Menapaki Jalan Spiritual: Syariat, Tharikat, dan Hakikat

Oleh: Mohammad Adlany

Dalam pandangan irfan, manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual ia kembali ke tempat asalnya, menyirnakan jaraknya dengan Dzat Tuhan, dan meniadakan dirinya sendiri dengan kedekatan kepada-nya (fana dalam asma dan sifat Tuhan) serta mengabadikan dirinya dengan kebersamaan dengan-Nya (baqa dengan dzat-Nya). Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.” (Qs. Insyiqaq: 6)

Oleh karena itu, sair suluk irfani bersifat senantiasa bergerak dan tidak konstan. Gerak dan perjalanan ini memiliki awal dan akhir, derajat dan tingkatannya yang harus dilewati dan ditapaki. Adalah sangat mungkin menggapai “hakikat” kesempurnaan manusia dan maqam kedekatan kepada Tuhan dengan melewati “tharikat” yang merupakan batin “syariat”. Dari dimensi ini, kita akan menemui kata-kata seperti “syariat”, “tharikat”, dan “hakikat” dalam ungkapan-ungkapan para urafa. Baca lebih lanjut

Pengertian ‘Arsy dan “Kursi”

Oleh: Mohammad Adlany

Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis, para penafsir al-Quran memberikan beberapa kemungkinan makna terhadap ‘arsy dan kursi.
‘Arsy secara literal berarti tahta, singgasana kerajaan dan tahta Rabbul ‘Alamin yang tidak bisa didefinisikan.[1] ‘Arsy pada prinsipnya berarti sesuatu yang memiliki atap, dan jamaknya adalah ‘urusy. Tempat duduk raja juga di sebut ‘arsy. Ini karena melihat ketinggiannya.[2]

Kursi adalah tahta, ilmu, pengetahuan, harta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.[3] 
Dalam Al-Quran, selain langit, bumi dan apa yang ada diantara keduanya, terdapat pula dua eksistensi lain dengan nama ‘arsy dan kursi.
Mengenai pengertian kata ‘arsy dan kursi, dengan menggunakan ayat-ayat dan riwayat-riwayat dari para Imam Ahlulbait Nabi As, para penafsir al-Quran menyatakan kemungkinan-kemungkinan berikut: Baca lebih lanjut

Kehendak Ilahi dan Kecenderungan Manusia kepada Keburukan

Oleh: Mohammad Adlany

Ayat yang menjadi poin pembahasan adalah ayat ke 29 surah at-Takwir, “Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam“, dan ayat yang mirip dengan ayat ini terdapat pula pada sebagian ayat ke 30 surah Ad-Dahr (Al-Insan), Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Begitu pula pada ayat ke 19 surah al-Muzammil, “Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang dapat menyampaikan dirinya) kepada Tuhan-nya.

Berikut ini kami akan menganalisa ketiga ayat tersebut: Baca lebih lanjut

Fath al-Mubin Seorang Arif dan Ragam Manifestasi Ilahi

Oleh: Mohammad Adlany

Fath al-Mubin (kemenangan nyata) sesuai dengan manifestasi suatu sifat Ilahi dan berkaitan pula dengan pembahasan “wilayah” umum Ilahi dan fana. Dan dengan menjabarkan macam-macam “wilayah” Ilahi, empat tahap perjalanan (suluk) para urafa, tingkatan fana, dan tahapan kiamat personal (kiamat yang dialami oleh setiap orang) akan menjadi jelas bahwa kemenangan nyata bersesuaian atau merupakan hasil dari manifestasi tauhid perbuatan dan sifat Tuhan.

Pada tingkatan ini, walaupun kiamat kubra (besar) tidak terjadi pada arif, karena terjadinya kiamat semacam ini berhubungan dengan maqam “khafi (tersembunyi)” dan “akhfa (paling tersembunyi)” atau maqam “au adna” yang terkait “wilayah” khusus Ilahi dengan manifestasi Zat Ilahi dan kemenangan mutlak, akan tetapi hal itu bisa terwujud pada tingkatan terjadinya kiamat terendah yakni hadirnya “wajah” Allah dalam bentuk tauhid perbuatan dan sifat dalam tingkatan fana yang terendah dan “wilayah” umum Ilahi dalam kemenangan yang dekat (qarib) dan nyata (mubin). Baca lebih lanjut

Jalan Menuju Kesempurnaan

Oleh: Mohammad Adlany

Tema di atas bisa dipaparkan dalam empat bagian, yaitu: a. Definisi dari kata “sempurna” dan perbedaannya dengan kata “terpenuhi” dan “berkembang”; b. Kesempurnaan manusia; c. Kesempurnaan manusia dari perspektif Islam; dan d. Jalan menuju kesempurnaan.

  1. Definisi kata “sempurna” dan perbedaannya dengan kata “terpenuhi” dan “berkembang”.

Kata “sempurna” kadangkala diartikan dengan makna yang sinonim dengan kata “terpenuhi”, dan kadangkala dengan pengertian selain itu, namun bagaimanapun, lawan kata keduanya adalah “kurang”, sebagaimana halnya lawan kata “terpenuhi” adalah “kurang”.

