Makna Kesempurnaan Pada Nabi

Oleh: Mohammad Adlany

Para nabi Ilahi adalah manusia sebagaimana manusia lainnya, dari sisi ini mereka tidak berbeda dengan masyarakat lainnya, dan ini adalah hakikat yang juga ditegaskan dalam al-Quran al-Karim.

Oleh karena itu, para nabi tidak mungkin menginjakkan kaki di dunia ini dengan telah memiliki seluruh kesempurnaan, dan sangat jelas bahwa seluruh atau sebagian dari kesempurnaan-kesempurnaan yang mereka miliki hanya akan dihasilkan dan diperoleh dengan kehadiran mereka di dunia ini, dengan melewati ujian-ujian Ilahi dan melaksanakan ibadah-ibadah fisik, intelektual, riyadhah-riyadhah, seir-suluk dan mendekatkan diri ke arah Tuhan.

Tentu saja sebagian dari kesempurnaan telah ada dalam diri para nabi sejak kelahirannya, seperti karakteristik-karakteristik kebaikan yang diwariskan oleh kedua orang tua dan nenek moyang, rahim suci tempat terbentuknya nutfah, asuhan dan didikan, pangkuan-pangkuan suci yang menjadi tempat mereka belajar, lingkungan tempat mereka dibesarkan dimana keseluruhannya berada dalam kesempurnaan kondisi psikologis dan kesucian kalbu, yang hal ini memegang peran sangat signifikan dalam mengantarkan mereka sampai ke puncak kesempurnaan. Di samping itu terdapat juga rahmat dan kasih sayang Tuhan dalam pertumbuhan dan pembersihan jiwa mereka, khususnya dengan terlihatnya kelayakan dan kompetensi dari mereka yang ditampakkan dari waktu ke waktu telah menyebabkan jalan kesempurnaan selalu terbentang lebar di hadapan mereka dan hal ini mempercepat langkah mereka untuk memperolehnya.

Barangkali di sini kemudian akan muncul sebuah pertanyaan atau keraguan:

Jika para nabi melintasi jalan kesempurnaan di dunia ini dan akan menjadi manusia yang sempurna dengan berlalunya waktu dan dengan melewati berbagai kejadian, berarti agama mereka yang mengikuti wujud mereka pun akan sempurna secara bertahap. Lalu jika terdapat kemungkinan bagi mereka untuk melanjutkan kehidupan atau misalnya terjadi peristiwa lain pada mereka, apakah agama akan memiliki bentuk lain, atau akan semakin sempurna? Sementara sekarang, perjalanan kesempurnaan para nabi terus berlanjut dan tidak mencukupkan diri dengan keberadaan mereka, demikian juga jalan serta pengalaman mereka senantiasa dipelajari untuk menyajikan agama yang lebih sempurna.

Seluruh nabi diutus untuk mempersiapkan media dalam rangka menyajikan aturan-aturan Tuhan yang paling sempurna yang akan diajarkan oleh nabi tertinggi yang juga merupakan nabi terakhir. Tugas ini telah terselesaikan dan al-Quran secara tegas telah menyampaikan kesempurnaan agama ini. Dengan demikian problem tentang ketidaksempurnaan agama tidaklah benar.

Tentu saja terdapat sebagian yang bertugas sebagai penerus para nabi dan setiap nabi memiliki penerus serta wasi masing-masing. Para Imam Ahlulbait (Khalifah Rasulullah sawa dari keturunannya) pun memiliki tugas untuk menjelaskan dan menafsirkan[1] ajaran-ajaran nabi dan ayat-ayat al-Quran. Dan setelah mereka pun terdapat ulama-ulama kompeten dan mengenal Islam secara hakiki yang berkewajiban  menjelaskan agama dan ayat-ayat Ilahi sesuai dengan kondisi zaman dan kultur setiap masa.

