Nilai Kehidupan Menurut Al-Quran

Oleh: Mohammad Adlany

Untuk menganalisa pandangan al-Quran tentang kehidupan, maka pada langkah awal, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana al-Quran memberikan pandangannya tentang dunia. Sehubungan dengan ini, ada dua pendapat penting yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:

Salah satunya adalah teori-teori yang dilontarkan oleh kebanyakan pemeluk agama Hindu dan mayoritas pengikut tasawuf, mereka beranggapan bahwa dunia tidaklah memiliki nilai dan arti apapun serta bukan merupakan suatu hal yang penting dan fundamental untuk diperhatian, dengan keyakinan dan kepercayaan yang dimilikinya ini mereka mengajarkan kepada murid-murid dan para pengikutnya untuk menyepi, bertapa, mengasingkan diri, dan menghindarkan diri dari keramaian masyarakat. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengapa Manusia Pesimis dalam Hidup?

Oleh: Mohammad Adlany

Terdapat dua faktor umum yang mendorong manusia menganut Nihilisme:

  1. Faktor internal atau individual;
  2. Faktor eksternal atau sosial.     

Adalah tidak diragukan bahwa dalam kerangka pengenalan manusia mustahil dipisahkan dari pengaruh individu dan masyarakat, karena keduanya saling berpengaruh satu sama lain dan kalau faktor-faktor di atas dibagi menjadi dua bagian tidak lain adalah semata-mata karena intensitas efek dan pengaruh faktor yang satu atas faktor lainnya. Faktor-faktor internal seperti ketiadaan atau kesalahan dalam pendidikan, perasaan terhina, tidak rela atas dirinya, dan aspek kejiwaan lain. Faktor-faktor eksternal seperti kerusakan lingkungan sosial, perubahan nilai-nilai manusia, pandangan dunia, dan lain lain. Baca lebih lanjut

Beragam Pandangan Tentang Kehidupan Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Apakah kita dapat memahami dan mendefinisikan hakikat kehidupan itu? Apakah keberadaan kita sendiri bisa dijelaskan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai yang abadi? Apakah kehidupan itu sendiri bernilai? Pertanyaan seperti ini senantiasa menarik perhatian para pemikir. Penyikapan yang optimis dan pesimis yang terjadi di sepanjang sejarah manusia atas kehidupan ini merupakan bukti terhadap urgensinya persoalan di atas yang sebagaimana dikatakan oleh Albert K, “Apa bedanya bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya, secara tegas saya katakan bahwa persoalan ini sama sekali tidak mempunyai nilai dan manfaat. Dan kita melihat begitu banyak manusia yang putus asa atas kehidupan karena memandang bahwa hidup ini tidak memiliki nilai. Atau kita menyaksikan individu-individu lain yang karena keterikatannya secara emosional atau rasional dengan agama dan kepercayaan rela mengorbankan dirinya demi agama suci dan keyakinannya atau menjalani kehidupan ini berdasarkan agama dan keyakinan tersebut. Oleh karena itu, makna dan arti kehidupan merupakan persoalan yang urgen dan hakiki.”[1] Baca lebih lanjut

Karakteristik Suatu Ideologi Sempurna

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagaimana yang telah diungkapkan tentang definisi ideologi dan ideologi yang dianut oleh manusia, dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa ideologi adalah suatu tema yang merupakan pokok perhatian manusia, merupakan dasar semua prilaku manusia dan menentukan bentuk pilihan manusia, merupakan tujuan segala usaha dan upaya manusia, dan merupakan penjelas kedudukan manusia di alam eksistensi ini, minimal kehidupannya di alam materi, serta merupakan tolok ukur bagi nilai-nilai dan keutamaan kehidupan.

Di sini perlu diperhatikan poin penting bahwa tolok ukur mengenal ideologi manusia ialah melihat apa yang menjadi titik tekan dan perhatian mendasar dari kehidupannya dan dasar motivasi segala prilaku dan tindakannya. Yakni manusia ini dengan motivasi, dasar, dan tujuan apa ia melakukan perbuatan tersebut, jadi apa saja tujuan dan motivasi segala tindakan dan prilaku manusia tidak lain adalah ideologi dan tujuan hidup manusia. Manusia tidak perlu menyatakan secara lahiriah mengenai ideologi dan tujuan hidup yang dianutnya karena ideologi bukan realitas yang terucap tetapi sebuah realitas yang mendasari seluruh perbuatan, tindakan, dan prilaku manusia. Baca lebih lanjut

Ragam Ideologi Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Manusia tidak bisa melanjutkan kehidupannya tanpa tujuan dan ideologi. Di sepanjang sejarah manusia menganut ideologi-ideologi dan dengan perantaraannya manusia menafsirkan sisi kehidupannya. Ideologi-ideologi penting yang dianut manusia sepanjang sejarah yaitu ilmu, kekayaan, kekuasaan, ketenaran, cinta, keindahan, dan hedonis.

