Tentang Perwujudan Makhluk [3]

Oleh: Mohammad Adlany

1. Tolok Ukur Kebutuhan Akibat (Ma’lul) kepada Sebab (‘Illah)

Para teolog beranggapan bahwa kebutuhan suatu akibat (makhluk) kepada sebab (pencipta) hanya pada tingkat perwujudan dan penciptaan makhluk, bukan pada keberlangsungan keberadaan makhluk. Hal ini berbeda dengan pandangan Ibnu Sina yang menjelaskan, “Sebagian manusia beranggapan bahwa kebergantungan dan kebutuhan makhluk kepada sesuatu yang dinamakan pencipta, dipandang hanya pada sisi makna makhluk dan makna pencipta itu sendiri. Makna makhluk, misalnya, adalah sesuatu yang  tercipta dan terwujud, sementara makna pencipta adalah sesuatu yang menciptakan dan mewujudkan.”

Hakikat dari makna tersebut adalah bahwa makhluk ini pada awalnya tiada dan tidak berwujud, kemudian dengan perantaraan pencipta, makhluk tersebut menjadi ada dan berwujud. Makna ini (berdasarkan pandangan teolog) tidak lain adalah penciptaan, perwujudan, dan perbuatan itu sendiri. Berpijak pada perspektif ini, bahwa huduts (keberadaan setelah tiada) itu dipandang satu-satunya tolok ukur kepenciptaan. Bisa jadi para teolog berpikir bahwa ketika sesuatu itu telah tercipta, maka kebutuhannya kepada pencipta menjadi sirna sedemikian sehingga kalaupun penciptanya kemudian menjadi tiada, maka makhluk tetap akan ada dan terus berwujud. Hal ini sebagaimana yang senantiasa kita saksikan bahwa ketika tukang bangunan meninggal maka bangunan yang dibangunnya akan tetap ada, utuh, dan tidak menjadi sirna. Baca lebih lanjut

Tujuan Perwujudan Alam [5]

Oleh: Mohammad Adlany

Ibnu Sina setelah menegaskan wujud dan sifat Tuhan (Wâjibul Wujûd) kemudian melangkah menjelaskan hubungan antara Tuhan dan makhluk serta masalah-masalah yang berhubungan dengan perwujudan dan penciptaan, seperti tujuan hakiki, urutan, dan sistem alam.

1. Definisi Maujud Sempurna dan Tak Sempurna

Ibnu Sina pertama-tama mendefinisikan maujud sempurna yang sama sekali tak bergantung pada sesuatu yang lain dan lantas menentukan wujud tak sempurna yang bergantung pada yang lain. Poin ini merupakan mukadimah untuk menegaskan bahwa Wâjibul Wujûd tidak berupaya mencapai suatu tujuan tertentu dalam menciptaan alam. Menurut Ibnu Sina, “Anda ketahui bahwa mana di antara maujud yang maha kuat dan maha kaya (sama sekali tidak membutuhkan sesuatu di luar dirinya)?

Suatu maujud bisa dikatakan yang maha kuat dan kaya itu jika tidak bergantung pada selain dirinya dari tiga aspek:

  1. Dari sisi zat;
  2. Dari sisi sifat hakiki;
  3. Dari sisi kesempurnaan hakiki suatu zat.

Oleh karena itu, setiap maujud yang butuh dan bergantung kepada maujud lain dari dimensi zat, sifat hakiki, dan kesempurnaan (seperti bentuk, ilmu, kodrat, keindahan) ialah maujud yang tak sempurna, fakir, dan lemah.[1] Baca lebih lanjut

Tentang Huduts dan Qidam-nya Alam [4]

Oleh: Mohammad Adlany

Ibnu Sina pada bagian ini berupaya menjelaskan persoalan huduts dan qidam-nya alam dengan mengajukan pertanyaan: Apakah alam bersifat qâdim atau hâdits?

Pada pembahasan ini, Ibnu Sina mengisyaratkan tiga hal:

  1. Keyakinan yang beragam tentang pencipta alam;
  2. Argumentasi para teolog tentang huduts-nya alam;
  3. Dalil para filosof tentang qidam-nya alam.