Al-Quran al-Karim memperkenalkan Rasulullah saw sebagaimana layaknya seluruh manusia lainnya, dalam salah satu ayat-Nya, Ia  berfirman, Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.[2] Berdasarkan prinsip bahwa para nabi dan  imam adalah manusia, maka sangkaan dan keyakinan bahwa mereka menginjakkan kaki ke dunia dengan telah memiliki seluruh kesempurnaan yang memungkinkan, bisa ternafikan, karena merupakan sebuah hakikat yang sangat jelas bahwa manusia terlahir ke dunia dalam keadaan kosong dari kesempurnaan secara keseluruhan, atau memilikinya dalam batasan yang sangat rendah.

Dalam kaitannya dengan masalah ini al-Quran al-Karim menyatakan, “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.[3]

Tentunya, jiwa manusia, bahkan sejak detik kelahirannya tidak pula tanpa kemampuan memahami, bahkan banyak dari kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan bisa dia pahami sejak awal kehidupannya, sebagaimana tersirat dalam salah satu firman-Nya, “Demi jiwa manusia dan Dzat yang telah menyempurnakannya, lalu Dia Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntunglah orang yang telah menyucikannya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”[4]

Jadi, setiap manusia dengan sendirinya telah memiliki sebagian dari kesempurnaan jiwanya seperti ilmu-ilmu hudhuri yang bisa diperoleh tanpa perantara (bukannya ilmu perolehan yang didapat melalui proses pembelajaran); akan tetapi mengenai kesempurnaan, pada setiap individu terdapat tahapan kuat dan lemah, bisa jadi sebagian orang memiliki kesempurnaan lebih banyak dan sebagian lainnya lebih sedikit. Sebagian, akan mempergunakan dan meletakkan kesempurnaan ini sebagai landasan untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi dan lebih baik, namun sebagian lainnya mungkin malah akan menginjak-injak kesempurnaan dzati yang telah dimilikinya, melanggarnya serta membungkam keberadaannya.

Faktor yang menyebabkan kenapa sebagian manusia memiliki kesempurnaan yang lebih tinggi dan lebih banyak, bisa dilihat pada lingkungan dan kondisi sebelum kelahirannya serta kembali kepada garis keturunan. Seorang bocah yang terlahir dari keturunan dan rahim yang suci, saat pembentukan nutfah tidak ternodai oleh keburukan, terlahirkan di dalam keluarga yang mulia, dibesarkan oleh tangan-tangan terpuji, maka sangat jelas kelak ia memiliki persiapan yang lebih matang untuk memperoleh puncak kesempurnaan; akan tetapi nutfah yang terbentuk dari makanan haram, dengan cara dan jalan yang terlarang, terlahir dalam lingkungan yang tercemar dan dibesarkan oleh tangan-tangan yang ternoda, maka di sinipun pasti ia akan memiliki persiapan yang sangat kurang dalam mencapai derajat kesempurnaan.

Pada diri para orang-orang suci terdapat kesempurnaan awal, yaitu nutfah mereka berasal dari keturunan suci, diletakkan pada rahim para ibu yang suci, lingkungan kelahiran dan pertumbuhan mereka pun berada dalam tingkat spiritual yang sangat tinggi, secara alami individu seperti ini harus telah memiliki kesempurnaan awal dan juga memiliki persiapan untuk sampai pada tingkatan kesempurnaan yang tinggi. Dengan adanya pertumbuhan, kesempurnaan usia dan fisik, maka aktifitas-aktifitas spiritual dan fisik mereka pun akan bertambah sehingga sampai pada kondisi dimana mereka bisa menggapai begitu banyak hakikat dan pengenalan. Tentunya kasih sayang dan rahmat Tuhan mencakup hamba-Nya tanpa terkecuali, terutama apabila hamba tersebut menunjukkan kelayakan dan kompetensinya untuk memperoleh kasih sayang dan rahmat-Nya. Di sini jelas, jika seorang hamba melangkahkan selangkah kakinya ke arah Tuhan, Tuhan akan menyambut dan mendekatinya dengan sepuluh, bahkan seratus langkah. Al-Quran mengungkapkannya dengan sangat indah, Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.[5]

Pada ayat yang lain Ia berfirman, Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeda (antara yang hak dan batil di dalam hatimu), menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”[6]

Dan ketika telah sampai pada tingkatan ilmu dan amal yang tinggi, maka interaksi dan hubungan khusus dengan Tuhan di kalangan sebagian mereka akan terjadi, yang hal tersebut disebut dengan “wahyu”.

