Pembuktian Kaidah Imkân Asyrâf

Oleh: Mohammad Adlany

Menurut Syaikh Isyraq kaidah tersebut tidak terlalu memerlukan argumentasi dan hanya sedikit memerlukan perhatian yang saksama dari fitrah manusia, dari konteks ini bisa dikatakan bahwa kaidah tersebut bersifat aksiomatis (badihi, gamblang), ia berkata: “Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak terpancar dari Yang Satu kecuali satu (kaidah al-wâhid), kalau telah terwujud mumkin akhas dari Wâjib al-Wujûd maka mumkin asyrâf pasti terwujud sebelumnya. Jika diasumsikan bahwa telah terwujud mumkin asyrâf dari Wâjib al-Wujûd tetapi tidak terwujud dengan alasan bahwa Dia zat yang tunggal dan hanya mewujudkan satu wujud saja yakni mumkin akhas maka ini berarti bahwa kita meniscayakan keberadaan sisi asyrâf pada wujud Tuhan yang nantinya menjadi sebab perwujudan mumkin asyrâf, konsekuensi dari pernyataan ini adalah tak terdapat sisi asyrâf pada wujud Tuhan yang berimplikasi pada kemustahilan perwujudan mumkin asyrâf dari zat Wâjib al-Wujûd dan juga mustahil kita mengasumsikan tentang keberadaan kesempurnaan pada wujud-Nya apalagi terpancar dari wujud-Nya.[1] Baca lebih lanjut

Apa Kaidah Imkan Asyraf (Theory of Future Possibility) itu?

Oleh: Mohammad Adlany

Kaidah imkân asyrâf termasuk salah satu kaidah penting dalam kajian-kajian filsafat, mengingat penerapannya yang cukup banyak dalam menegaskan berbagai realitas-realitas wujud. Sebagaimana diketahui bahwa kaidah imkân asyrâf (noblest contingency, higher possibility) untuk pertama kalinya ditemukan dalam ungkapan-ungkapan Aristoteles, kemudian dalam kalimat-kalimat Ibnu Sina, setelah itu digunakan dalam gagasan-gagasan Syaikh Isyraq, dan kajian-kajian Mir Damad serta pemikiran Mulla Sadra. Kaidah ini telah dijadikan dasar analisis dan pondasi argumentasi untuk membuktikan dan menegaskan eksistensi hakiki yang paling sempurna di antara realitas-realitas eksistensi di semua alam. Baca lebih lanjut

Urutan Penciptaan [3]

Oleh: Mohammad Adlany

1. Satu Akibat (Ma’lul) hanya Terpancar dari Satu Sebab (‘Illah)

Syaikh Isyraq, sebagaimana filosof Peripatetik, menerima dan menetapkan suatu rumusan masyhur yang disebut dengan kaidah al-wahid. Dia menyatakan bahwa mustahil terpancar dari Nurul Anwar satu cahaya dan satu non-cahaya (substansi gelap dan aksiden-aksiden gelap), karena:

  1. Aspek kemestian cahaya berbeda dengan kemestian kegelapan. Kalau keduanya (cahaya dan kegelapan) terpancar dari-Nya, maka zat Nurul Anwar terangkap dari dua aspek itu. Sebagaimana kita ketahui tentang kemustahilan kerangkapan zat-Nya. Maka dari itu, terpancarnya kegelapan dari Nurul Anwar adalah mustahil terjadi;
  2. Cahaya dari sisi kecahayaannya, apabila memiliki akibat, maka akibat itu tidak lain adalah cahaya itu sendiri. Adalah juga mustahil terpancar secara langsung dua cahaya sekaligus dari zat Nurul Anwar (Sebab Pertama), karena dua cahaya ini adalah dua hakikat dan dua kemestian yang berbeda. Jika dua cahaya terpancar secara bersamaan dari-Nya, maka mengharuskan pada zat-Nya dua aspek dan dua dimensi. Dan keberadaan dua dimensi pada zat-Nya akan meniscayakan kerangkapan pada zat-Nya, dan hal ini adalah batil. Baca lebih lanjut

Sifat Nurul Anwar [2]

Oleh: Mohammad Adlany

1. Perbedaan Cahaya-Cahaya Substansial

Syaikh Isyraq beranggapan bahwa perbedaan cahaya-cahaya murni (baca: akal-akal) bersifat gradasional (bertingkat-tingkat). Dia menjelaskan, semua cahaya murni dari sisi zat dan hakikatnya adalah satu dan perbedaannya hanya pada aspek kesempurnaan, kekurangan, aksiden-aksiden, dan hal-hal yang ada di luar zat. Karena kalau perbedaan cahaya-cahaya itu terletak pada zat, maka setiap zat dari cahaya-cahaya itu harus tersusun dari genus dan diferensia; yakni setiap zat cahaya-cahaya itu memiliki dua bagian yaitu aksiden-aksiden gelap dan substansi gelap (benda), namun kedua bagian ini bukanlah cahaya.

Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin penyatuan dua bagian itu bisa mewujudkan cahaya? Jika diasumsikan salah satu dari dua bagian adalah cahaya dan bagian lain adalah bukan cahaya, maka yang bukan cahaya mustahil memiliki efek dalam perwujudan cahaya, karena yang bukan cahaya pada hakikatnya bukan merupakan sumber cahaya. Dan bagian yang lain tidak lain adalah cahaya. Maka, gabungan dari dua bagian ini tidaklah bermanfaat.

Pada cahaya-cahaya murni tidak ada perbedaan dalam hakikat zatnya, karena jika tidak demikian maka setiap cahaya semestinya mempunyai dua bagian, yaitu cahaya dan bukan cahaya. Yang bukan cahaya sebagai aksiden yang “menempel” pada cahaya atau sebaliknya, atau kedua bagian itu merupakan substansi yang mandiri (tidak bergantung satu sama lain). Baca lebih lanjut

Pembuktian Realitas Nurul Anwar [1]

Oleh: Mohammad Adlany

Syihabuddin Abul Fatuh Yahya bin Habsy bin Amirak Suhrawardi adalah seorang pendiri aliran Hikmatul Isyraq (Filsafat Iluminasi). Ia dilahirkan di Suhrawad pada tahun 549 H dan populer dipanggil Syaikhul Isyraq.

Beberapa tahun kemudian, ia hijrah ke kota Maraghih untuk belajar filsafat dan ushul fiqih pada seorang ulama bernama Majduddin Jily. Setelah itu, ia ke kota Ishfahan mengkaji kitab al-bashair[1] dibawah asuhan Zahîruddin Farsi.

Suhrawardi banyak melakukan safar dan pada setiap kota yang dilaluinya menyempatkan bertemu dengan tokoh-tokoh dan guru-guru yang terkenal. Kota terakhir yang disinggahinya adalah Halb dan Dimasyq (Suria), di kota ini ia mendapatkan kehormatan dari raja Zâhir Syah. Tetapi, penghormatan raja yang berlebihan ini membuat iri para ulama fiqih Sunni. Karena itulah, dengan perantaraan fitnah yang sengaja dibuat, para ulama itu mendesak Shalahuddin Ayyubi untuk menghukum mati Syaikh Iysraq. Pada akhirnya, di kota ini, pada tahun 587 H dalam usia 37 tahun Syihabuddin Abul Fatuh bin Habsyi menggapai maqam kesyahidan. Baca lebih lanjut