Kearifan dan Keadilan Ilahi

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Dalam hubungannya dengan konsepsi Ilahiah tentang dunia, dalam ilmu ketuhanan dibahas beberapa masalah tentang hubungan antara Allah dan dunia, seperti apakah dunia ini, sementara atau abadi, dari manakah asal segala sesuatu yang ada ini. Juga dibahas masalah-masalah lain seperti itu. Namun, kalau melihat keseimbangan segenap eksistensi, maka dapat dikatakan di sini bahwa masalah-masalah kearifan dan keadilan ilahi saling berkaitan erat. Kalau merujuk kepada masalah keadilan Ilahi, maka dapat dikatakan bahwa sistem dunia yang ada ini merupakan sistem yang paling arif dan adil. Dasar sistem ini bukan saja pengetahuan, kesadaran dan kehendak. Sistem ini juga merupakan sistem yang paling baik dan sehat. Tak mungkin ada sistem lain yang lebih baik daripada sistem ini. Dunia yang ada ini merupakan yang paling sempurna. Baca lebih lanjut

Iklan

Zuhud dan Kehidupan Dunia

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”[1]

Ayat ini menegaskan bahwa ajaran Islam secara keseluruhan menganugerahkan kehidupan dalam semua aspeknya kepada manusia. Ajaran Islam yang telah bersemayam dalam jiwa seseorang akan memberikan semangat, kehidupan, penglihatan, dan gerakan. Atas dasar itu, ajaran yang tidak memberikan pengaruh hidup, bahkan menimbulkan kematian, menghilangkan penglihatan dan gerakan, serta membekukan pemikiran manusia, bukan ajaran yang dimaksud dalam kandungan ayat di atas, dan juga bukan berasal dari ajaran Islam.

Al-Quran menegaskan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang memberikan spirit kehidupan, dan sejarah Islam telah memberikan kesaksian tentangnya. Selama berabad-abad, sejarah Islam telah menunjukkan bagaimana ajaran ini memberikan spirit kehidupan seperti yang diungkapkan al-Quran.

Dewasa ini, seringkali kita saksikan bagaimana pengertian dan konsep Islam yang kita miliki tidak memberikan atau menciptakan kehidupan. Kita harus memperbaiki pandangan kita sehubungan dengan pengertian dan konsep ini. Barangkali kita keliru dalam menggambarkan dan memahami konsep serta ajaran Islam. Pola pikir kita harus segera diperbaiki. Inilah yang dimaksud dengan menghidupkan kembali pemikiran Islam. Pola pikir dan cara pandang kita terhadap Islam harus dibenahi. Perspektif yang kita gunakan selama ini untuk meneropong Islam bukanlah perspektif yang benar. Dengan begitu, perspektif dan pola pemikiran kita harus segera diperbaiki. Baca lebih lanjut

Zuhud dalam Perspektif Islam

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Salah satu ajaran Islam yang memberikan kehidupan adalah konsep kezuhudan. Namun, boleh dikatakan bahwa dewasa ini kezuhudan tampil dalam maknanya yang mati, atau menyimpang serta berubah dari makna aslinya.

Dalam pertemuan sebelumnya, telah saya sampaikan dua macam pengertian zuhud. Kedua pengertian tersebut ternyata tidak relevan dengan ajaran Islam. Arti zuhud adalah perasaan puas dengan kehidupan yang serba sederhana dalam hal makan, berpakaian, dan bertempat tinggal. Dalam semua aspek kehidupannya, orang zuhud akan merasa puas dengan kehidupan yang serba sederhana.

Namun, perbuatannya tersebut harus dilakukan berdasarkan hikmah dan filosofi tertentu, bukan berdasarkan keyakinan bahwa urusan dunia terpisah dari urusan akhirat. Juga bukan didasari pengertian bahwa kenikmatan duniawi dan ukhrawi bersifat kontradiktif dan saling bertolak belakang satu sama lain. Orang menjalani kezuhudan (hidup dalam kesederhanaan) dikarenakan kondisi dan keadaan tertentu yang di hadapinya —sebagaimana yang telah saya kemukakan, hal ini berhubungan dengan masalah mementingkan orang lain (îtsâr). Baca lebih lanjut

Sejarah Penyimpangan Pemikiran Islam

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Kajian kita kali ini masih berkenaan dengan upaya untuk menghidupkan pemikiran Islam. Para reformis dan para pemikir besar Islam yang hidup pada abad terakhir, sangat menaruh perhatian besar terhadap masalah ini. Saat ini, cara berpikir mayoritas kaum muslimin terhadap Islam mengalami banyak penyimpangan. Minggu lalu, saya telah menyampaikan bagaimana suatu aliran pemikiran atau aksi yang pada dasarnya hidup diterima oleh masyarakat. Boleh jadi suatu aliran pada dasarnya memberikan kehidupan, namun diapresiasi oleh masyarakat melalui cara berpikir yang keliru.