Ayatullah Jawadi Amuli mengatakan, “Manusia yang telah sampai pada tahapan keikhlasan sempurna dan akal mujarrad, maka guru pengajarnya tak lain adalah Tuhan yang merupakan ilmu murni, yang tidak ada kelalaian di dalamnya; oleh karena itu jeratan dan godaan setan sama sekali tidak mempengaruhi apa yang telah didapatkan oleh para manusia suci secara intuitif, intelektual maupun hati nurani. Demikian juga manusia yang telah sampai pada ismah amali, dia tidak akan pernah melakukan kesalahan baik secara sengaja, bodoh, lupa maupun lalai, dan kedudukan ini hanya akan dihasilkan oleh orang yang telah sampai pada puncak ketulusan dan keikhlasan yang agung. Manusia seperti ini berada sangat jauh di luar jangkauan dua kekuatan jahannam, yaitu syahwat dan kemarahan, hal ini dikarenakan seluruh kekuatan amali dan geraknya telah dikelola dibawah bimbingan dan dukungan akal amali.”[7] 

Ringkasnya bisa dikatakan bahwa sejak para nabi dan para imam yang suci diangkat sebagai nabi dan imam, mereka telah memiliki segala kesempurnaan, kesucian, dan ilmu; akan tetapi kedudukan ini bukanlah merupakan kedudukan kesempurnaan yang tertinggi, seiring berjalannya waktu dan semakin banyak melakukan aktifitas-aktifitas intelektual, ruhani, amali, fisik serta perolehan wahyu dari Tuhan, jalan kesempurnaan tetap berlanjut yang semakin hari akan mengantarkannya ke kedudukan yang lebih tinggi dan kesempurnaan yang semakin tinggi pula. Jadi, kuantitas dan tahapan kesempurnaan para nabi adalah dalam bentuk keturunan dan karunia-Nya, selain itu juga karena memperoleh berbagai tahapan lainnya sehingga sampai pada maqam ismah,[8] imamah, atau kenabian, dan hal ini akan terus berlanjut, tahapan serta kesempurnaan baru akan senantiasa mereka peroleh hingga tiba masa kematiannya.[9]

Di sini barangkali akan muncul sebuah pertanyaan, apabila Rasulullah senantiasa berada dalam tahap untuk meraih kesempurnaan, berarti jika beliau berumur lebih panjang, maka sosok dan agamanya akan menjadi lebih sempurna dari apa yang ada sekarang. Dengan demikian berarti tidak bisa dikatakan bahwa agama ini adalah agama sempurna, melainkan harus ada usaha dan keseriusan untuk menyempurnakannya, atau barangkali dengan mengirimkan nabi lain pada setiap zaman untuk menjelaskan ajaran sesuai zaman dan budaya agama.

Sebagian menyelesaikan problem ini dengan teori “nasuti” wahyu dan kesejajaran kenabian dengan pengalaman agama, dan menyatakan, “Kenabian adalah semacam perolehan dan penyaksian.[10] Setiap kali wacana terdapat pembahasan tentang pengalaman, maka akan terdapat pula pembahasan tentang yang lebih berpengalaman. Syair akan semakin terlihat menyair ketika bersama penyair, ceramahpun akan terlihat semakin menarik ketika diucapkan oleh penceramah, dan persolan ini berlaku pada setiap pengalaman. Nabi dimana seluruh modalnya terletak pada karakter, sosok dan kepribadiannya, maka sosok dan kepribadiannya ini merupakan tempat, terwujud, penerima, pelaku eksperimen agama dan wahyu, dan misi yang berada dalam kepribadiannya akan berakhir pada misi pengalaman (atau sebaliknya), oleh karena itu wahyu akan mengikutinya, dan bukan ia yang mengikuti wahyu.”[11]

