Tafsiran Keliru Atas Argumen Imkan dan Wujub

Oleh: Mohammad Adlany

Para filsuf dan pemikir barat mengadopsi argumen imkan dan wujub dari fisuf-filsuf muslim, tetapi mereka tidak sempurna dalam memahami dan memaparkannya. Kekeliruan dalam paparan mereka adalah anggapan bahwa jika keseluruhan wujud di alam ini adalah wujud-wujud kontingen maka niscaya pada waktu tertentu wujud-wujud ini akan tiada. Kekeliruan ini, membuat para pengkritik argumen ini beranggapan bahwa jika alam ini senantiasa ada maka akan menjadi azali dan tak lagi memerlukan sebab. Kondisi ini menjadikan alam ,yang secara esensial merupakan wujud kontingen, sesuai dengan keazalian. Artinya tak mustahil jika ada realitas wujud yang bergantung kepada wujud azali tetapi keazalian ini tidak menghilangkan kebergantungannya kepada sebab bahkan keperluannya semakin bertambah.

Konsekuensi dari anggapan itu adalah waktu itu sendiri menjadi realitas wujud yang berdiri sendiri dan mandiri dari wujud kontingen, yakni waktu itu sendiri memiliki eksistensi tetapi tak satupun realitas wujud berada di dalamnya. Nah, sekarang kita bertanya tentang waktu itu sendiri, apakah dia wujud kontingen? Kalau wujud kontingen maka tak perlu waktu itu sendiri barada di dalam suatu realitas waktu. Jika waktu itu sendiri bukan wujud kontingen maka pasti Wujud Wajib atau wujud mustahil. Kalau wujud mustahil maka tak mungkin mewujud, sementara secara riil waktu itu sendiri telah terwujud. Jika waktu itu sendiri adalah Wujud Wajib maka juga mustahil, karena waktu itu sendiri tidak memiliki sifat-sifat Wujud Wajib. Baca lebih lanjut

Iklan

Tolok Ukur Kebutuhan Makhluk Terhadap Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Apa kriteria dan tolok ukur kebutuhan wujud kontingen (makhluk) terhadap sebab (Tuhan)? Secara subtansial, jawaban para filsuf atas pertanyaan ini berbeda dengan para teolog. Di bawah ini, akan kami jabarkan jawaban beserta dalil-dalil dari masing-masing aliran pemikiran itu:

1. Perspektif Para Filsuf

Para filsuf berkeyakinan bahwa kriteria kebutuhan wujud kontingen kepada sebab adalah watak kebergantungannya (imkan). Jadi, mereka berpendapat bahwa setiap wujud kontingen beserta watak kebergantungan yang dimilikinya dan posisi “wujud”nya yang terletak di antara eksistensi dan non-eksistensi niscaya memerlukan sebab. Jika sesuatu itu adalah Wujud Wajib, maka secara esensial dia mewujud dan tak membutuhkan sebab dalam perwujudannya, begitupula jika sesuatu itu wujud mustahil, maka secara esensial dia tiada dan tak memerlukan sebab dalam ketiadaannya. Tapi, jika sesuatu itu adalah wujud kontingen, maka secara esensial dalam mewujud dan meniada niscaya membutuhkan sebab.

Kalau kita mempersepsikan pengertian wujud kontingen, maka kita akan memahami bahwa “wujud” kontingen terletak antara wujud dan non-wujud. Dengan posisinya yang demikian itu, “wujud” kontingen niscaya membutuhkan sebab untuk menggeser posisinya ke titik wujud sehingga mewujud. Baca lebih lanjut

Penjabaran Argumen Imkan dan Wujub

Oleh: Mohammad Adlany

Setelah menjelaskan secara terperinci dasar-dasar dari argumen ini, maka kita akan membuktikan realitas eksistensi Tuhan. Secara hakiki, realitas eksistensi Tuhan tak tersembunyi dari “pandangan” kita, Dia dekat dan bahkan sangat dekat dari diri kita sendiri dan sangat terang dari cahaya apapun.

Tak bisa disangkal, secara empiris, ada alam materi yang di dalamnya terdapat ribuan makhluk mulai dari manusia hingga batu-batuan. Setelah kita menganalisa, melihat, dan merasakan hakikat realitas wujud-wujud eksternal ini, maka hanya terdapat dua asumsi sebagai berikut:

Pertama, wujud kontingen (mumkin al-wujud, makhluk)

Kedua, Wujud Wajib (wâjib al-wujud, Tuhan). Baca lebih lanjut

Interpretasi Argumen Shiddiqin Mulla Sadra

Oleh: Mohammad Adlany

Penjabaran Burhan shiddiqin dalam Kitab Asfar

Penguraian burhan shiddiqin dalam kitab al-Asfar al-arba’ah sebagai berikut:

Wujud merupakan suatu realitas yang riil, hakiki, tunggal, dan basith (tidak berangkap dan tidak memiliki bagian-bagian) yang tidak ada perbedaan yang esensial di antara individu-individunya, kecuali dalam derajat kesempurnaan dan kekurangan, kuat dan lemah. Puncak kesempurnaan wujud terletak pada Yang Maha Sempurna (baca: Tuhan) yang sama sekali tidak bergantung kepada selain-Nya, Dia berdiri sendiri, dan Dia ada dengan sendirinya. Karena setiap wujud yang lemah secara esensial bergantung kepada selainnya.