Atas dasar itu, saya akan menyatakan bahwa penyimpangan pola pikir kaum muslimin dewasa ini terhadap Islam berhubungan erat dengan cara mereka menerima ajaran Islam. Jika hendak menelaah pola pikir semacam ini, kita harus berperan sebagai seorang dokter. Hal pertama yang akan dilakukan seorang dokter adalah mendiagnosis pasien guna mengetahui jenis penyakit apa yang dideritanya. la akan menanyakan kepada pasien tentang apa yang dilakukan sebelumnya, gejala-gejala apa yang dirasakannya, dan bagaimana keadaan sebelumnya. Upaya-upaya ini dilakukan untuk menentukan jenis penyakit apa yang dideritanya. Baru setelah itu ia melakukan pengobatan terhadap pasiennya. Baca lebih lanjut

Semangat Pemikiran Islam

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”[1]

Mengenang Pemikir Muhammad Iqbal

Topik kajian yang sebelumnya telah saya siapkan untuk pertemuan ini, yang bertepatan dengan hari Arbain (peringatan 40 hari syahadahnya Imam Husain as) adalah “berhubungan dengan para syuhada”.Penyajian hal ini juga saya pikir sangat mengena mengingat pada hari ini telah terjadi dua peristiwa penting dalam sejarah. Dua buah peristiwa yang menjadi penyebab terjadinya acara peringatan Arbain.

Salah satunya adalah sejarah masuknya penziarah resmi pertama ke makam Imam Husain as, Karbala, yang datang dari Madinah, yakni Jabir bin Abdullah al Anshori. Dan peristiwa lainnya yang berkenaan dengan diresmikannya ziarah kepada Imam Husain pada hari ini. Banyak riwayat yang menganjurkan untuk berziarah ke makam Imam Husain pada hari Arbain. Hari Arbain merupakan hari yang dikhususkan untuk berziarah kepada Imam Husain as.

Kedatangan Jabir bin Hayyan untuk berziarah ke pusara suci Imam Husain as, ataupun berziarah kepada beliau as dari jarak jauh dengan membaca doa ziarah sebagaimana yang dianjurkan dalam berbagai riwayat, bertujuan untuk “menjalin hubungan” dengan para syuhada. Baca lebih lanjut

Pandangan Dunia

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Salah satu pembahasan yang amat signifikan berkenaan dengan “Pandangan Alam Semesta” (ar-Ru’yah al-Kauniah) adalah kebenaran dan kebatilan di alam semesta, dan kebenaran dan kebatilan dalam masyarakat dan sejarah.

Namun, pembicaraan kita sekarang ini akan lebih terfokus pada topik yang kedua. Kendati nantinya, topik pertama yang berkaitan dengan kebenaran dan kebatilan di alam semesta akan dibahas pula secara singkat.

Kebenaran dan Kebatilan di Alam Semesta

Apakah sistem yang berlaku di jagat alam ini merupakan sistem yang hak (benar)? Sistem yang tepat? Sistem yang seharusnya? Apakah segala sesuatu yang ada di alam semesta ini telah berada pada orbimya masing-masing? Ataukah tidak demikian adanya; sistem ini bersifat batil (tidak benar)? Mungkinkah sistem yang ada di alam ini bersifat batil? Apakah terdapat sesuatu yang semestinya tidak tercipta? Apakah keberadaan sistem ini hanya sia-sia belaka dan tidak memiliki tujuan? Dalam menghadapi rentetan pertanyaan ini, juga berbagai pertanyaan lain yang mirip dengannya, para ulama dan cendekiawan terbagi ke dalam beberapa golongan; sebagian mendukung pandangan pertama, sebagian lainnya mendukung yang kedua, dan sekelompok lainnya memiliki pandangan alternatif yang berbeda dengan keduanya. Para filosof, yang sebagian besar menganut paham Materialisme, memiliki persangkaan yang buruk terhadap keberadaan alam semesta (termasuk terhadap keberadaan manusia). Mereka beranggapan, seluruh yang ada di jagat alam merupakan sesuatu yang tidak semestinya ada, tidak layak tercipta, buta, tuli, dan keberadaannya hampa akan tujuan. Baca lebih lanjut

