Bahasa Mistisisme dan Metamistisime (Akhir)

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi 

Pendahuluan

Dalam filsafat linguistik modern, sebuah upaya penting telah dilakukan untuk membedakan metabahasa (metalanguage) dari bahasa obyek (obyek language). Misalnya, jika saya menulis sebuah buku dalam bahasa Inggris tentan gramatika bahasa Jerman, maka bahasa Inggris menjadi metabahasa dan bahasa Jerman menjadi bahasa obyek yang dibicarakan dalam bahasa Inggris.

Dalam hal ini, bahasa Inggris, yang berfungsi sebagai metabahasa, mengambil bahasa Jerman sebagai obyek. Metabahasa akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang obyeknya, dan kemudian berupaya untuk menjawabnya secara sistematis. Dalam kenyataannya, bahasa Jerman hanya akan menjadi bahasa obyek jika ada suatu metabahasa yang mengambil bahasa Jerman sebagai obyek perbincangan. Jika saya menulis sebuah buku tentang tata bahasa Inggris dengan menggunakan bahasa Inggris, maka bahasa Inggris menjadi metabahasa sekaligus bahasa obyek. Tentu saja, ini bisa hanya jika bahasa obyek tersebut memiliki sarana ungkapan yang cukup kaya untuk berbicara tentang dirinya sendiri. Baca lebih lanjut

Sistem Emanasi dan Mistisisme [12]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi 

Teori Emanasi[1]

Karena sebagaimana telah kami tunjukkan bahwa teori “kehadiran dengan penyerapan”[2] kami didasarkan sepenuhnya pada analisis emanasi, maka kami harus membahas hubungan “menurun” antara Prinsip Pertama (baca: Tuhan) dan tindak emanatifnya (manifestasi-manifestasi-Nya di alam ) di satu pihak, dan hubungan “menaik” di antara emanasi itu sendiri (yakni derajat-derajat manifestasi-Nya yang ada di alam) dengan Prinsip Tertinggi (baca: Tuhan) di lain pihak. Baca lebih lanjut

Ilmu Hudhuri dan Kesatuan Mistikal [11]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Makna Rangkap tentang “Kehadiran”

Kita telah sampai pada pemahaman bahwa apapun yang benar bagi emanasi juga benar bagi penyerapan, dan apapun yang berpaku pada penyerapan juga berlaku pada emanasi. Kita juga telah tahu bahwa Tuhan mengetahui melalui kehadiran apa yang telah beremanasi dari Diri-Nya. Artinya, suatu wujud emanatif semisal diri, yang keluar dari Tuhan dan terserap dalam cahaya yang melimpah dari Wujud-Nya, adalah hadir di dalam Tuhan. Karena itu, Dia mengetahui diri tidak melalui semacam kehadiran identitas diri seperti Dia mengetahui Diri-Nya sendiri, melainkan identitas diri seperti Dia mengetahui Diri-Nya sendiri, melainkan dengan kehadiran supremasi-Nya atas emanasi yang melimpah sebagai tindak imanen-Nya. Dengan cara ini pulalah diri mengetahui tubuh, imajinasi, dan fantasinya melalui kehadiran dengan supremasi kausal. Jadi, suatu emanasi hadir dalam supremasi eksistensial sumbernya sendiri; dan begitu juga dengan ekuivalensi antara emanasi dan penyerapan, yang terserap hadir dalam yang menyerap, yaitu Tuhan. Baca lebih lanjut

Pengetahuan Hakiki

Oleh: Mohammad Adlany

Pengetahuan dan makrifat hakiki yang sebagaimana telah didefinisikan terdahulu, dalam artikel kami yang berjudul “Defenisi Pengetahuan [1]”, memiliki rukun-rukun seperti, keyakinan yang konstan, kesesuaian (objektivitas), dan realitas itu sendiri (nafs al-amr).

Di bawah ini akan kami jelaskan rukun-rukun tersebut.

A. Keyakinan dan Kebenaran

Keyakinan yang berhubungan dengan keraguan, khayalan, dan sangkaan terdapat dua dimensi. Keyakinan bahwa A adalah B dan keyakinan bahwa kalau tidak seperti itu adalah kekeliruan. Inti dari kedua bentuk ini adalah keyakinan dalam khayalan dan keyakinan dalam kesalahan. Ia memiliki keyakinan atas suatu realitas, namun pada hakikatnya, keyakinannya itu adalah keliru dan salah. Selain keyakinan bentuk itu, terdapat keyakinan lain seperti kalau dikatakan bahwa 2 + 2 = 4, keyakinan ini juga memiliki dua bentuk: yakin bahwa penjumlahan tersebut adalah benar dan yakin bahwa kalau tidak seperti itu merupakan kesalahan dan kekeliruan. Karena kalau keyakinan kedua ini adalah salah, maka niscaya keyakinan pertama adalah juga keliru.[1] Baca lebih lanjut