Oleh karena itu, wujud memiliki dua realitas, yakni yang tidak butuh kepada selainnya dan yang bergantung kepada yang lain. Wujud yang pertama disebut Wâjib al-Wujud, yaitu suatu wujud yang murni, Maha Sempurna, tidak memiliki kekurangan, dan tidak mempunyai keterbatasan sedikitpun. Wujud yang kedua adalah realitas selain Wâjib al-Wujud, yakni perbuatan-perbuatan-Nya dan manifestasi-manifestasi-Nya. Selain Tuhan adalah tidak abadi, punah, sirna, dan tidak langgeng kecuali berpijak, bertumpu, dan bersama-Nya. Sebagaimana Tuhan berfirnan, “Dia bersama kalian dimana saja kalian berada.” Baca lebih lanjut

Dalil Filosofis Keberadaan Tuhan

Oleh: Mohammad Adlany

Dasar-dasar Argumen Imkan dan Wujub

Argumen yang dipergunakan di sini untuk menelaah realitas eksistensi dan wujud eksternal dalam menegaskan eksistensi hakiki Tuhan adalah argumen imkan (contingent) dan wujub (necessity).

Argumen ini merupakan salah satu argumen rasional yang paling kuat dalam membuktikan eksistensi Tuhan, karena tak satupun manusia berakal menolak dan memungkiri eksistensi dirinya dan realitas wujud-wujud di alam ini, sementara argumen ini secara prinsipil berpijak pada penerimaan realitas eksistensi dan wujud hakiki.

Sebenarnya, Tuhan tidak gaib, yang gaib justru diri kita sendiri, Tuhan bahkan lebih berwujud dari wujud-wujud lain dan lebih bercahaya dari cahaya-cahaya lain. Jadi, kalau kita mempergunakan argumen-argumen untuk “pembuktian” wujud Tuhan, maka itu hanyalah berdimensi “mengingatkan” kita akan realitas hakiki itu. Baca lebih lanjut

Asas-asas Argumen Shiddiqin Mulla Sadra

Oleh: Mohammad Adlany

Dalil Sadrian Tentang Eksistensi Tuhan

Di awal abad ke-11 terjadi perubahan besar dalam substansi pengkajian dan sistimatika pembahasan ketuhanan dalam filsafat Islam. Empat aliran pemikiran seperti peripatetik, iluminasi, irfan teoritis, dan teologi Islam sebelum abad kesebelas bersifat mandiri, terpisah satu sama lain, dan masing-masing berpijak pada teori dan gagasannya sendiri-sendiri, tapi di awal abad kesebelas empat aliran itu berhasil dipadukan secara sempurna oleh Mulla Sadra sehingga melahirkan satu aliran dan sistem filsafat baru yang ia sebut sebagai Hikmah Muta’aliyah (Filsafat Transendental, Filsafat Sadrian)[1].

Aliran filsafat baru itu, disamping memanfaatkan warisan pemikiran dan kaidah-kaidah filsafat terdahulu juga berhasil mengkontruksi dan melahirkan pemikiran dan kaidah filsafat baru yang dengan jitu mampu menyelesaikan berbagai problem rumit filsafat yang sebelumnya tak mampu diselesaikan oleh keempat aliran filsafat dan teologi tersebut. Baca lebih lanjut

Perbuatan Tuhan dan Masalah Penciptaan Menurut Mulla Sadra [4]

Oleh: Mohammad Adlany

Tak diragukan lagi bahwa seluruh alam dan segala kejadian yang terjadi di dalamnya, dari sisi wujud dan eksistensinya, memiliki hubungan dengan Tuhan, semuanya itu adalah perbuatan dan pancaran dari-Nya, pancaran dari sifat-sifat seperti sifat Rahmat, Rahim, Pemberi Rezki, Keagungan, Kekayaan, Kemuliaan, dan lain sebagainya. Tuhan disifatkan dengan suatu sifat yang terambil dari tingkatan perbuatan itu sendiri, sifat ini disebut dengan sifat perbuatan dan lebih rendah dari sifat zat.