Tingkatan Kemusyrikan

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Bukan saja tauhid yang terdapat tingkatannya, kemusyrikan juga ada tingkatannya. Kalau kita membandingkan keduanya, kita dapat lebih mengetahui tauhid maupun kemusyrikan. Karena mem­bandingkan dua hal yang berseberangan tersebut, maka kita dapat menjelaskannya. Sejarah memperlihatkan bahwa eksistensi beragam kemusyrikan selalu menandingi tauhid yang diajarkan oleh para nabi.

Percaya Pluralitas Zat Tuhan

Bangsa-bangsa tertentu memiliki kepercayaan kepada dua (dualisme), tiga (trinitas) atau lebih dari sumber kreatif dan abadi yang satu sama lain saling mandiri. Mereka percaya bahwa dunia ini memiliki banyak kutub dan banyak pusat. Dari mana sumber gagasan-gagasan seperti itu? Apakah masing-masing gagasan ini mencerminkan kondisi sosial masyarakat bersangkutan. Misal, ketika orang mempercayai dua sumber kreatif dan abadi serta dua orbit orisinal dunia, masyarakat mereka terbagi menjadi dua bagian yang berlainan, dan ketika orang mempercayai tiga sumber dan tiga Tuhan, sistem sosial mereka trilateral. Dengan kata lain, dalam setiap kasus, sistem sosial tersebut tecermin pada pikiran masyarakat dalam bentuk doktrin. Apakah juga merupakan fakta bahwa para nabi mengajarkan tauhid hanya ketika pusat sistem sosial cenderung satu? Baca lebih lanjut

Manusia dan Penyatuan

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Penyatuan realitas eksistensi manusia dalam sebuah sistem psikologis yang selaras dengan kecenderungan manusiawi dan evolusionernya, dan begitu juga penyatuan masyarakat manusia dalam sebuah sistem sosial yang harmonis dan evolusioner, merupakan dua hal yang selalu saja menarik perhatian manusia. Kebalikan dari penyatuan adalah polarisasi personalitas individual dan keterbagian personalitas tersebut menjadi segmen-segmen yang saling berselisih, dan terbagi-baginya masyarakat menjadi kelompok-kelompok dan kelas-kelas yang saling bertentangan. Masalahnya adalah: bagaimana caranya agar personalitas individual berkembang harmonis, baik dari segi kejiwaan maupun dari segi sosial? Dalam hal ini ada tiga teori: teori materialistis, teori idealistis, dan teori realistis. Baca lebih lanjut

Tingkat-tingkat Tauhid

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Baik tauhid maupun kemusyrikan ada tingkatan dan tahapannya masing-masing. Sebelum kita melewati semua tahap dalam tauhid, kita belum dapat menjadi pengikut atau ahli tauhid (muwahhid) yang sejati.

Tauhid Zat Allah

Yang dimaksud dengan tauhid (keesaan) Zat Allah adalah, bahwa Allah Esa dalam Zat-Nya. Kesan pertama tentang Allah pada kita adalah, kesan bahwa Dia berdikari. Dia adalah Wujud yang tidak bergantung pada apa dan siapa pun dalam bentuk apa pun. Dalam bahasa Al-Qur’an, Dia adalah Ghani (Absolut). Segala sesuatu bergantung pada-Nya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Dia tidak membutuhkan segala sesuatu. Allah berfirman:

Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah. Dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. (QS. Fâthir: 15) Baca lebih lanjut

Konsepsi Realistis tentang Alam Semesta

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Islam adalah sebuah agama yang realistis. Arti kata “Islam” adalah tunduk, patuh, menerima. Ini menunjukkan bahwa syarat pertama menjadi seorang Muslim adalah menerima realitas dan kebenaran. Islam menolak setiap bentuk keras kepala, prasangka, taklid buta, berat sebelah dan egoisme. Islam memandang semua itu bertentangan dengan realisme dan pendekatan realistis terhadap kebenaran.

Dari sudut pandang Islam, orang yang mencari ke­benaran, namun upayanya ini menemui kegagalan, dapat dimaafkan. Menurut Islam, kalau kita secara membuta atau karena keturunan menerima kebenaran, sementara itu kita keras kepala dan angkuh, maka apa yang kita lakukan itu tak ada nilainya.