Tentang Ilmu Hushuli [10]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Apabila ada dua eksistensi yang mandiri dan independen sedemikian rupa sehingga keadaan eksistensial yang satu sama sekali tidak berkaitan dengan atau berasal dari yang lain, dan konsekuensinya tidak ada hubungan kausalitas yang konstan antara keduanya, maka tampaknya adalah benar kalau dikatakan bahwa yang satu “mutlak netral” dalam hubungannya dengan yang lain. Cara lain untuk menyatakan hal ini adalah bahwa kedua wujud yang berbeda ini “berjauhan” secara eksistensial dari yang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan dan ditafsirkan bahwa keduanya secara eksistensial absen dari dan tidak hadir bagi atau tidak bersatu dengan yang lain.

Di sini, seperti yang telah ditunjukkan, kata “ketidakhadiran” yang sangat sering dipakai dalam teknik linguistik filsafat Iluminasi, berarti bahwa tidak ada kaitan dan hubungan logis, ontologis, atau bahkan epistemologis antara kedua eksistensi tersebut, yang dianggap berada dalam situasi dan kondisi wujud yang sama sekali berbeda. Ungkapan “mutlak netral” karenanya adalah ungkapan yang sah untuk menamai pengertian ketidakhadiran yang khusus seperti itu. Baca lebih lanjut

Tentang Ilmu Hudhuri [9]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Dari pembahasan terdahulu berhubungan dengan pengertian ganda obyektivitas (yakni pengetahuan itu memiliki dua obyek, obyek esensial dan obyek aksidental), dapat disimpulkan secara langsung bahwa kita bisa membedakan dua obyek pengetahuan. Pendapat bahwa dengan demikian pengetahuan bisa dibagi menjadi ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) dan ilmu hushuli[1] (pengetahuan dengan korespondensi), yang merupakan pokok pembicaraan kita sekarang, betul-betul dapat dipahami dan dimengerti apabila kita telah memutuskan bahwa terdapat dua obyek pengetahuan yakni obyek subyektif yang esensial (yang berada di alam pikiran) dan obyek obyektif yang aksidental (yang berada di alam eksternal). Baca lebih lanjut

Dimensi Irfan dalam Teori Ilmu Hudhuri [8]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Faktor prinsipil dan fundamental dalam kelogisan dan luasnya popularitas filsafat Iluminasi adalah ilmu bahasa pengetahuan mistik (makrifat irfan).[1] Ilmu dan makrifat ini dipelopori dan dikembangkan oleh Ibn Al-Arabi (1165-1240). Sebagaimana akan ditunjukkan di dalam pembahasan ini, Irfan mesti diposisikan sebagai ilmu bahasa pengetahuan mistik, dan merupakan ungkapan pengalaman-pengalaman mistik baik dalam perjalanan mi’raj yang introvertif (perjalanan internal kejiwaan secara menaik) maupun proses penurunan yang ekstrovertif (proses pengenalan mistik terhadap hakikat-hakikat eksternal). Segala usaha dan upaya telah dilakukan untuk mengidentifikasi Irfan sebagai sebuah pengetahuan yang mandiri dan berbeda dari filsafat, teologi (kalam), dan agama. Baca lebih lanjut

Gagasan Para Filosof tentang Pengetahuan [7]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Gagasan Al-Farabi tentang Bentuk-bentuk Ilahiah dan Pengetahuan Tuhan

Abu Nashr al-Farabi (kira-kira 870-950 M) biasa dikenal sebagai Guru Kedua dan mempunyai otoritas terbesar sesudah Aristoteles (baca: Guru Pertama). Dia menjadi terkenal karena telah memperkenalkan gagasan “harmonisasi perspektif Plato dan Aristoteles”. Dan dia memulai wacananya sendiri dengan gagasan-gagasan Plato tentang urgennya menempatkan harmonisasi seperti itu pada prinsip-prinsip dasar filsafat. Al-Farabi berkeyakinan bahwa Aristoteles secara kategoris telah menolak keberadaan ide-ide Plato (mutsul, alam ide), tapi ketika Aristoteles pada masalah teori ketuhanan dan gagasan tentang “sebab pertama” alam semesta, dia menemukan dirinya berhadapan dengan permasalahan sulit yang menyangkut Bentuk-bentuk Ilahiah, yang eksistensinya, tak diragukan lagi mesti diasumsikan berada dalam Akal Tertinggi Sebab Pertama. Bentuk eksistensi ini tentu saja dicirikan oleh semua deskripsi yang diberikan mengenai wujud nyata Bentuk-bentuk oleh Plato. Baca lebih lanjut

