat mendalam terhadap al-Quran dan hadis, Mulla Sadra berhasil melahirkan filsafat Islam dalam warna dan sistemnya yang baru. Filsafat baru itu ia namakan al-Hikmah al-Muta’aliyah.

Pandangan Mulla Sadra tentang wujud memiliki suatu sistem yang teliti dan teratur. Ia membedakan antara “hakikat wujud” dan “pemahaman wujud”. Bangunan metafisikal Mulla sadra yang diletakkan pada kaidah “prinsipalitas wujud” telah mengubah pembahasan-pembahasan umum filsafat yang hanya berkutat di alam pikiran (kajian pemahaman dan komprehensi) menjadi kajian yang murni bertumpu pada alam eksternal (kajian eksistensial).

Mulla Sadra senantiasa menekankan perbedaan dua makna wujud, yakni makna infinitif dan abstraksi yang dari satu sisi merupakan kategori kedua filsafat dan makna hakiki wujud dari dimensi lain. Ia memandang wujud bukan dari aspek pengertiannya melainkan dari dimensi hakikatnya. Begitu pula ia tidak beranggapan bahwa gabungan wujud dan kuiditas sebagai tolok ukur kebutuhan maujud yang mungkin (mumkinul wujud) dan mizan perbedaannya dengan maujud yang wajib (wajibul wujud). Ia tidak menggunakan istilah “kemungkinan kuiditas” (al-imkan al-mahuwi, kebergantungan mutlak pada dimensi pemahaman dan kuiditas), melainkan menerapkan istilah “kemungkinan eksistensial” (al-imkan al-faqr, kebergantungan mutlak pada dimensi wujud) pada maujud-maujud selain Tuhan. Ia tidak memandang adanya perbedaan horizontal antara Tuhan dan maujud selain-Nya yang keduanya sama-sama dikatakan sebagai “wujud” atau “maujud”, perbedaan itu bersifat vertikal, gradasional, dan bertingkat-tingkat. Menurutnya, membedakan antara “wujud” dan “kuiditas” serta membagi “maujud” itu ke dalam Wajibul Wujud (Tuhan) dan mumkinul wujud (makhluk) adalah tidak benar jika diperhadapkan dengan konsep prinsipalitas wujud dan hal inipun tidak bisa digunakan untuk menjelaskan masalah kebutuhan hakiki segenap makhluk terhadap Tuhan. Perspektif-perspektif inilah yang menjadi asas utama argumen shiddiqin dalam filsafat Mulla Sadra. Dengan kreasi baru inilah ia menghapus pembagian maujud ke dalam Wajibul Wujud dan mumkinul wujud yang merupakan produk teori “prinsipalitas kuiditas”.

Pada masa kini, peran sangat berarti Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathabai dan Syahid Murtadha Muthahari dalam mempertahankan posisi filsafat Islam dengan menolak segala bentuk tuduhan bahwa filsafat Islam sepenuhnya bersumber dari filsafat Yunani. Ayatullah Muthahhari menunjukkan bahwa al-Quran dan hadis nabi merupakan sumber utama dan pertama dalam mewujudkan, mengembangkan, dan menyempurnakan filsafat Islam. Dalam al-Quran dan hadis nabi, terdapat banyak teks-teks yang bisa dijadikan landasan dalam persoalan-persoalam teologi. Dalam Islam terdapat amalan praktis dan pemikiran teoritis yang berhubungan dengan Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan alam-alam sebelum dan sesudah alam materi ini. Dalam al-Quran, Nahjul Balaghah, khutbah Imam Ali as, dialog-dialog para Imam Ahlulbait, dan doa-doa, terdapat tema-tema seperti kemutlakan, ketidakterbatasan, kebercakupan zat, Tuhan Pemberi Wujud, kemutlakan wujud Tuhan dan ketidakterbatasan wujud-Nya, Tuhan tidak memiliki kuiditas, Tuhan sama sekali tidak terbatasi dan terhalangi, zat-Nya tidak menerima batasan, ruang dan waktu tidak akan pernah “kosong” dari-Nya, Dia mendahului ruang, tempat, dan bilangan, dan kesatuan-Nya bukan kesatuan bilangan. Ruang, waktu, dan bilangan hadir setelah Dia yakni pada tingkatan perbuatan-Nya, wujud Tuhan identik dengan kesatuan, dalil keberadaan-Nya adalah sama dengan dalil kesatuan-Nya, Dia bersama dengan segala sesuatu namun tidak berada dalam sesuatu, Dia bersama dengan segala sesuatu akan tetapi tidak sejajar dengannya, dan Dia mengikuti segala sesuatu namun tidak berjarak dan terpisah. Zat Tuhan tidak berkomposisi dan tidak bisa diasumsikan sedikitpun bahwa zat-Nya memiliki bagian, sifat Tuhan menyatu dengan zat-Nya. Dialah Yang Pertama dan Terakhir, Dia Yang Lahir dan Batin, keberawalan Dia identik dan sama dengan keberakhiran-Nya, dan lahir-Nya adalah sama dengan batin-Nya. Kehadiran Dia tidak akan pernah terhalangi oleh realitas yang lain, perkataan-Nya adalah perbuatan dan penciptaan-Nya, pengetahuan Tuhan sejenis manifestasi-Nya atas alam akal, dan Dia ternafikan dari segala bentuk materi, gerak, diam, perubahan, sekutu atau serupa, lawan, menggunakan alat bantu, dan memerlukan pertolongan kepada yang lain.

