Shalat, Mi’raj Ruhani

Oleh: Mohammad Adlany

Shalat merupakan akhir dan puncak suluk setiap salik serta koridor tempat dimana seorang salik bisa berbincang dengan Tuhannya secara langsung dan tanpa perantara.

Allah swt dalam al-Quranul Karim berfirman, “Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”[1] Jika ingatan kepada-Nya telah terbentuk melalui shalat, maka kalbu manusia akan menjadi tenang, karena mengingat-Nya akan memberikan ketenangan dan keyakinan dalam kalbu, sebagaimana firman-Nya, “… hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram …”

Sesungguhnya dengan melakukan shalat, para pelaksana shalat tengah memusnahkan tabiatnya dan menghidupkan fitrahnya, karena salah satu manfaat dan khasiat dari shalat adalah menghidupkan fitrah manusia. Dengan ketenangan yang diperoleh melalui shalat, seorang pelaksana shalat tidak akan pernah terjatuh dalam kehidupan yang lamban penuh kemalasan, dan tidak akan pernah terjungkal dalam kekacauan ketika berada dalam kesulitan.

Shalat adalah sebuah kautsar dan telaga yang akan membersihkan jiwa manusia. Sungguh, jika kita tidak merasakan adanya kesucian, kebersihan, dan pancaran cahaya dalam diri kita dari shalat yang kita lakukan, maka  sesungguhnya shalat yang kita lakukan bukanlah shalat yang hakiki. Bisa jadi shalat yang kita lakukan adalah sah dan benar, akan tetapi tidak diterima oleh-Nya. Karena hanya shalat yang dikabulkan dan diterima oleh-Nyalah yang akan mampu membersihkan dan mensucikan jiwa manusia. Dan seseorang baru bisa memfokuskan kalbunya dalam shalatnya ketika dia telah menutup mata dan telinganya di luar shalat.

Shalat adalah pertemuan dengan sang Mahbub, percintaan dengan Yang Dicinta dan pasrah menyerah di haribaan Yang Dipuja, sedangkan masa menjadi jeritan rindunya dan tempat keluh kesahnya. Dia akan menemui Pujaannya dengan pujian dan sanjungan penuh kegembiraan, dan di akhir setiap pertemuan, dia akan meninggalkan-Nya dengan salam takzim yang dipenuhi dengan kesedihan dan kerinduan untuk segera bertemu kembali. 

Selama kita tidak mengenal dan mengintiminya, selama masih ada yang lain di hati kita dan menyibukkan khayal-khayal kita, kapan kita akan memahami keindahan shalat?

Lompatan maknawi dan mi’raj-nya para ahli makrifat serta para pemilik kalbu adalah shalat. Dan setiap salik yang menuju kepada-Nya (ilallah) mengkhususkan shalat untuk dirinya guna menggapai ketinggian maqamnya.[2]

Ketika a-Quran al-Karim mengungkapkan tentang shalat, berfirman-Nya, “Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” Dan Aku akan muncul di dalam ingatan kalian, dengan shalat yang kalian lakukan. Maka dengan shalat dan dengan mengingat-Nya, akan muncul ketenangan kalbu, sebagaimana firman-Nya, “… hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”[3] Dengan demikian, seorang pelaksana shalat akan memiliki kalbu yang tenang, tiada rasa takut terhadap selain-Nya, tidak ada seorang musuhpun baik dari dalam maupun dari luar yang akan mampu mempengaruhinya, karena seorang  yang senantiasa melakukan shalat akan senantiasa mengingat-Nya, sedangkan mengingat-Nya akan memberikan ketenangan dan kemantapan kalbu.

Tentang hikmah shalat ini, surah al-Ma’arij ayat ke 19 hingga 23 mengungkapkan firman-Nya demikian,”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat.”

Fitrah manusia mengajak ke arah tauhid, sedangkan tabiat akan menggiringnya kepada kecenderungan untuk menyimpang dari fitrah. Fitrah dihidupkan oleh para nabi, namun tabiat tidak memberikan apapun selain penyimpangan dan penyelewengan.

Sesungguhnya para pelaksana shalat telah memberanguskan tabiatnya dan menghidupkan fitrahnya, dan inilah khasiat shalat, karena ia akan menghidupkan fitrah manusia. Pelaksana shalat adalah mereka yang mampu mengendalikan tabiat liarnya, dan dengan ketenangan yang diperolehnya dari shalat, mereka akan menjadi orang-orang yang tidak pernah terjebak dalam kemalasan, tidak berkeluh kesah dalam kesulitan dan tidak kikir ketika mendapatkan kebaikan.[4] 

Telah dinukilkan dari Imam Baqir As dari Rasul saw yang bersabda. “Ketika seorang hamba Tuhan tengah berdiri untuk melakukan shalat, sesungguhnya Tuhan tengah memandangnya hingga dia menyelesaikan shalatnya. Dia berada dalam lindungan rahmat Ilahi dari atas kepalanya hingga ufuk langit, para malaikat akan mengitarinya dan Tuhan akan memerintahkan kepada para malaikat untuk mengatakan, “Wahai para pelaksana shalat, jika kalian mengetahui siapa yang memandang kalian dan dengan siapa kalian bermunajat, maka kalian tidak akan mempedulikan selain-Nya dan tidak akan memisahkan diri dari keadaan ini.”[5]

