Proses Meraih Kesempurnaan Insani

Oleh: Mohammad Adlany

Kesempurnaan setiap maujud mempunyai batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Karena karakteristik masing-masing maujud, mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia, adalah berbeda satu sama lain, maka kesempurnaannya pun menjadi berbeda dan bertingkat-tingkat. Setiap maujud dikatakan sempurna ketika potensi-potensi khusus yang ada pada dirinya telah aktual.

Kesempurnaan setiap maujud harus ditemukan dalam sistem alam penciptaan. Untuk melakukan hal ini, harus dilakukan pengenalan terhadap hakikat suatu maujud untuk kemudia menempatkan kedudukannya di alam penciptaan, setelah itu dibutuhkan spesialisasi yang untuk mengetahui, memperkirakan, dan terakhir memberikan kesimpulan yang layak. Tentunya, penentuan kesempurnaan suatu maujud tidak bisa merujuk pada pendapat masyarakat umum, adat istiadat, dan peradaban. Baca lebih lanjut

Iklan

Islam dan Penyempurnaan Manusia

 

Oleh: Mohammad Adlany

Karena yang mewujudkan al-Quran tidak lain adalah Zat yang juga menciptakan manusia, maka ajaran dan syariat-syariat hukum yang ada di dalam al-Quran identik dan sesuai dengan hakikat, tujuan, dan mekanisme penciptaan, tidak ada sedikitpun pertentangan pada lingkup ini dan senantiasa berdasarkan hakikat wujud manusia. Dia senantiasa membimbing umat manusia.

Dari perspektif ini, di dalam mekanisme Islam seluruh usaha diletakkan untuk mempersiapkan lahan pertumbuhan dan pembinaan, bukan bermaksud menambahkan sesuatu kepada wujud manusia, melainkan bermakna mengembangkan dan menyempurnakan wujud manusia. Dan apabila Tuhan memberikan perintah kepada mereka, seluruhnya berada dalam tahapan berikut yaitu mereka akan dipersiapkan untuk berkembang, menyempurna, dan mengaktualkan seluruh potensinya. Baca lebih lanjut

Ketidakterbatasan Potensi Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, yang dimaksud dengan kesempurnaan dalam wujud adalah dicapainya maksud dan tujuan yang sebelumnya tidak dimiliki, atau diperolehnya sesuatu setelah ketiadaan sesuatu itu. Dari sini terdapat kemungkinan bahwa penciptaan eksistensi mempunyai tingkatan dan gradasi, dimana suatu tingkatan merupakan tingkatan yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari tingkatan yang lain, dan pada derajat-derajat yang lemah senantiasa terdapat potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi, dan setelah melakukan gerak, sesuatu yang lemah itu akan menjadi sempurna.

Misalnya, di alam natural terdapat potensi sumber alam yang beragam, di alam natural dan tabiat ini juga terdapat tumbuhan dan tumbuhan ini kemudian menjadi makanan bagi hewan, lantas makanan ini berubah menjadi darah, lalu darah berubah bentuk menjadi sperma dan dari sperma akan terbentuk hewan lain dari generasi baru. Baca lebih lanjut

Kesempurnaan Tertinggi Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, “Seorang yang memiliki ilmu yang telah sampai pada tingkatan kesucian sedemikian sehingga terlepas dari segala pengaruh materi dan keterikatan raganya. Dia berjalan dengan ikhlas ke alam tertinggi malakuti dan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi.”

Selanjutnya dia menyatakan, “Namun, jangan menyangka bahwa kelezatan-kelezatan semacam itu tidak mungkin dirasakan di alam materi atau selama jiwa tetap berada di tubuh, ketahuilah bahwa mereka yang telah sampai pada alam suci non-materi, alam akal, alam malakuti, dan telah menyaksikan alam jabarut, sesungguhnya mereka telah menyaksikan Jamaliyah Ilahi dan mengecap tingkatan tertinggi kelezatan. Meskipun mereka masih bersama dengan badan-jasmani namun hati mereka tidak disibukkan olehnya dan tuntutan duniawi tidak mempengaruhinya, penyaksian-penyaksian mereka terhadap Jamaliyah Ilahi telah membuatnya berpaling dari segala pengaruh duniawi.”[1] Baca lebih lanjut

Manusia Menurut Akal dan Al-Quran

Oleh: Mohammad Adlany

Mengenal Diri = Mengenal Kesempurnaan

Setiap benda secara khusus memiliki kesempurnaannya sendiri. Untuk membedakan kesempurnaan setiap benda maka kita harus mengenal dan mengetahui hakikat benda tersebut. Demikian juga untuk mengetahui kesempurnaan manusia, harus pula dilakukan melalui pengenalan dan makrifat diri manusia secara utuh dan komprehensif. Seseorang bisa menyatakan dirinya mampu mengetahui setiap titik kulminasi dan kesempurnaan manusia dengan baik, ketika dia memiliki makrifat menyeluruh, benar, dan mendetail tentang hakikat manusia.