Dalam Islam terdapat kaidah yang disebut “kemestian eksistensi” yakni kemutlakan, ketidakterbatasan, dan ketidakberhinggaan zat Tuhan. Allamah Thabathabai menyatakan, “Kaidah ini, dalam filsafat Ilahi, telah menyelesaikan beberapa persoalan. Kaidah ini tidak terdapat dalam tulisan filosof pra Islam. Tema yang telah menjadi jelas pada abad kesebelas Hijriyah seperti “kesatuan mutlak (kesatuan non bilangan) dalam zat Tuhan”, “wujud Tuhan identik dengan kesatuan-Nya” (wujud Tuhan, yang karena merupakan wujud mutlak, adalah sama dengan kesatuan), “Tuhan adalah obyek pengetahuan yang esensial”, “Tuhan dikenal secara langsung dengan tanpa perantara”, dan “segala sesuatu diketahui melalui Tuhan dan bukan sebaliknya””.[4]

Dalam komentarnya terhadap hadis Imam Ali bin Abi Talib as dalam kitab Tauhid Shaduq, Allamah menyatakan, “Dasar penjelasannya berpijak pada kaidah bahwa Tuhan Yang Maha Suci ialah suatu realitas yang tidak menerima keterbatasan dan karena zat-Nya ialah wujud murni maka setiap yang berwujud bergantung kepada-Nya sebatas keluasan wujudnya. Wujud segala sesuatu bersumber dari Tuhan. Pembahasan tentang zat Tuhan yang ada dalam Nahjul Balaghah adalah berpijak pada dasar bahwa Tuhan sebagai eksistensi mutlak dan tak terbatas. Mustahil terdapat batasan dalam wujud Tuhan. Tidak satupun ruang, waktu, dan realitas yang lain yang tidak diliputi oleh-Nya. Tuhan bersama dengan segala sesuatu, sementara tidak satupun sesuatu bersama dengan-Nya. Dan karena wujud Tuhan ialah mutlak dan tak terbatas maka wujud-Nya mendahului segala sesuatu termasuk waktu, bilangan, batasan, ukuran atau kuiditas. Waktu, ruang, bilangan, batasan, dan ukuran berada pada tingkatan perbuatan-perbuatan Tuhan dan terabstraksikan dari perilaku dan penciptaan-Nya. Segala sesuatu bersumber dari Tuhan dan kembalinya juga kepada Tuhan. Dia Yang Awal dan sekaligus Yang Akhir. Ini adalah poin-poin pembahasan dalam Nahjul Balaghah. Nahjul Balaghah memiliki sumbangan yang besar dalam sejarah filsafat Islam. Mulla Sadra yang melakukan rekontruksi terhadap pemikiran filsafat Ilahi dipengaruhi oleh perkataan Imam Ali bin Abi Talib as. Metode Mulla Sadra dalam persoalan tauhid berdasarkan argumentasi yang berangkat dari “zat Tuhan” ke “zat Tuhan”, dan dari “zat Tuhan” ke “sifat” dan “perbuatan”. Semua argumen itu berpijak pada kemutlakan dan ketidakterbatasan wujud Tuhan. Kajian yang mendalam ini bersandar pada sistimatika persoalan-persoalan yang telah ditetapkan dalam perkara-perkara umum filsafat.”[5]