Keelokan Yusuf yang semu saja telah mampu membuat wanita fana dalam keterpesonaan[6], bagaimana dengan keelokan dan keindahan Yang Maha Indah, dimana setiap keindahan merupakan bayangan dari keindahan-Nya?[7]

Sayyidus Syuhada Husain As pada petang hari Asyura kepada Abul Fadhl Abbas bersabda, ” Malam ini adalah malam Asyura, pergilah kepada kaum itu dan katakan kepada mereka untuk memberikan kepadaku kesempatan satu malam lagi. Karena Allah swt mengetahui aku begitu mencintai shalat, dan shalat adalah kecintaan dan cahaya mata hatiku.”[8]

Ya, sementara orang-orang membanggakan diri dengan mengatakan, “Aku mendirikan shalat.” Imam dengan rendah hati mengatakan, “Aku mencintai shalat dan shalat adalah cahaya mata hatiku.” Sungguh sebuah kondisi yang sangat jauh berbeda.

Keadaan Imam Sajjad, Imam Baqir As dan para Imam As yang lain pun persis seperti ini, sehingga biasanya putra-putra mereka akan memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain. Mereka mengatakan, “Ketika ayah kami tengah melakukan shalat, beliau tidak akan lagi mempedulikan kami sehingga kami bebas untuk membuat kegaduhan yang bagaimanapun.”[9]

Suatu hari ketika Imam tengah melakukan shalat, di sekitar kediaman beliau terjadi sebuah kebakaran. Teriakan dan hilir mudik penduduk setempat yang hendak menghentikan kobaran api telah membuat suasana sedemikian gaduh. Dan hal ini berlangsung hingga akhirnya kobaran api berhasil ditaklukkan. Setelah selesai shalat, beberapa penduduk datang menghadap kepada Imam dan bertanya, “Wahai Imam, di sini tadi telah terjadi kebakaran, dan suasana sebegitu gaduh karenanya, apakah engkau tidak menyadari hal ini?” Imam bersabda, “Tidak”, bertanya, “Bagaimana bisa?”, bersabda, “Sebenarnya aku tengah memadamkan api di tempat lain, dan aku telah memadamkan api di alam sana.”[10]

Ya, yang dimaksud dengan shalat adalah kehadiran kalbu, tenggelam, dan kefanaan dzat seorang hamba secara sempurna kepada Sang Khalik, dan terpana dalam menyaksikan Sang Haq.

Akan tetapi, untuk terhubung dengan maqam ini tentu saja membutuhkan begitu banyak kerelaan dan perlawanan dimana jika sedetik saja kita terlena dan tidak menyibukkan diri dengan perintah kalbu maka kita tidak akan pernah sampai pada rahasia shalat.

Namun secara global, orang-orang bijak mengklasifikasikan rahasia shalat dalam enam tingkatan berikut:

Pertama: kehadiran kalbu yaitu tidak mengaitkan sesuatupun di dalam kalbunya selain Tuhan.

Kedua: memahami makna bacaan, dzikir, dan tasbih yang terdapat dalam shalat sedemikian hingga kalbu ketika memahami kata-kata tersebut akan bergerak bersesuaian dengan lisan.

Ketiga: mengagungkan, yaitu dalam keadaan shalatnya dia menyadari akan keagungan Tuhan yang disembahnya dan menjadikan-Nya sebagai sumber segala tujuan.

Keempat: takut, yaitu rasa ketakutan menguasai kalbunya dan ia akan berusaha semaksimal mungkin supaya tidak meremehkan dan membuat kesalahan dalam ibadahnya ini.

Kelima: harapan, kedudukan mulia dari wujud-Nya sangat jelas bagi kita dimana dengan rahmat dan kasih sayang-Nya Dia tidak pernah meninggalkan kita dan akan senantiasa mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Keenam: Malu, yaitu kita menyadari bahwa diri dan ibadah yang kita lakukan merupakan hal terkecil yang kita lakukan di hadapan-Nya. Ibadah kita pada dasarnya merupakan sebuah kerendahan diri dan penghambaan mutlak.[11]

Wahai yang budiman, ini adalah tujuan akhir dari perjalanan dan lintasan setiap salik dan koridor tempat bercakap dengan-Nya tanpa perantara, dan tempat mengulang kalimat mulia “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in“. (… hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)[12]