Mengenal manusia secara hakiki berarti mengenal kesempurnaannya secara hakiki pula. Selama manusia belum mengenal dirinya dengan benar berarti dalam menentukan kesempurnaan dirinya pun akan mengalami kesalahan, dan kadangkala dia akan menempatkan ketidaksempurnaan dan kekurangan pada posisi kesempurnaan dan kebahagiaan. Orang yang tidak mengenal dirinya, dia tidak akan mengetahui apa-apa tentang kesempurnaannya. Baca lebih lanjut

Mengenal Kesempurnaan

Oleh: Mohammad Adlany

Untuk mengenal kesempurnaan apapun, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengenal substansi dan hakikat sesuatu tersebut, karena apabila hakikat sesuatu tidak menjadi jelas, maka mustahil ada kemungkinan untuk mengenal kesempurnaannya.

Tuhan Yang Maha Mengetahui mencipta beragam eksistensi berdasarkan hikmah-Nya. Dalam mekanisme penciptaan tersebut, masing-masing eksistensi memiliki karakteristik dan kecenderungan tertentu dengan fungsi dan manfaat dalam syarat-syarat yang tertentu pula, sedemikian sehingga tujuan khusus dari masing-masing mereka berbeda dari selainnya dan masing-masing mereka pasti akan melakukan aktivitasnya dalam ruang lingkup dan asas yang telah ditentukan oleh Tuhan. Baca lebih lanjut

Korelasi Perbuatan dan Jiwa Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Perbuatan Manusia

Manusia dalam setiap amal dan perbuatan ikhtiarinya membutuhkan pendahuluan-pendahuluan yang jika salah satu dari mukadimah-mukadimah ini tiada, maka prilaku tersebut tidak akan terlaksana.

Mukadimah-mukadimah itu antara lain:

  1. Tingkatan pertama adalah tingkatan dzat, dimana seseorang dalam tingkatan ini mencakup seluruh tingkatan yang ada. Tingkatan tersebut seluruhnya tercakup dalam dzat manusia. Seperti seorang ilmuwan yang memiliki keahlian dalam berbagai cabang ilmu, ketika tengah sibuk bercakap dengan anaknya dengan nada kekanak-kanakan, dia akan berbicara sesuai dengan tingkat pemahaman anaknya dengan bahasa kekanak-kanaknya tersebut. Dalam tingkatan ini, tidak ada satupun dari kesempurnaan ilmunya yang tertampakkan, yaitu meskipun dia mengetahui tentang filsafat, fisika, dan perbintangan dia tidak akan memperhatikan hal-hal tersebut. Baca lebih lanjut

Kelezatan Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Ibnu Sina dalam kitab Isyarat wa Tanbihat, mendeskripsikan kelezatan manusia dalam satu pembagian universal, yaitu syahwat, amarah, imajinasi, dan rasio (akal).

Kelezatan pertama yang terkait dengan syahwat adalah suatu kelezatan tertentu yang dirasakan oleh salah satu organ tubuh manusia. Sebagai contoh, lidah merasakan manis dan langit-langit mulut akan menikmati kelezatannya. Kelezatan adalah sebuah perolehan dan pencapaian. Kelezatan perolehan ini, kadangkala dihasilkan oleh organ lidah yang melakukan aksi dan reaksinya pada permukaan lahiriah lidah sehingga kemudian manusia memahami rasa tertentu, akan tetapi kadangkala pula rasa tertentu ini dirasakan oleh manusia tanpa perantara organ materi lidah, melainkan dia mampu merasakan kelezatan tanpa berhubungan dan bersentuhan sama sekali dengan indera perasa. Baca lebih lanjut

Urgensi Mengenal Diri

Oleh: Mohammad Adlany

Salah satu persoalan yang penting dan urgen untuk mencapai kesempurnaan akhir dan meraih tujuan penciptaan adalah pengenalan diri dan jiwa.

Sebagaimana diketahui bahwa manusia memiliki dua dimensi, dimensi ruhani (yang terkait dengan jiwa) dan dimensi jasmani (yang terkait dengan badan). Namun aspek yang hakiki pada diri manusia adalah jiwa. Jiwa yang bersifat nonmateri inilah yang langgeng dan akan mengalami kehidupan yang abadi. Setalah hancurnya badan kasar ini, yakni setelah kematian, maka jiwa akan terus melanjutkan kehidupannya di alam barzakh dan kemudian secara abadi akan menetap di alam akhirat.