“Dengan kata lain, hubungan nabi dengan apa yang berada di luar dirinya betul-betul berada dalam misi risalahnya dan memberikan pengaruh pada misi pengalaman kenabiannya.[12] Nabi adalah manusia, pengalamannya manusiawi, dan seputarnyapun adalah manusia-manusia. Ketika berhadapan dengan unsur-unsur insan ini, maka secara bertahap akan melahirkan agama insani. “[13]

“Ringkasnya, Rasulullah saw memiliki dua tingkatan pengalaman dan Islam merupakan hasil dari dua bentuk pengalaman ini: pengalaman eksternal dan pengalaman internal, dan dengan berlalunya waktu, kedua pengalaman ini akan semakin berpengalaman, dengan demikian agamanya semakin sempurna. Pada pengalaman eksternal, ia telah membangun, memanajemen, dan mengatur Madinah, pergi berperang, berhadapan dengan para musuh, mendidik para sahabat dsb; sedangkan pengalaman internal dan batinnya adalah mimpi, wahyu, ilham, mi’raj, penjagaan dan tafakkur-tafakkur yang dilakukannya, dimana sisi inipun telah membuatnya semakin matang dan produktif.

Konsekuensi dari semakin sempurnanya agama adalah semakin sempurnanya pribadi Rasul dimana agama merupakan ringkasan dan unsur-unsur pengalaman pribadi dan sosialnya. Dalam ketiadaan Rasul pun pengalaman batin dan eksternal nabi harus tetap meluas dan menambah kekayaan dan khasanah agama. Jika “Hasbuna Kitabullah” tidak benar, maka “Hasbuna mi’rajunnabi wa tajrubatinnabi” pun tidak akan benar.”[14]

Analisa permasalahan:

  1. Prinsip dari permasalahan dan keraguan ini, pertama adalah pengetahuan antara “wahyu” dan “pengalaman”, dimana keduanya saling berbeda. Wahyu berasal dari Tuhan dan disampaikan melalui malaikat wahyu, di sini para nabi mengetahui dengan baik bahwa ada seseorang yang tengah turun dan bercakap dengan mereka, dan kedudukan para nabi di sini adalah menerima, menghafal, menjaga dan menyampaikan kalimat-kalimat dan ayat-ayat yang diterimanya. Sedangkan pengalaman agama bersumber pada jiwa sang pencari pengalaman, sebuah bentuk hubungan antara hamba dengan Tuhannya yang berada dalam batasan memperoleh dan menyaksikan. Dalam wahyu tidak ada istilah kesalahan, kekeliruan ataupun campur tangan setan, akan tetapi dalam perolehan dan penyaksian, semua hal tersebut mungkin saja terjadi. Wahyu merupakan sebuah bentuk aturan dari Tuhan kepada masyarakat dan umat, dan dari sisi inilah sehingga dinamakan dengan hujjah, sementara perolehan dan penyaksian, secara maksimal hanya mampu menjadi penonton hujjah akan tetapi tidak memiliki nilai semacam ini untuk seluruhnya.[15]
  2. Al-Quran al-Karim sendiri telah menegaskan sempurnanya ajaran-ajaran yang diturunkan kepada Nabi dan menegaskan kesempurnaan agama pada tahun-tahun akhir kehidupan Rasul saw. Hal ini diperlihatkan dengan sangat jelas pada salah satu firman-Nya, Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu.[16]

Oleh karena itu perjalanan menyempurna Rasulullah saw dan menyempurnanya agama Islam berada dalam bentuk dimana perjalanan ini terjadi dengan perencanaan cermat Tuhan yang menampilkan agama tersempurna sebagai penutup agama-agama yang disampaikan oleh nabi terakhir. Oleh karena itu tidak bisa dipersalahkan dimana “Jika rasul masih hidup dan memiliki usia yang lebih panjang, maka agama akan menjadi semakin berbobot dan semakin sempurna; dan jika terjadi peperangan atau peristiwa yang menimpanya, atau terdapat lebih banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, atau terdapat peristiwa-peristiwa lainnya yang mengarahkan ke arah yang berbeda, maka al-Quran dan agama akan muncul dalam bentuk yang berbeda.”[17]

Karena apa yang menjadi ajaran asli Islam dan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat telah terealisasi sehingga kelanjutan jalan dan perolehan hak dan hakikat yang dibutuhkan oleh para penuntutnya telah disampaikan oleh Rasul saww.