Yang dimaksud dengan kesempurnaan adalah murni aktual (segalanya ada secara aktual), ketiadaan potensi atau keberadaan sifat-sifat yang mesti dimiliki oleh sesuatu. Kesempurnaan adalah kepemilikan segala hal yang mungkin dan layak untuk dimiliki oleh sesuatu. Dengan perkataan lain, kesempurnaan adalah titik akhir dan tingkatan akhir setiap sesuatu, atau keberadaan sifat-sifat yang niscaya dimiliki oleh sesuatu, dan persoalan-persoalan lain dalam batasan yang penting dan bermanfaat untuk sampai pada kesempurnaan hakikinya akan menjadi “kesempurnaan awal” dan “pengantar kesempurnaan” baginya.[1] Baca lebih lanjut

Kenonmaterian Malaikat

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagian ulama dan ilmuwan Muslim sepakat bahwa malaikat merupakan materi-materi yang lembut dan bercahaya, dan mampu menjelmakan dirinya dalam berbagai bentuk dan hanya para nabi serta para wali lah yang memiliki kemampuan untuk melihat para malaikat ini.

Mereka juga sepakat bahwa teori kenonmaterian malaikat bertentangan dengan lahiriah ayat-ayat dan hadis-hadis mutawatir, sebagaimana hal ini diungkapkan oleh Muhaqqiq Dawani dalam Syarh Aqaid dan Syarih Maqasid yang sepakat bahwa malaikat dalam ilmu dan kodrat merupakan sebuah eksistensi yang sempurna, siang-malam berada dalam keadaan beribadah tanpa merasa lelah atau berkeinginan untuk menentang perintah-perintah Ilahi. Baca lebih lanjut

Tentang Tasawuf dan Irfan Islami

Oleh: Bandeh Khudo

Kosa kata “tasawuf” dan “irfan” dalam banyak karya tulis digunakan dalam arti yang sinonim. Malah sebagian ulama menganggap bahwa tasawuf sinonim dengan irfan Islami. Oleh karena itu, mereka tidak membenarkan penyandaran kata itu kepada selain Islam, seperti tasawuf Kristen, tasawuf Yahudi, dan tasawuf India.

Ajaran irfan semestinya sudah ada bersama kehidupan manusia. Jika seseorang tidak menginginkan akalnya hanya terbatasi oleh materi dan memandang dunia ini sebagai materi semata, begitu apabila ia tidak ingin melihat bahwa dunia ini hanya bersifat rasional, dan pada waktu yang sama, ia juga tidak menafikan wujud materi, sebenarnya ia telah memiliki pola pemikiran irfani. Ya, tidak seluruh irfan memiliki substansi ajaran agama, baik dahulu maupun sekarang. Baca lebih lanjut

Maqam Fana dalam Irfan

Oleh: Mohammad Adlany

Fana dalam makna leksikalnya adalah ketiadaan dan kehancuran. Dan lawan dari fana adalah baqa, abadi, dan tetap ada. Seperti Tuhan termasuk kategori abadi dan baqa, sementara selain-Nya atau seluruh makhluk digolongkan ke dalam ketiadaaan, kehancuran, dan fana. Kata fana digunakan dalam al-Quran, walaupun sebagian dari derivatnya yang diaplikasikan, seperti: “Segala sesuatu akan hancur dan yang tinggal wajah Tuhanmu,” Tuhan dalam ayat ini meletakkan kata “fanin” (hancur) berhadapan dengan kata “yabqa” (yang tetap, yang tinggal, dan abadi), yang bermakna bahwa hanya Tuhanlah yang selamanya ada dan baqa, sementara segala sesuatu selain-Nya adalah hancur dan sirna.

Sedangkan fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak memandang, tidak memperhatikan, dan tidak menyaksikan keberadaannya sendiri. Yang pasti hal ini tidak berarti asing terhadap dirinya sendiri, namun lebih bermakna bahwa seseorang yang hadir di sisi Tuhan sama sekali tidak melihat eksistensi dirinya sendiri dan dia meniadakan segala sesuatu selain-Nya di dalam hatinya. Baca lebih lanjut

Mengapa Manusia Cenderung Kepada Duniawi?

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagaimana di alam natural, gerak menurun (nuzuli) lebih mudah daripada gerak menaik (shu’udi). Hukum ini pula berlaku dalam gerak dan suluk pada perkara-perkara maknawi, spiritual, dan akhlak. Dalam istilah qurani, gerak dan proses menaik dikatakan senantiasa bersama dengan usaha, upaya, dan derita. Tuhan berfirman dalam al-Quran surah Insyiqaq ayat keenam, “Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.”