Murtadha Muthahari menjelaskan suatu poin bahwa filsafat Islam tidak mengadobsi pemikiran-pemikiran Yunani, ia berusaha menunjukkan seberapa besar perbedaan esensial antara apa-apa yang diperoleh oleh kaum muslimin dalam bentuk warisan filsafat di sepanjang abad dengan pemikiran-pemikiran umat lain. Dan jika terdapat semacam “adobsi” maka itu sejenis pemanfaatan pemikiran yang dilakukan oleh manusia berakal dalam lingkungan sekitar. Muthahhari berdalil bahwa kemestian fundamental suatu penyempurnaan adalah kemandirian yang semakin besar terhadap lingkungan internal dan penguasaan serta pengaruh yang besar atasnya. Manusia yang menyempurna ialah manusia yang pada saat yang sama secara maksimal memanfaatkan potensi-potensi yang ada di lingkungannya, ia juga terbebas darinya dan tidak dipengaruh olehnya. Dia bergantung kepada dirinya sendiri dan berdiri di atas kakinya sendiri serta berpijak pada kekuatan-kekuatan internalnya sendiri. Muthahhari menampakkan bahwa selain filsafat Islam berhasil dalam menghadapi benturan budaya-budaya lain dengan menggunakan potensi-potensi internalnya sendiri juga mampu menjaga identitas dan esensi Islam. Filsafat Islam yang di samping berusaha memanfaatkan capaian berharga dari peradaban lain dan mengambil pemikirannya yang bernilai, juga mengembangkan dan menyempurnakannya dengan memberikan warna Ilahinya sendiri sebagai unsur penjamin keutuhan dan kesatuannya.

Banyak contoh dalam sejarah filsafat Islam bagaimana ajaran wahyu mempengaruhi pemikiran para filosof Islam. Contoh sejarah yang paling nyata bisa dilihat dalam pemikiran Al-Farabi, Ibnu Sina, Syaikh Isyraq, Ibnu Arabi, Mulla Sadra, dan Allamah Thabathabai. Bukti sejarah yang otentik ini akan menceritakan bahwa metafisika yang dalam bentuknya yang sangat umum yang hadir di dunia Islam telah terwarnai oleh wahyu Islam sedemikian sehinga jika kita asumsikan bahwa mereka lepas dari pengaruh Islam maka mustahil terwujud suatu sistem sempurna pada filsafat mereka. Dengan demikian, secara pasti kita dapat menerima bahwa Islam sedemikian berpengaruh dalam lahirnya filsafat Islam, karena itu filsafat Islam ialah suatu realitas yang tidak bisa ditolak keberadaannya dalam sejarah Islam. Walaupun filsafat Islam banyak ditolak dan ditentang oleh para fakih Islam, filsafat Islam tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sisi kehidupan pemikiran kaum muslimin.

 

Kesimpulan

Filsafat bisa diposisikan sebagai genus yang filsafat Islam adalah salah satu dari jenis-jenisnya. Individu dan ekstensi khusus filsafat Islam ialah aliran-aliran yang berada dibawah pengaruh Islam. Aliran filsafat Islam ini seperti Peripatetisme, Iluminasionisme, Hikmah Muta’aliyah (filsafat Mulla Sadra), dan Irfan Teoritis yang beragam jenisnya sesuai dengan karakteristik-karakteristik pendirinya. Filsafat Islam adalah sebuah filsafat yang sistimatika kajiannya memiliki kemiripan dengan filsafat umum. Namun, terdapat keterikatan antara pemahaman filsafat umum dan pemikiran yang hadir pada setiap zaman dalam budaya Islam. Apa yang membuat filsafat Islam menjadi penting adalah kelebihan-kelebihan yang secara esensial terkhusus pada filsafat ini. Filsafat Islam juga memiliki persepsi-persepsi khas dan pemikiran-pemikiran bernilai yang tidak akan pernah disaksikan dalam filsafat-filsafat lain.