Tentunya kewajiban bagi para pelanjut kenabian, yaitu para Imam Ahlulbait (dalam aliran Syiah), ulama-ulama dan para pengenal Islam hakiki adalah menjelaskan ayat-ayat, ajaran-ajaran Tuhan, jalan, dan metode Rasul saw, demikian juga mengeluarkan hukum-hukum dan aturan-aturan agama dari teks-teks agama, serta memberikan jawaban yang sesuai terhadap pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa berkembang dalam setiap masa dan kultur, sedemikian hingga tidak ada lagi persoalan yang tidak terselesaikan maupun pertanyaan yang tidak terjawab.”[18]

  1. Dari perspektif kami, keberadaan manusia suci disamping al-Quran merupakan persoalan yang urgen, dan kandungan ini terdapat juga dalam salah satu hadis Rasulullah saww yang bersabda, “Aku meninggalkan dua hal yang sangat berharga di antara kalian, yaitu Kitabullah dan itrah Ahlul Baitku. Maka tidak akan pernah tersesat bagi siapapun yang berpegang pada keduanya.”[19]
  2. Demikian juga kami tidak sepakat dengan batasan pengalaman-pengalaman agama, ilham-ilham, dan mimpi-mimpi Rasul saw, sehingga mengatakan “… maka, Hasbuna mi’rajunnabi wa tajrubihinnabi pun tidak benar.” Apa yang kami yakini adalah ketidakterbatasan nubuwwat, kenabian dan keterakhiran Rasulullah saww, meskipun jalan untuk mukasyafah dan ilham tidak tertutup bagi para hamba Tuhan yang mukhlis dan suci. Apa yang terbatas pada para nabi adalah wahyu dengan makna khusus yaitu turunnya malaikat dan pemberian ajaran-ajaran tasyri’i Tuhan. [Terjemahan makalah Ayatullah Hadawi Tehrani]

[1] . Penting untuk diingat bahwa kedudukan Imam tidak hanya terbatas pada apa yang telah disebutkan, melainkan bisa mencakup kedudukan kepemimpinan, dan keadilannya. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut rujuklah: Ta’amulat dari Ilm Ushul Fiqh, Hadawi Tehrani, hal. 22-46.

[2] . Qs. Al-Kahf: 110, Qs. Al-Fushilat: 6

[3]. Qs. An-Nahl: 78

[4] . Qs. Asy-Syams: 7-10.

[5] . Qs. Al-Ankabut: 69.

[6] . Qs. AL-Anfal: 29.

[7] . Jawadi Amuli, Abdullah, Alquran subjek penafsiran, c. 3, (Wahyu dan kenabian dalam Quran), h. 200

[8] . Tentunya makna ini bukanlah dengan artian menafikan ishmah (suci dari segala bentuk kesalahan dan dosa) alami. Untuk informasi lebih detail rujuklah pada indeks:

  1. Pengertian Ismah dan Kemungkinan Ishmah bagi Seseorang.
  2. Ishmah Rasul saww dan meninggalkan perbuatan yang terbaik.
  3. Ishmah Manusia-manusia Biasa.

[9] . Rujuklah: Ibid, hal. 213.

[10] . Surusy, Abdulkarim, Basth-e Tajrubeh-ye Nabawi, hal. 11.

[11] . Ibid, hal. 13.

[12] . Ibid, hal. 16.

[13] . Ibid, hal. 21.

[14] . Ibid, hal. 24-25.

[15] . Jawadi Amuli, Pisyin, hal. 82-97; Sajidi, Abulfadhl, Zabone Din wa Quran, hal. 73-266.

[16] . Qs. Al-Maidah: 3.

[17] . Surusy, Abdulkarim, Majaleye Oftob, no. 15, artikel “Islam beh Wahy wa Nubuwwat.”

[18] . Rujuklah: Muthahhari, Murtadha, Khatam-e Nubuwwat, hal. 37.

[19] . Biharul Anwar, jil. 23, hal. 108.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s