Sumber-sumber Pemikiran dalam Islam

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir. Al-Qur’an bukan saja menunjukkan penyebab kesalahan berpikir, namun juga memerinci hal-hal yang patut dipikirkan, dan yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan dan informasi. Pada umumnya Islam menentang penggunaan energi untuk masalah yang tak dapat dikaji dengan saksama atau, kalau pun dapat, tidak bermanfaat bagi manusia. Nabi Muhammad saw menganggap sia-sia pengetahuan yang kalau didapat tak ada manfaatnya, dan kalau tak memilikinya tak ada mudaratnya. Di lain pihak, Islam mendorong manusia untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat dan dapat diteliti. Al-Qur’an menyebutkan tiga hal yang bermanfaat kalau dipikirkan: alam semesta, sejarah, dan hati nurani manusia.

a. Alam Semesta

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, benda-benda alam seperti bumi, langit, bintang, matahari, bulan, mendung, hujan, gerakan angin, bahtera yang berlayar di lautan, tumbuhan, binatang, dan segala yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia lewat indera, disebut sebagai hal-hal yang layak dipikirkan dalam-dalam dan disimpulkan. Sebagai contoh kami kutipkan sebuah ayat Al-Qur’an:

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus: 101)

b.Sejarah

Banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk mengkaji generasi dahulu, dan menggambarkan kajian seperti itu sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dari sudut pandang Al-Qur’an, segenap perkembangan sejarah manusia berlangsung mengikuti hukum dan norma yang sistematis. Segenap kejadian sejarah yang melibatkan kehormatan dan aib, kesuksesan dan kegagalan, nasib baik dan nasib buruk, memiliki aturannya yang pasti dan sempuma. Dengan mengetahui aturan dan hukum ini, sejarah masa kini dapat dikendalikan ke arah yang menguntungkan generasi sekarang. Misal, sebuah ayat Al-Qur’an memfirmankan:

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah. Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan kebenaran wahyu. (QS. Âli ‘Imrân: 137)

c. Hati Nurani

Al-Qur’an Suci menyebut hati nurani sebagai sumber khusus pengetahuan. Dari kacamata Al-Qur’an, segenap makhluk mengandung ayat-ayat Allah dan kunci untuk menemukan kebenaran. Al-Qur’an menggambarkan alam di luar diri manusia sebagai “cakrawala” dan alam di dalam diri manusia sebagai “diri”, dan dengan demikian Al-Qur’an menanamkan dalam diri manusia nilai penting khusus hati nurani. Itulah sebabnya kata “cakrawala” dan “diri” lazim termaktub dalam literatur Islam.[1]

Ada kalimat yang terkenal di dunia. Kalimat ini berasal dari Filosof Jerman bernama Kant, dan tertulis di batu nisannya:

“Ada dua hal yang sangat mengundang decak kagum manusia; langit berbintang di atas kepala kita, dan hati nurani di dalam diri kita.”

Al-Qur’an Suci memfirmankan pula:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka, tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. (QS. Fushshilat: 53)


[1] Kami akan memperlihatkan kepada mereka, tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. (QS. Fushshilat: 53)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s