Ya Allah! Seumpama pohon, gapaian tangan ini tak akan mampu meraih langit kedua-Mu, dan seumpama burung akal ini tak mampu mengepakkan sayapnya hingga ke ketinggian jamal dan keindahan-Mu. Ilahi, siapakah yang akan mampu memahami keagungan-Mu dengan pemahaman akal kecil kami, dan hingga dimanakah kami akan berhasil merayap di puncak keindahanmu dengan keranjang bekal kami? Ilahi, tempatkan kami di antara pepohonan yang akar-akarnya memenuhi tanah perkebunan, yang kobaran cintanya kepada-Mu telah memberanguskan kalbu-kalbu dan yang aroma mewangi keindahan-Mu telah menerbangkan pikiran-pikiran ke puncak kulminasi. Yaitu mereka yang berdatangan ke tanah penggembalaan untuk mendapatkan-Mu, meneguk minuman dari mata air cinta-Mu dengan cawan-cawan kasih-Mu. Mereka yang menetap di sisi rumah-Mu, meminum air kehidupan dari tetesan-tetesan air rahmat-Mu dan mengenalan busana-busana halus dari kelembutan-Mu.[13]

Imam Sajjad As dalam salah satu munajatnya bersabda, “Ilahi, berikanlah kepadaku keindahan dan manisnya mengingat-Mu”[14]

Karena kita tidak merasakan manisnya menginga-Nya-lah sehingga kita menganggap shalat hanyalah sebuah persoalan yang biasa. Tentang kenapa meskipun kita melakukan shalat akan tetapi tidak merasakan keindahan cahaya yang dipancarkannya adalah karena kita tidak melakukan shalat dengan adab-adab, irfan dan pengetahuan akan rahasia-rahasia yang dimilikinya.Amirul Mukminin Ali As dalam Nahjul Balaghah menukilkan dari Rasul saw yang bersabda, “Aku heran dengan seseorang yang memiliki mata air di dalam rumahnya dan membersihkan diri dengan mandi sebanyak lima kali sehari namun tetap saja berdaki dan kotor.”  Karena sesungguhnya shalat seperti mata air yang jernih dimana para pelaksananya seakan membersihkan dirinya di dalamnya dengan shalat yang dilakukannya sebanyak lima kali sehari.

Shalat merupakan sebuah telagadan kautsar dimana manusia membersihkan dirinya. Jika dari shalat kita tidak merasakan kesuciannya maka harus kita terima bahwa shalat yang kita lakukan bukanlah shalat yang hakiki. Bisa saja shalat yang kita lakukan adalah sah dan benar, akan tetapi tidak diterima di sisi-Nya, karena ciri-ciri shalat yang diterima adalah shalat yang mampu membersihakan ruh dan jiwa. Dan manusia akan mampu memfokuskan kalbunya dalam shalat ketika dia telah berhasil menguasai mata dan telinganya di luar shalat.

Intinya, shalat merupakan even pertemuan dan berkhalwat dengan sang Mahbub. Sebuah akhir dari perjalanan untuk menikmati wajah yang Dicinta dan saat-saat untuk terhubung dengan Yang Agung. Kehadiran di hadapan-Nyalah yang kadangkala menggerakkan lisan untuk menggumamkan puja puji dan syukur dan menampakkan ketakmampuan diri.

Wahai yang budiman, bagaimana orang yang tidak memiliki kekasih, tidak mengenal keindahan dan keagungannya, tidak memberikan kalbu dan menerima ajakannya, melainkan tidur, malas, dan beratnya makanan serta kerasnya hati telah mengisi kesehariannya … akan bergelora ketika menunggu pertemuan dengannya, akan bergetar dan berubah pucat pasi ketika berdiri di hadapannya? Dan selama kesibukan masih merajai dan mengikat kaki tuk melangkah, siapakah yang akan berhasil untuk melakukan pertemuan dengan selainnya?

Tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan dan tumbuhnya para remaja dalam sebuah keluarga yang kadangkala merupakan sebuah taman yang indah berbunga dan pada saat lainnya terselimuti awan sangat berpengaruh dalam membentuk karakteristik dan lintas kehidupan mereka.

Jadi, tidak benar jika dikatakan seluruh remaja dan kawula muda memalingkan diri dari pertemuan dan ziarah dengan Sang Ma’bud, karena lihatlah betapa berderet saff-saff yang menunggu di pusat-pusat ilmu dan agama. Shaf-shaf yang setia menunggu detik-detik indah shalat berjamaah. [Terjemahan makalah Ayatullah Hadawi Tehrani]


[1] . Qs. Thaha: 14.

[2] . Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah, Sarr as- Shalat, Muasese-ye Tandzim wa Nasyr Atsar-e Imam, hal. 5.

[3] . Qs. Ar-Raad: 28.

[4] . Jawadi Amuli, Abdullah, Hikmat-e Ibadat, hal. 95.

[5]Man La Yahdhurul Faqih, jil. 1, hal. 210, hadis ke 636.

[6] . Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkannya kepada dirinya …” (Qs. Yusuf: 23)

[7] . Sabzewari, Mulahadi, Asrarul Hekam, hal. 528.

[8] . Maqtalul Husain As, hal. 232.

[9] . Anwarul Bahiyyah, hal. 49.

[10] . Biharul Anwar, jil. 46, hal. 78.

[11] . Meqdadi Ishfahani, Ali, Nesyan az bi Nesyanho, jil. 1, hal. 325.

[12] . Qs. Al-Fatikhah:5.

[13] . Syaja ‘i, Daste doa Cisym-e Umid, munajad ke 12.

[14] . Mafatihul Jinan, Munajat Khamsah ‘Asyar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s