Sifat-sifat Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagian besar argumen filosofis telah digunakan untuk menetapkan wujud yang dikenal sebagai wajibul wujud, Tuhan. Jika argumen itu ditambahkan dengan argumen-argumen yang lain, maka akan dapat tertetapkan sifat-sifat yang mesti dan tidak mesti bagi wajibul wujud.

Denga argumen-argumen itu, kita mengenal Tuhan dengan segala sifat-Nya yang khas yang membedakan dzat-Nya dari makhluk-makhluk-Nya. Jika sekedar menetapkan bahwa Tuhan itu adalah wajibul wujud maka tidaklah memadai untuk mengenal Dia sebagaimana mestinya.

Dari aspek itulah, sangat urgen untuk menetapkan sifat-sifat yang tidak mesti bagi Tuhan, supaya kita dapat mengetahui bahwa Dia itu suci dari sifat-sifat yang khusus pada makhluk-makhluk-Nya, yang tidak mungkin dinisbahkan pada dzat-Nya.

Pada dimensi lain, kita perlu menegaskan sifat-sifat yang mesti bagi Tuhan, supaya menjadi nyata bahwa Dialah yang layak untuk disembah. Begitu pula, masalah itu akan berkonsekuensi pada penetapan doktrin-doktrin keimanan Islam lainnya seperti keadilan Tuhan, kenabian, keimamahan, dan eskatologi (alam akhirat). Baca lebih lanjut

Iklan

Eksistensi Tuhan dan Fenomena Mukjizat [Terakhir]

Oleh: Mohammad Adlany

Implikasi Mukjizat Terhadap Kenabian

Persoalan pertama yang muncul berkaitan dengan implikasi mukjizat terhadap kenabian adalah apa yang sebenarnya ingin kita buktikan dengan mukjizat, apakah dengan mukjizat kita berargumentasi tentang pelaku mukjizat (baca: Nabi), ataukah kita berdalil tentang kebenaran ajaran Nabi, ataukah yang kita inginkan adalah kedua-duanya? Dalam hal ini, tidak ada fokus dan kejelasan pandangan dari para pemikir dan teolog Barat.

David Hume menyatakan bahwa orang-orang beriman berargumentasi dengan mukjizat berhubungan dengan risalah sang penyelamat (Isa Al-Masih As)[1]. Thomas Aquinas dan Jhon Lock keduanya beranggapan bahwa mukjizat berimplikasi terhadap kebenaran ajaran dan risalah keimanan dan lebih khusus lagi berhubungan dengan dimensi kebenaran ajaran yang diperdebatkan oleh agama-agama, dengan bersandar pada anggapan itu mereka berkata bahwa ajaran Kristen tentang ketuhanan Masehi ditetapkan dengan perantaraan mukjizatnya. Baca lebih lanjut

Eksistensi Tuhan dan Fenomena Mukjizat [2]

Oleh: Mohammad Adlany

Pembuktian Mukjizat

Apakah keberadaan mukjizat bisa ditetapkan dengan bukti-bukti dan dalil-dalil? Semua orang beriman yakin dan percaya akan kejadian dan keberadaan mukjizat. Tetapi dari sudut pandang seorang filosof agama, lahir sebuah pertanyaan, bagaimana suatu peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam dapat ditegaskan dan diargumentasikan dengan menggunakan bukti-bukti dan dalil-dalil? Apakah karena kontradiksinya kejadian itu dengan hukum alam sehingga tidak mungkin ditetapkan dengan perantaraan bukti otentik dan argumen rasional? Jika diasumsikan bahwa kejadian mukjizat dapat ditetapkan dengan dalil dan bukti, apakah terdapat bukti-bukti sejarah yang otentik berkaitan dengan kejadian itu?

David Hume, filosof Empirisme asal Skotlandia adalah orang pertama yang menjabarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. David Hume mengurai secara terperinci masalah-masalah tersebut dalam makalahnya yang sangat terkenal bertema “Darbore-ye mukjizat (Tentang Mukjizat)”. Pada bagian pertama dalam makalah tersebut David berusaha menunjukkan bahwa kejadian mukjizat dikarenakan bertolak belakang dengan hukum alam maka menjadi sangat kecil kemungkinannya dapat ditetapkan dengan bantuan bukti sejarah yang walaupun bukti itu sangat kuat dan otentik, tapi akan menjadi mungkin bila dijelaskan dengan dalil-dalil rasional tentang keadaan dan proses yang paling sempurna dari kejadiannya. Bagian kedua dari makalah tersebut ia berargumentasi bahwa, dengan asumsi mukjisat dapat dibuktikan, walaupun terdapat bukti-bukti sejarah yang otentik -dimana digunakan oleh semua orang beragama untuk menyampaikan kejadian mukjizat- tetapi tak satupun yang dapat  dijadikan sandaran dan karena itulah kita tidak memiliki bukti-bukti sejarah yang otentik dan dalil yang kuat atas kejadian mukjizat. Baca lebih lanjut