Tradisi filsafat Islam berakar dalam al-Quran dan nabi. Keduanya sebagai sumber pengetahuan dan etika. Filsafat Islam dikategorikan dalam pengertian yang sebenarnya sebagai suatu filsafat, namun pada saat yang sama, karena sumber makrifat utamanya adalah wahyu dan nabi, maka gambaran dan definisinya tentang “akal” juga mengalami perubahan dan penyempurnaan. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri bagi orang yang mengkaji filsafat Islam dari dalam tradisinya sendiri, walaupun sebagian peneliti Barat dan peneliti muslim yang terbaratkan terus menekankan perspektif mereka tentang “akal” supaya diterima dalam kamus filsafat Islam. Para filosof Islam adalah orang-orang yang meyakini ajaran Islam dengan sesungguhnya. Jangan pernah dilupakan bahwa Ibnu Rusyd yang oleh Barat dipandang sebagai Bapak Rasionalisme adalah juga hakim agung kota Kordoba, Spanyol. Dan Mulla Sadra sebagai filosof Ilahi teragung di dunia Islam telah menunaikan ibadah haji tujuh kali dengan berjalan kaki, dan ia wafat dalam perjalanan yang ketujuh.

Para filosof Islam yang disamping banyak merumuskan persoalan yang baru dalam filsafat, juga melontarkan banyak solusi yang original dan mendalam untuk beragam masalah filsafat. Para filosof Islam tetap memberikan peluang dan ruang bagi lahirnya pemikiran baru filsafat di masa depan, walaupun mereka telah menganalisa secara luas dan mendalam berbagai pandangan filsafat terdahulu, menyempurnakan penjelasan dan alur argumentasi filsafat, menyusun secara teratur berbagai uraian-uraian argumentasi, menegaskan kebenaran dan menguatkan klaim-klaim terdahulu pada sebagian persoalan filsafat, menampakkan kesalahan dan kekeliruan konlusi-konlusi silogisme para filosof terdahulu, menawarkan perspektif filsafat yang kokoh, dan mengkonstruksi bangunan baru pemikiran filsafat.

Pada masa sekarang ini, filsafat Islam masih tetap dipandang sebagai suatu model aktivitas berpikir yang mendasar dan sebuah tradisi pemikiran yang terus hidup dalam lingkungan Islam yang kokoh. Tradisi filsafat Islam adalah suatu realitas yang hidup dan masih terus melanjutkan kehidupannya hingga hari ini. Tradisi ini telah menunjukkan reaksi timbal balik dengan mazhab-mazhab lain Islam dalam bentuk-bentuk yang beragam dan telah menciptakan tradisi-tradisi rasionalitas yang paling kaya di dunia ini dengan berpijak pada dasar-dasar filsafat klasik.

Sumber Bacaan:

  1. Al-Quran.
  2. Nahjul Balaghah, Sayyid Radhi.
  3. Ushul Kafi, Abu Ja’far bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini.
  4. Tauhid Shaduq, Muhammad bin Ali bi Babawai (Syaikh Shaduq).
  5. Huwiyat-e Falsafey-e Islami, Qabasat, volume 10/ do. 35 / spring 2005.
  6. Al-Asfar, Muhammad bin Ibrahim Sadruddin Syirazi (Mulla Sadra).
  7. Bidayatul Hikmah, Muhammad Husain Thabathabai.
  8. Nihayatul Hikmah, Muhammad Husain Thabathabai.
  9. Munasebat-e Din wa falsafe, Reza Akbarian.
  10. Nasyriye-e Maktab-e Tasyayyu’, edisi kedua.
  11. Hikmatul Isyraq, Syihabuddin Suhrawardi (Syaikh Isyraq).
  12. Isyarat wa Tanbihat, Ibnu Sina.
  13. Fushusul Hikam, Al-Farabi.
  14. Osynoye Bo Ulum-e Islami, Murtadha Muthahhari.

[1] . Yang didirikan oleh Sadruddin Syirazi, Mulla Sadra.

[2] .  Pendirinya adalah Suhrawardi yang dikenal dengan nama Syaikh Isyraq.

[3] .  Pendirinya adalah Muhyiddin Ibn Arabi.

[4] . Nasyriye-e Maktab-e Tasyayyu’, edisi kedua, hal. 120.

[5] . Nasyriye-e Maktab-e Tasyayyu’, edisi kedua, hal. 157.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s