Sejarah Ilmu Hudhuri [6]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Merupakan realitas yang sangat logis dan jelas bahwa apabila filsafat ingin menegakkan integritas dan kesatuan sistematis penalaran akal manusia, maka dia perlu menyatukan semua bentuk, kerangka, dan manifestasi pengetahuan serta mendudukkannya kepada kekuatan penilaian kesadaran intelektual manusia yang menduduki posisi paling utama. Dalam upaya merealisasikan pekerjaan yang begitu rumit ini, filsafat Barat modern sejak awal telah termotivasi untuk menyingkirkan klaim-klaim kesadaran tertentu dari ranah dan wilayah pengetahuan manusia, dan menggolongkannya sebagai sebuah ungkapan gairah atau lompatan-lompatan imajinasi belaka. Hal ini dilakukan supaya logika-logika filsafat tidak mengalami kekacauan, kerancuan, dan mengakibatkan disintegrasi kesadaran dan pengetahuan mendasar. Sebagai contoh, karena pengalaman-pengalaman mistik dipahami dan dijelaskan dengan kualitas-kualitas rasional dalam artian bahwa pengalaman-pengalaman mistik tersebut yang melahirkan klaim tertentu tentang kesadaran dan pengetahuan hakiki terhadap dunia realitas, dengan demikian penyelidikan dan pengkajian filosofis diberi tanggung jawab untuk menegaskan kebenaran atau kepalsuan pengalaman-pengalaman mistik tersebut dimana sebagai kemungkinan bagi sumber pengetahuan lain selain dari akal manusia. Sementara hal yang sama bisa dikatakan mengenai masalah pengetahuan dan kesadaran tentang diri sendiri, masalah pengetahuan kita tentang penginderaan dan perasaan kita, pengetahuan kita tentang fakultas-fakultas pemahaman kita, dan pengetahuan kita tentang tubuh kita, penalaran teoritis dituntut untuk memeriksa kedudukannya dalam seluruh bahasan dan kajian filosofis mengenai kesadaran dan makrifat manusia. Akan tetapi, filsafat modern sangat mengecam dimasukkannya spesies-spesies pengetahuan yang bersumber dari pengalaman mistik ini ke dalam batang tubuh pemikirannya demi mempertahankan kesatuan pemahaman rasional. Sekalipun begitu, pengabaian filsafat terhadap jenis pengetahuan intuitif ini tidaklah berarti bahwa filsafat telah membuktikan ketidakbenaran dan ketidakvalidan jenis-jenis pengetahuan ini. Baca lebih lanjut

Jenis Obyek yang Terlibat dalam Konsep Pengetahuan [5]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Penjelasan lebih jauh tentang pengertian ganda obyektivitas memerlukan penyuguhan analisis mengenai proposisi yang biasanya diajukan manakala orang mempunyai pengetahuan fenomenal yang biasa tentang sebuah obyek eksternal, yakni jenis pengetahuan yang nanti akan kita sebut pengetahuan dengan korespondensi.

Andaikan kita mempunyai pernyataan utama:

A. S mengetahui P

Selagi pernyataan utama ini berlaku, ia bisa dianalisis menjadi tiga sub pernyatan analitis, yang masing-masing menggambarkan sebuah komponen bagian dari hakikat mengetahui. Ketiga komponen tersebut adalah: Baca lebih lanjut

Dua Obyek Pengetahuan: Obyek Esensial dan Aksidental [4]

Oleh: Mahdi Hairi Yazdi

Pengertian Obyek Esensial

Apabila dalam pemahaman Aristotelian tentang intensionalitas[1] terdapat pembenaran untuk membedakan dua jenis perbuatan manusia, yaitu ‘perbuatan imanen’ dan ‘perbuatan transitif’, maka tampaknya tak ada yang menghambat kita untuk mengambil garis yang sama dengan membedakan dua jenis obyek yang sebanding, yaitu “obyek esensial atau obyek imanen”[2] dan “obyek aksidental atau obyek transitif”[3].