Sementara di alam dunia -dikatakan dunia karena wujud dan  hakikatnya sangat rendah dari segala sesuatu- dan kecenderungan kepada hawa nafsu maka cukuplah manusia menutup matanya dari kesempurnaan-kesempurnaan, kesucian-kesucian, fitrah, dan akal. Baca lebih lanjut

Hikmah Penciptaan Iblis

Oleh: Mohammad Adlany

Tuhan Yang Maha Bijaksana mendasarkan segala perbuatan-Nya pada suatu hikmah yang sempurna. Oleh karena itu, seluruh makhluk yang diciptakan-Nya berdasar pada hikmah Ilahi yang sempurna dengan memberikan bentuk dan kondisi yang terbaik yang sesuai dan layak bagi hakikat mereka.[1]

Penciptaan setan yang dari api pun berpijak pada hikmah Ilahi. Setan adalah salah satu jenis jin yang tercipta dari api yang memiliki material yang lembut dan halus. Dalam sebuah klasifikasi global, materi atau jism terbagi menjadi dua: Baca lebih lanjut

Akal dan Cahaya Muhammad, Ciptaan Pertama Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Akal, yang dalam istilah agama dan al-Qur’an adalah malaikat, adalah sebuah substansi yang mujarrad (non materi) sempurna, baik secara dzat maupun secara perbuatan. Dia bukan saja non materi dan non jasmani, bahkan juga tidak membutuhkan keberadaan badan atau jasmani untuk melakukan aktifitas-aktifitasnya, walaupun hanya sebagai sarana saja, baik di alam tabiat (alam materi) maupun di alam metafisik. Eksistensi non materi semacam ini dinamakan juga dengan “eksistensi non materi sempurna”.

Tentu saja, eksistensi yang non materi murni ini tidak boleh disalah artikan dengan akal manusia yang dipergunakan untuk berpikir dan merupakan salah satu dari fakultas jiwa mereka, meskipun jiwa manusia pada tahapan ta’aqqul (pemahaman universal, intelektual) memiliki hubungan dan berinteraksi dengan eksistensi-eksistensi non materi dan alam akal ini, serta bisa menggapai alam tersebut sesuai dengan kapabilitas wujudnya.

Dalam sistem eksistensi, terdapat sebuah alam yang bernama “alam akal” dan alam ini merupakan perantara bagi terbentuknya alam yang lebih bawah. Baca lebih lanjut

Islam dan Lingkungan Hidup

Oleh: Mohammad Adlany

Agama Islam adalah agama yang komprehensif dan lengkap. Jelas dengan karakteristik ini Islam memperhatikan seluruh kebutuhan hidup manusia dan memiliki aturan-aturan untuk seluruh persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan hidup manusia baik secara individu maupun sosial.

Diantara persoalan yang mendapatkan perhatian Islam hingga kini adalah metode kehidupan sosial dan lingkungan hidup. Dikarenakan air dan udara merupakan faktor yang sangat signifikan dan pemanfaatan air serta udara yang bersih dan sehat merupakan salah satu kebutuhan primer manusia, maka berdasarkan ajaran-ajaran Islam mencemari kedua unsur ini merupakan tindakan yang haram dan termasuk salah satu dari dosa-dosa besar.  Selain itu hal ini dianggap juga sebagai sebuah tanda ketidak-syukuran terhadap nikmat Tuhan dan salah satu dari dosa yang tidak terampuni. Baca lebih lanjut

Shalat, Mi’raj Ruhani

Oleh: Mohammad Adlany

Shalat merupakan akhir dan puncak suluk setiap salik serta koridor tempat dimana seorang salik bisa berbincang dengan Tuhannya secara langsung dan tanpa perantara.

Allah swt dalam al-Quranul Karim berfirman, “Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”[1] Jika ingatan kepada-Nya telah terbentuk melalui shalat, maka kalbu manusia akan menjadi tenang, karena mengingat-Nya akan memberikan ketenangan dan keyakinan dalam kalbu, sebagaimana firman-Nya, “… hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram …”

Sesungguhnya dengan melakukan shalat, para pelaksana shalat tengah memusnahkan tabiatnya dan menghidupkan fitrahnya, karena salah satu manfaat dan khasiat dari shalat adalah menghidupkan fitrah manusia. Dengan ketenangan yang diperoleh melalui shalat, seorang pelaksana shalat tidak akan pernah terjatuh dalam kehidupan yang lamban penuh kemalasan, dan tidak akan pernah terjungkal dalam kekacauan ketika berada dalam kesulitan. Baca lebih lanjut

Tentang Perubahan Manusia Menjadi Hewan (Maskh)

Oleh: Mohammad Adlany

“Maskh” secara literal bermakna perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lebih buruk.[1] Akan tetapi di dalam al-Quran dan istilah Islam dikatakan sebagai sebuah bentuk azab dan hukuman yang diberikan oleh Tuhan secara mukjizat kepada sekelompok masyarakat atau umat-umat terdahulu, dan efek dari mukjizat ini adalah sebagai hukuman bagi manusia, ibrah dan untuk melihat akhir dari sebuah dosa.[2]

Yang dimaksud dengan manusia mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan (seperti ke dalam bentuk monyet) adalah bentuk hewani dari dosa yang telah dilakukan diberikan kepadanya di dunia ini untuk menutupi bentuk manusianya dan mengubahnya menjadi manusia yang mengalami perubahan. Atau dengan ibarat yang lebih sederhana dikatakan sebagai manusia yang berbentuk hewan. Baca lebih lanjut