Di bawah ini akan diuraikan ketiga hal tersebut:

1. Keyakinan yang beragam tentang pencipta alam

Sebagian kelompok meyakini bahwa maujud materi secara esensial terwujud dengan sendirinya dan tidak membutuhkan suatu Pencipta eksternal, maujud materi mesti-ada dengan sendirinya. Baca lebih lanjut

Pembuktian Wujud Tuhan Versi Peripatetisme [1]

Oleh: Mohammad Adlany

1. Penetapan Wujud Non-Materi

Ibnu Sina pada kesempatan ini berupaya membuktikan bahwa eksistensi tidak hanya terbatas pada materi dan realitas yang terindera. Dasar argumentasinya berpijak pada perkara-perkara yang bersifat universal (al-Kulli). Dia menjelaskan, “Kita bisa memahami suatu hakikat universal yang memiliki eksistensi eksternal dengan menelaah hal-hal yang partikular, namun realitas eksternal ini bukanlah realitas materi yang dapat diindera. Dan terkadang kita mendengar sebagian orang yang memiliki pikiran keliru dan menyangka bahwa eksistensi adalah indentik dengan wujud-wujud materi yang terindera. Dengan demikian, maujud-maujud non-materi tidak memiliki eksistensi hakiki.”[1]

Ibnu Sina dalam menjawab kritikan tersebut berkata, “Apabila kita menelaah secara serius dan sistimatik benda-benda materi ini, maka kita akan memahami kesalahan pikiran mereka. Mereka memahami bahwa kita menggunakan kata yang sama untuk sebagian benda, seperti penggunaan kata manusia yang mencakup individu-individu yang berbeda (Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husain). Penggunaan kata ini bukan semata-mata bersifat semantik, melainkan menceritakan suatu kenyataan hakiki. Apakah hakikat manusia yang terdapat dalam pikiran yang memiliki wujud eksternal ialah maujud materi ataukah maujud non-materi? Baca lebih lanjut

Sifat-Sifat Tuhan [2]

Oleh: Mohammad Adlany

1. Kemustahilan Satu Hakikat memiliki Akibat Beragam

Pembahasan ini merupakan mukadimah pembuktian keesaan dan ketunggalan Tuhan (Wâjibul Wujûd). Dalam hal ini Ibnu Sina berkata, “Perkara-perkara yang berbeda satu sama lain dalam perwujudan realitas eksternalnya dan pada saat yang sama memiliki hakikat dan esensi yang sama, pasti memiliki dua aspek, pertama berkaitan dengan karakteristik dan kekhususan (keragaman) zatnya masing-masing dan kedua yang berhubungan dengan aspek kesatuan dan kesamaan dari masing-masingnya. Kita bisa mengkaji kedua aspek ini dari sisi hubungan dan kaitannya satu sama lain. Hubungan antara kesatuan dan keragaman tersebut kita bisa asumsikan kedalam empat bentuk, antara lain:

  1. Kesatuan itu merupakan akibat dari keragaman. Pada asumsi ini, hakikat-hakikat yang berbeda pasti memiliki kemestian dan akibat yang sama dan tunggal, karena kita beranggapan bahwa kesatuan tersebut berasal dari kemestian hakikat-hakikat zat yang berbeda. Asumsi ini adalah tidak logis. Sebagai contoh, apabila genus dipandang dari kemestian diferensia, maka diferensia-diferensia yang berbeda hanya memiliki satu genus, yakni memiliki satu kemestian dan akibat;
  2. Keragaman itu berasal dari kesatuan, yakni kejamakan dan keragaman bersumber dari kesatuan dan ketunggalan. Dengan berpijak pada asumsi ini, kita harus menerima bahwa hakikat yang satu memiliki beragam kemestian. Namun asumsi ini tetap saja tidak rasional, karena kita tidak dapat menggambarkan bahwa satu hakikat, dalam dimensi kesatuan dan ketunggalannya, memiliki kemestian-kemestian dan akibat-akibat yang jamak dan beragam;
  3. Kesatuan mengaksiden dan menempel pada keragaman. Asumsi ini adalah tidak benar;
  4. Keragaman mengaksiden pada kesatuan. Asumsi ini bisa diterima. Kita memiliki banyak contoh-contoh dan fenomena-fenomena dimana satu hakikat memiliki aksiden-aksiden yang beragam, seperti hakikat manusia yang memiliki banyak individu-individu yang berbeda dan beragam dengan perantaraan aksiden-aksiden yang berbeda.”[1] Baca lebih lanjut