Di bawah ini kita akan meneliti dan mengkaji ideologi-ideologi di atas agar bisa menetapkan bahwa ideologi-ideologi tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan hakiki manusia tentang tujuan hidup manusia dan juga tidak mampu menempatkan manusia pada kedudukan yang sebenarnya dalam samudra kehidupan di alam yang tak berhingga ini.

1. Ilmu dan Pengetahuan

Sebagian manusia meletakkan ilmu sebagai tujuan hidupnya, dan ketika mereka mengkaji suatu permasalahan ilmu atau filsafat mereka larut pada pengkajian itu semata dan tidak menimbang bahwa apakah penemuan ilmu dapat digunakan sebagai faktor meningkatkan kesempurnaan dan kualitas hidup manusia. Menurut Mereka observasi semata dibidang keilmuan dan tidak peduli tentang manfaat ilmu itu bagi kehidupan manusia adalah tujuan sempurna hidup. Dan mereka menyangka bahwa jika dari pagi hingga malam larut dalam penelitian hingga menambah kualitas dan kuantitas ilmu, maka hal ini cukup mengantarkan pada puncak kesempurnaan tanpa mesti memikirkan sejauh mana aplikasinya bagi kemaslahatan hidup manusia di alam ini. Baca lebih lanjut

Manusia dan Urgensi Ideologi

Oleh: Mohammad Adlany

Manusia sangat memerlukan pemahaman tentang filsafat hidup dan tujuan penciptaan, karena bukan hanya dengannya ia akan berbuat dan berprilaku di dunia ini, melainkan akan menentukan kebahagiannya di alam akhirat nantinya. Namun sebagian pemikir yang semestinya menfokuskan pikiran-pikirannya untuk mengarahkan dan membantu umat manusia meraih tujuannya malah menjadi batu penghalang bagi kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki manusia.

Seringkali kita mendengar sebagian intelektual menyatakan bahwa dengan keberadaan krisis-krisis yang meliputi dunia sekarang ini tidak seharusnya kita habiskan waktu untuk menggali dan mengetahui filsafat penciptaan, manusia mestinya  memusatkan segenap pemikirannya dalam bidang ekonomi dan sosial untuk mencari solusi yang terbaik bagi permasalahan kehidupan ini.

Para pendukung gagasan ini lalai atas suatu hakikat bahwa jika manusia tidak mengenal substansi filsafat penciptaannya sendiri, maka sangat banyak problematika yang mustahil dapat terpecahkan. Selain dari itu, manusia dipaksa oleh hati nuraninya sendiri untuk memahami tujuan penciptaan dan filsafat kehidupannya, karena tanpa itu ia tidak dapat menjani kehidupan di alam ini secara sempurna dan bahagia. Baca lebih lanjut

Urgensi Merenungi Filosofi Penciptaan Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Permasalahan yang berhubungan dengan filsafat kehidupan dan tujuan penciptaan bukanlah hal baru bagi manusia. Di sepanjang sejarah, pada setiap masyarakat, terdapat banyak individu mengkaji tema ini dengan meilhat perspektif dan amal perbuatan mereka yang beragam. Usaha cemerlang dari para filosof Yunani, pemikir Rum, dan para teolog dari mazhab-mazhab besar tentang penafsiran kehidupan hakiki manusia merupakan dalil yang jelas untuk menetapkan bahwa persoalan tersebut telah direnungkan secara global. Berdasarkan realitas ini, permasalahan tentang filsafat penciptaan dan tujuan kehidupan dalam konteks sejarah sejalan dengan peradaban manusia itu sendiri. Belum terdapat pembahasan tersendiri secara mendetail yang berhubungan dengan filsafat dan tujuan penciptaan pada tiga abad terakhir, namun pada masa kini hal itu telah dijadikan tema mandiri yang dikaji secara hangat, mendetail, dan mendalam.

Hangatnya pembahasan tema ini pada zaman modern karena tidak tercapainya harapan kemanusian yang diamanatkan kepada ilmu dan teknologi, walaupun apa yang telah dicapai sekarang ini kurang lebih sempurna secara material, teknologi, dan informasi, tetapi peradaban manusia dari dimensi psikologi dan spiritual mengalami kemunduran yang luar biasa yang belum pernah diprediksi oleh manusia itu sendiri. Kezaliman, ketidakadilan dan penderitaan umat manusia yang terjadi pada masa kini jauh lebih buruk dan menakutkan dari apa yang terjadi pada masa lampau, manusia lebih rendah dari binatang dan lebih licik dari iblis. Baca lebih lanjut