Perlu diketahui bahwa manusia senantiasa berdimensi dua, yakni jiwa dan badan, akan tetapi, badan yang menyertai jiwa akan berubah sesuai dengan kondisi alam dimana jiwa berada. Misalnya, jiwa yang hidup di dunia ini akan memiliki jasad yang sesuai dengan karakter alam materi, begitu pula jika jiwa berpindah ke alam mitsal atau barzakh maka tubuhnya pun bersifat barzakhi. Hal ini juga berlaku pada alam akhirat. Namun, tubuh dan jasad yang menyertai jiwa di alam barzakh dan akhirat sepenuhnya dibentuk oleh akhlak manusia ketika di dunia. Di sini jiwa dan tubuh memiliki kesesuaian. Jika jiwanya indah maka tubuhnya pun akan indah. Baca lebih lanjut

Karakter Alami Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Kehendak Tak Terbatas

Manusia memiliki kapasitas yang tak terbatas. Potensi, keinginan, dan bakatnya tidak berhenti pada batas yang tertentu. Seberapapun yang diberikan padanya, ia masih akan mengatakan, “apakah masih ada yang lain?” Untuk memperoleh keinginannya, kadangkala ia rela berjalan hingga pada batas yang membahayakan jiwa, akan tetapi ketika keinginannya tersebut telah berada dalam genggamannya, ia akan menemukan bahwa ternyata keinginannya lebih besar dan lebih tinggi dari apa yang telah diperolehnya saat ini, dan apa yang berada dalam genggamannya tersebut tidak seperti apa yang ia inginkan sebelumnya.

Manusia memiliki keinginan tak terbatas dalam mencari segala kesempurnaan. Sebagai contoh, seorang pemilik harta, betapapun banyaknya ia memiliki harta simpanan tetap saja tidak merasa cukup.

Demikian juga, orang yang memiliki kekuasaan, ia masih tetap akan mencari jalan untuk memperoleh kekuasaan yang lebih. Bahkan misalnya, meskipun telah ditambahkan planet bumi ke dalam kekuasaannya, ia masih akan mencari planet Mars supaya jatuh ke tangannya dan ketamakannya terhadap kekuasaan tidak akan berhenti sampai di sini, keinginan berkuasa yang dimilikinya akan membawanya untuk menguasai planet-planet lainnya. Baca lebih lanjut

Dimensi Wujud Manusia

Oleh: Mohammad Adlany

Manusia secara potensial memiliki seluruh kesempurnaan di alam. Lingkup gerak menyempurnanya meliputi tingkatan terendah in-organik hingga tingkatan tertinggi malakut. Jadi, kelayakan luar biasa dari mutiara alam semesta yang bernama manusia ini, bukanlah berada pada posisi terendah dari wujud jasmaninya, melainkan terletak pada sisi wujud ruhani, akal, dan malakutinya.

Manusia dengan derajat ruhani yang dimiliknya, tidak selayaknya ia meninggalkan posisi tertingginya dan menjerumuskan diri pada tingkatan terendah dengan mengikuti instink syahwat yang tidak lebih dari tingkatan yang dimiliki oleh seekor hewan. Manusia terkadang hanyut menikmati syahwatnya dan terkagum-kagum dengan kemenangannya melawan sifat antagonisnya, dan dengan segenap kemampuannya berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan instinknya.

Kecenderungan manusia ini tidak melebihi setengah wujudnya dan kehidupan seperti ini diungkapkan al-Quran sebagai kehidupan neraka, “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.”[1] Ayat ini merupakan deskripsi kehidupan orang-orang yang mengisi hidupnya dengan kehidupan hewan dan mengesampingkan kehidupan insani yang merupakan kedudukan tertinggi dan termulia. Yang diperhitungkan oleh orang semacam ini bukan kehidupan insaninya dan bukan pula koreksi dan kontemplasi atas dirinya, pada dasarnya apapun yang dipilih orang ini tidak akan pernah berharga dan dia akan mengalami kerugian dalam seluruh prilakunya. Baca lebih lanjut

Manusia dan Alam

Oleh: Mohammad Adlany

Keluasan Alam

Filsafat Islam telah membuktikan tiga jenis alam, yakni alam akal, alam mitsal (barzakh), dan alam materi. Alam akal adalah alam yang tertinggi dan alam materi sebagai alam yang terendah. Alam mitsal berada di antara kedua alam itu.

Alam itu sendiri, karena merupakan manifestasi Wujud Yang Tak Terbatas (Tuhan), meliputi jangkauan dan dimensi yang tak terbatas pula. Untuk memahami realitas alam-alam itu maka sebaiknya berangkat dari alam yang terendah, alam materi. Karena manusia lebih dekat dengan alam materi, maka untuk mengkajinya bukanlah hal yang sulit. Alam materi yang merupakan tingkatan terendah dari alam eksistensi yang jika manusia melakukan observasi dan tafakkur pada setiap sisi dari alam materi ini akan memperoleh manfaat spiritual dan inteletual yang begitu banyak.

Dengan mengkaji alam materi dan alam natural ini, manusia pada era ini telah mampu mengembangkan ilmu dan teknologi serta menemukan inovasi-inovasi baru yang sangat menakjubkan, mereka berhasil mengeluarkan berbagai bahan tambang dari kedalaman bumi, berhasil menciptakan berbagai peralatan canggih, menjelajahi dunia antariksa, dan sebagainya. Apabila observasi manusia di alam materi telah menemukan berbagai kemajuan yang signifikan, maka perkembangan apa yang bakal terjadi jika manusia berkonsentrasi mengkaji fenomena-fenomena di alam yang lebih tinggi? Baca lebih lanjut