Eksistensi Tuhan dan Fenomena Mukjizat [1]

Oleh: Mohammad Adlany

Mukjizat dan peristiwa-peristiwa aneh dan ajaib yang terjadi karena pengaruh doa seorang hamba, pertolongan-pertolongan gaib yang terkadang muncul dalam kehidupan pribadi seseorang, seperti penyembuhan penyakit, kejadian-kejadian di luar kendali dan tak terduga yang berujung pada penyelesaian problematika sosial atau lintasan suatu ide dan pikiran cemerlang yang secara otomatis memecahkan persoalan-persoalan rumit ilmiah, semua perkara tersebut oleh sebagian teolog Kristen barat dijadikan pendahuluan dan dasar untuk menegaskan eksistensi Tuhan.

Argumentasi yang menggunakan pendahuluan seperti itu disebut argumen mukjizat. Sebelum kami menjabarkan argumen itu secara terperinci, di bawah ini akan dijelaskan tentang definisi mukjizat, probabilitas mukjizat, dan kemustahilan menjelaskannya dengan sebab-sebab materi. Baca lebih lanjut

Penyifatan Tuhan dalam Al-Quran dan Hadis

Oleh: Mohammad Adlany

Sebagaimana yang telah kami katakan, mustahil bagi manusia untuk mengenal hakikat dzat Tuhan. Pengenalan rasionalitas atas-Nya hanya bersifat universal atau pengenalan melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Atas dasar ini, salah satu tujuan utama al-Quran yang dalam berbagai ayatnya berbincang tentang sifat-sifat Tuhan adalah melakukan rekonstruksi, memperdalam, dan memperluas pengenalan manusia terhadap Tuhan. Ratusan ayat al-Quran kadangkala secara langsung membahas tentang sifat-sifat Tuhan dan menyebutkan tentang asma Tuhan. Dari sebagian ayat bisa pula ditemukan adanya prinsip-prinsip universal dalam penyifatan Tuhan.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa mengenali Tuhan melalui sifat-sifat-Nya merupakan cara yang sangat rumit karena membutuhkan ketelitian dan kecermatan yang tinggi, karena sedikit saja kita salah menganalisanya bisa mengarahkan kita kepada pen-tasybih-an atau “penyerupaan” yang berujung pada kehilangan sebagian makrifat kita dari al-Quran. Baca lebih lanjut

Pengalaman Keagamaan dan Eksistensi Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Keyakinan kepada Tuhan merupakan pondasi utama dan asas terpenting bagi seluruh agama. Asas inilah yang melandasi segala pikiran dan perilaku manusia yang beragama. Ada hubungan yang sangat erat antara kesempurnaan perbuatan insan dan kepercayaan kepada Tuhan. Semakin tinggi kepercayaannya kepada Tuhan maka semakin intens pula hubungannya kepada-Nya, dan ini berkonsekuensi pada semakin sempurna pengamalannya atas ajaran-ajaran agama.

Pengetahuan yang mendalam akan eksistensi Tuhan akan meniscayakan pengetahuan sempurna akan sifat-sifat-Nya. Salah satu sifat Tuhan adalah Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Bijaksana. Manusia yang yakin akan wujud Tuhan niscaya mengetahui bahwa yang paling mengetahui akan hakikat dirinya, sifat-sifatnya, dan kebutuhan substansialnya adalah Sang Penciptanya.

Kepercayaan kepada Tuhan merupakan inti dan substansi agama, maka sangatlah urgen membangun keyakinan kita itu di atas pondasi dan argumen yang sangat kokoh dan kuat. Karena semua manusia memiliki dua fakultas pencerapan, akal dan hati, maka argumen pun harus didasarkan pada dua indera itu, yakni argumentasi akal (filsafat) dan pemahaman intuitif (irfan). Dua argumen inilah yang merupakan pijakan kokoh bagi bangunan keyakinan kepada Tuhan.