Seorang Muslim sejati, baik laki-laki maupun perempuan, mesti dengan gairah menerima kebenaran di mana pun kebenaran itu didapatinya. Sejauh menyangkut menuntut ilmu pengetahuan, seorang Muslim tidak memiliki prasangka, atau sikapnya tidak berat sebelah. Upayanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan kebenaran tidak hanya pada masa tertentu dalam hidupnya dan juga tidak hanya di wilayah tertentu. Dia juga tidak menuntut ilmu pengetahuan dari orang tertentu saja. Nabi saw bersabda bahwa menuntut ilmu pengetahuan adalah wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki mau­pun perempuan. Nabi saw juga meminta kaum Muslim agar menerima ilmu pengetahuan dari seorang penyembah berhala sekalipun. Baca lebih lanjut

Konsepsi tentang Alam Semesta

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Setiap doktrin dan filsafat kehidupan tentu didasarkan pada kepercayaan, evaluasi tentang kehidupan, dan interpretasi serta analisis tentang alam semesta. Cara berpikir sebuah mazhab tentang kehidupan dan alam semesta dianggap sebagai dasar dari segenap pemikiran mazhab itu. Dasar ini disebut konsepsi mazhab itu tentang alam semesta.

Semua agama, sistem sosial, mazhab pemikiran, dan filsafat sosial didasarkan pada konsepsi tertentu tentang alam semesta. Semua sasaran yang dibeberkan sebuah mazhab, cara dan metode untuk mencapai sasaran itu, merupakan akibat wajar dari konsepsi mazhab tersebut tentang alam semesta. Baca lebih lanjut

Sumber-sumber Pemikiran dalam Islam

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir. Al-Qur’an bukan saja menunjukkan penyebab kesalahan berpikir, namun juga memerinci hal-hal yang patut dipikirkan, dan yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan dan informasi. Pada umumnya Islam menentang penggunaan energi untuk masalah yang tak dapat dikaji dengan saksama atau, kalau pun dapat, tidak bermanfaat bagi manusia. Nabi Muhammad saw menganggap sia-sia pengetahuan yang kalau didapat tak ada manfaatnya, dan kalau tak memilikinya tak ada mudaratnya. Di lain pihak, Islam mendorong manusia untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat dan dapat diteliti. Al-Qur’an menyebutkan tiga hal yang bermanfaat kalau dipikirkan: alam semesta, sejarah, dan hati nurani manusia.

a. Alam Semesta

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, benda-benda alam seperti bumi, langit, bintang, matahari, bulan, mendung, hujan, gerakan angin, bahtera yang berlayar di lautan, tumbuhan, binatang, dan segala yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia lewat indera, disebut sebagai hal-hal yang layak dipikirkan dalam-dalam dan disimpulkan. Sebagai contoh kami kutipkan sebuah ayat Al-Qur’an: Baca lebih lanjut

Islam Sebuah Mazhab yang Lengkap

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Islam, yang didasarkan pada konsepsi yang sempurna tentang alam semesta, merupakan sebuah mazhab yang realitistis lagi lengkap. Dalam Islam, semua aspek kebutuhan manusia, baik kebutuhan jasmaniah maupun kebutuhan spiritual, intelektual maupun mental, kebutuhan individu-individu maupun masyarakat, ke­butuhan yang berkenaan dengan dunia fana ini maupun akhirat, mendapat perhatian.

Ajaran Islam Meliputi Tiga bagian

1. Ajaran doktrinal atau prinsip pokok. Dalam ajaran doktrinal atau prinsip pokok ini, semua orang diminta beriman. Tugas yang harus ditunaikan dalam hal ini adalah semacam kerja ilmiah dan penelitian. Baca lebih lanjut

Mazhab Pemikiran atau Ideologi

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Definisi dan Arti Penting Ideologi

Apakah ideologi itu, dan bagaimana definisinya? Perlukah manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk mengikuti mazhab dan mempercayai ideologi? Apakah keberadaan ideologi diperlukan oleh orang seorang atau masyarakat? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, perlu adanya mukadimah.

Ada dua macam aktivitas manusia: yang menyenangkan dan yang politik. Aktivitas yang menyenangkan adalah aktivitas yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya, karakter pembawaan atau kebiasaannya (yang juga merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman dan sudah menjadi naluri, dan bukan karakter bawaan). Misal, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air, bila dia melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu, dan kalau dia merasa ingin merokok, dia akan menyalakan rokok. Baca lebih lanjut