Distingsi ini tidak dilandaskan pada penyamaan dan sewenang-wenang atas penjabaran Aristotelian yang termasyhur mengenai dua perbuatan dan aksi yang berbeda tersebut dengan distingsi sementara kami antara dua sistem obyektivitas. Kami memahami secara prima facie, bahwa identifikasi yang tak layak seperti ini tidak bisa diterima, karena suatu perbuatan dan tindakan, yang imanen maupun yang transitif, tidak pernah dapat diaplikasikan dan diterapkan kepada obyek-obyek tindakan tersebut. Walaupun demikian, adalah niscaya bahwa suatu tindakan imanen seperti halnya pengetahuan da makrifat kita, bisa dianalisis secara sangat logis menjadi subyek yang mengetahui (‘âlim) dan obyek yang diketahui (ma’lum). Dengan demikian, anatomi obyek yang diketahui pada gilirannya bisa dianalisis menjadi obyek internal dan obyek eksternal. Manakala analisis kita sampai pada tahap ini, tanpa keraguan sedikitpun, kita boleh merasa berhak untuk mencirikan dengan sah obyek internal sebagai obyek imanen dan obyek eksternal sebagai obyek transitif. Baca lebih lanjut

Sumber Pengetahuan [3]

Oleh: Mohammad Adlany

Titik fokus dalam pembahasan kali ini adalah dengan apakah manusia memperoleh pengetahuan dan makrifat? Berapa jumlah sumber yang mungkin bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan hakiki dan mengenal objek-objek eksternal?

Berhubungan dengan sumber pengetahuan tersebut terdapat dua kelompok yang mempunyai perspektif berbeda, kelompok yang hanya percaya pada satu sumber dan kelompok yang berpegang kepada beberapa sumber. Terdapat tiga aliran yang hanya berpijak pada satu sumber saja, yakni Positivisme, Rasionalisme, dan Iluminasionisme. Positivisme adalah suatu aliran yang hanya percaya pada indra-indra lahiriah sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Rasionalisme merupakan paham yang hanya berpegang pada akal dan proposisi-proposisi rasional sebagai asal makrifat hakiki. Sementara Iluminasionisme sebagai suatu isme yang memandang bahwa hanya hati dan kalbu serta pensucian jiwa adalah satu-satunya sumber bagi manusia untuk menggapai pengetahuan, makrifat, dan ilmu hakiki terhadap objek-objek dan realitas-realitas eksternal.[1] Baca lebih lanjut

Probabilitas Pengetahuan [2]

Oleh: Mohammad Adlany

Salah satu pembahasan yang cukup mendasar dalam wilayah dan domain pengetahuan adalah apakah pengetahuan dan makrifat itu bersifat mungkin? Apakah kita bisa meraih pengatahuan tentang alam, manusia, dan segala sesuatu?

Ketahuilah bahwa probabilitas dan kemungkinan pengetahuan merupakan poin yang tidak akan pernah diingkari oleh orang-orang berakal. Setiap individu dalam sehari senantiasa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang perkara-perkara yang dibutuhkannya atau seseorang berupaya dengan sebaik dan sesempurna mungkin untuk menghadirkan satu atau beragam disiplin ilmu dan pengetahuan tertentu. Setiap manusia menjalani kehidupannya dengan berpijak pada ribuan gambaran-gambaran yang terdapat dalam pikirannya dan berkeyakinan bahwa di luar alam pikiran ini terdapat alam lain yang hakiki dan realitas-realitas yang mandiri dimana gambaran-gambaran pikiran tersebut merupakan pencerminan terhadap apa-apa yang terdapat di alam eksternal. Tak satupun manusia yang berakal sehat meragukan keberadaan alam eksternal tersebut, begitu pula tak satupun meragukan bahwa dia mengetahui sesuatu dan dapat memahami sesuatu. Baca lebih lanjut

Definisi Pengetahuan [1]

Oleh: Mohammad Adlany  

Dengan memperhatikan pembahasan sebelumnya, menjadi jelaslah bahwa langkah pertama yang mendasar dalam kajian-kajian epistemologi adalah penguraian terperinci, mendetail, dan akurat atas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan substansi dan definisi pengetahuan. Dengan demikian, sebelum menjelaskan dan memaparkan perkara-perkara ini, pembahasan-pembahasan utama epistemologi dan rukun-rukunnya tidak akan pernah menjadi jelas dan nyata.

Definisi Pengetahuan  

Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran. Dalam komunikasi keseharian, kita sering menggunakan kalimat seperti, “Saya terampil mengoperasikan mesin ini”, “Saya sudah terbiasa menyelesaikan masalah itu”, “Saya menginformasikan kejadian itu”, “Saya meyakini bahwa masyarakat pasti mempercayai Tuhan”, “Saya tidak emosi menghadapi orang itu”, dan “Saya mempunyai pikiran-pikiran baru dalam solusi persoalan itu”. Baca lebih lanjut