Kesadaran rasional dan intuitif merupakan kesadaran tertinggi bagi manusia[1] yang sekaligus merupakan tujuan penciptaan manusia. Manusia yang paling berakal adalah manusia yang paling yakin akan keberadaan Tuhan dan menganut agama sebagai satu-satunya jalan menuju kepada-Nya.

Kokohnya bangunan keyakinan itu akan sangat berpengaruh kepada aspirasi kita kepada agama yang merupakan pedoman hakiki bagi manusia untuk meraih kesempurnaan dan penghambaan kepada-Nya.

Artikel ini akan mencoba mengkaji sejauh mana penegalaman keagamaan bisa menjadi pondasi dan argumen yang kuat untuk menegaskan eksistensi Tuhan.

Baca lebih lanjut

Apa Mungkin Mengenal Sifat Tuhan?

Oleh: Mohammad Adlany

Kemungkinan Mengenal Sifat Tuhan

Salah satu persoalan mendasar dalam pembahasan sifat-sifat Tuhan adalah apakah manusia mampu mengenali sifat-sifat Tuhan ataukah sifat-sifat Tuhan ini sebagaimana dzat-Nya mustahil diketahui dan dipahami oleh manusia?

Dalam menjawab pertanyaan di atas, sebagian mengatakan bahwa akal manusia tidak mampu mengenal sifat-sifat Tuhan. Menurut mereka, hal yang mungkin dilakukan hanyalah menerima dan mempercayai keberadaan dan kebenaran sifat-sifat Tuhan secara universal dari al-Quran dan hadis tanpa harus memahami hakikat dan makna dari sifat-sifat tersebut. Bentuk pemikiran seperti ini lazimnya disebut ta’thil, karena meliburkan aktivitas akal dan tidak menggunakan pikirannya dalam mengenal sifat-sifat Tuhan. Dan pengikut kelompok ini dinamakan Mu’aththalah, yakni orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk memahami hakikat sifat-sifat Tuhan. Baca lebih lanjut

Tauhid dan Monoteisme

Oleh: Mohammad Adlany

Salah satu faktor utama yang melahirkan pandangan Panteisme dan keyakinan pada banyaknya Tuhan adalah keragaman maujud dan kejamakan realitas di langit dan bumi. Mereka berkeyakinan bahwa setiap maujud dan realitas berada di bawah pengaturan Tuhan tertentu. Misalnya, seluruh kebaikan berasal dari Tuhan Kebaikan, dan seluruh keburukan bersumber dari Tuhan Keburukan. Mereka percaya bahwa alam semesta ini memiliki dua atau lebih pengatur dan penciptanya.

Faktor lain yang juga berpengaruh adalah adanya tujuan para penguasa zalim, sombong, dan tamak yang memanfaatkan keyakinan masyarakat awam untuk memenuhi ambisi mereka, mengokohkan dan memperluas kekuasaan mereka. Untuk hal inilah, mereka menebarkan keyakinan-keyakinan keliru dengan menegaskan bahwa kekuasan alam makhluk dan pengaturan alam diberikan kepada mereka, kemudian menjadikan raja-raja zalim sebagai wakil-wakil Tuhan dan disembah sebagai bagian dari upacara religius. Realitas sejarah ini bisa disaksikan pada raja-raja di Cina, India, Iran, Mesir, dan negeri-negeri yang lain. Baca lebih lanjut

Kenalilah Tuhanmu

Oleh: Mohammad Adlany

Salah satu prinsip yang memiliki akar terpenting dalam pandangan dunia (word view), pengenalan manusia, ideologi, dan wacana filsafat adalah pengenalan terhadap Sumber Eksistensi dan Sang Pencipta.

Karena pengetahuan tentang Sang Pencipta sebagai pengetahuan tertinggi maka pandangan dunia yang tidak didasarkan padanya merupakan sebuah pandangan yang tidak rasional dan rendah. Korelasi-korelasi yang terdapat pada bagian-bagian partikular dari sistem mekanisme universal alam semesta yang dipandang terjadi secara kebetulan dan tanpa tujuan adalah bersumber dari suatu pandangan bahwa maujud-maujud alam tidak memiliki tujuan penciptaan, hal ini berkonsekuensi pada pengingkaran Sang Pencipta. Walaupun ada sebagian pemikir yang memandang bahwa Tuhan pernah ada secara azali dan Dia lah yang menciptkan alam semesta ini beserta sistemnya yang maha sempurna, namun ragu akan keberadaan Tuhan yang bersifat abadi. Nah, kelompok pemikir seperti ini tetap kita golongkan sebagai pengingkar Tuhan. Baca lebih lanjut