Kehendak (iradah), Kemurahan dan Kebaikan (ihsan) Tuhan adalah wujud eksternal itu sendiri (baca: alam dengan segala realitasnya) dimana terwujud dengan penciptaan Tuhan dengan perantaraan nama Al-Murid, Al-Karim dan Al-Muhsin. Penciptaan Tuhan tiada lain adalah realitas alam itu sendiri secara menyeluruh dan wujud-wujud partikular merupakan manifestasi langsung dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Makhluk-makhluk dengan wujudnya yang beraneka ragam dan sifatnya yang bermacam-macam mengisyaratkan kepada kita bahwa realitas itu merupakan tanda kesempurnaan zat dan sifat Tuhan, yakni realitas ini bersumber dari suatu perbuatan pada tingkatan zat Tuhan. Secara lahiriah, perbuatan Ilahi itu memiliki banyak perbedaan tapi pada hakikatnya semua kembali kepada satu perbuatan umum yang disebut dengan penciptaan. Yang dimaksud dengan penciptaan bukan berarti bahwa ada “bahan baku” atau “materi awal” sebelumnya dimana Tuhan menggunakan “bahan baku” tersebut sebagai bahan dasar dalam penciptaan, karena jika demikian maka wujud Tuhan tidaklah azali bila dibandingkan dengan “materi awal” tersebut dan juga wujud-Nya menjadi terbatas dan keterbatasan wujud-Nya ini tidak sesuai dengan kesempurnaan mutlak yang dimiliki-Nya. Baca lebih lanjut

Nama dan Sifat Tuhan dalam Perspektif Mulla Sadra [3]

Oleh: Mohammad Adlany

Tak satupun dari makhluk dalam semua aspek yang serupa dengan Tuhan. Pada sisi lain, setiap sifat dari sifat-sifat yang kita kenal adalah sifat makhluk dan bukan sifat Khâlik. Kalau Dia itu kita sifatkan dengan sifat-sifat yang kita ketahui tersebut, maka kita meletakkan makhluk serupa dan setara dengan Tuhan dalam sifat-sifat itu. Maka dari itu, kita harus memilih jalan agar kita tak terjebak dalam penafian makrifat tentang sifat Tuhan dan juga menghindar dari penyerupaan makhluk dengan Tuhan.

Kelihatannya jalan yang logis dalam pengenalan manusia tentang sifat-sifat Tuhan adalah beranggapan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan dalam kemampuannya menjelajahi secara rasional ketakterbatasan sifat-sifat Tuhan. Jadi bukan berarti bahwa akan manusia secara mutlak tak mampu mengenal beberapa sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Sebagaian aliran teologis beranggapan bahwa akal manusia tak bisa menetapkan sifat-sifat Tuhan secara mendetail dan menegaskan batasan-batasan sifat-Nya. Walaupun aliran ini, kenyataannya tak menolak beberapa pengetahuan dan pengenalan kepada sifat Tuhan yang perlu dan urgen bagi manusia, ini berarti bahwa mereka tak memberikan batasan antara kemampuan pengenalan akal manusia dan “urgensi kebutuhan pengetahuan manusia terhadap Tuhan”.

Maka jelaslah bahwa, dalam keadaan ketidakmampuan akal manusia mencapai secara sempurna pengetahuan hakiki tentang Tuhan, namun manusia sangat urgen memiliki pengetahuan tentang Tuhan walaupun sedikit dimana pengetahuan “yang sedikit” itu bukan hanya tak “dilarang” atau akal tak mampu menjangkaunya bahkan sangat perlu dan mesti bagi manusia dalam meraih keyakinan tentang-Nya. Pengetahuan “yang sedikit” tentang Tuhan sangat berpengaruh dalam semua bentuk peribadatan manusia kepada-Nya, tanpa pengetahuan itu mustahil manusia merasakan kelezatan dalam mengingat dan berzikir kepada-Nya. Baca lebih lanjut

Gagasan Mullla Sadra Tentang Tuhan [2]

Oleh: Mohammad Adlany

Berdasarkan alur pemikiran sebelumnya (pada makalah: Perspektif Teologis Mulla Sadra [1]), gagasan Mulla Sadra tentang Tuhan berbeda dengan gagasan ke-Tuhan-an yang dimiliki oleh Al Farabi dan Ibnu Sina. Gagasan mereka atas Tuhan berpijak pada persepsi tentang “keniscayaan wujud” dan menurut mereka juga memperkenalkan Tuhan tak cukup dengan mematok pengertian tentang ke-qadim-an dan tolok ukur ketakbutuhan dan kesempurnaan esensial Tuhan.

Dalam pandangan mereka perbedaan antara Wajibul Wujud dan wujud kontingen adalah bahwa wujud kontingen terangkap dan tersusun dari kuiditas dan wujud, sementara Wajibul Wujud merupakan wujud murni dan tak tersusun dari kuiditas. Karena wujud itu sendiri berada pada tingkatan esensi Tuhan dan bukan bersifat tambahan pada esensi-Nya, maka zat-Nya pada tingkatan tersebut tak terpisah dari wujud sehingga mesti butuh pada wujud tersebut.

Mulla Sadra berpendapat bahwa ketakbutuhan dan kesempurnaan esensi Tuhan  tak cukup dengan menegaskan ke-qadim-an dan kemanunggalan esensi Tuhan dan wujud. Dalam pandangannya, teori bahwa Tuhan yang merupakan wujud murni dan basith bukan dalil atas keniscayaan dan ketakbutuhan mutlak Tuhan, teori ini tak lain menegaskan bahwa maujud yang terasumsi[1] merupakan maujud hakiki dan bukan maujud majasi. Baca lebih lanjut

Perspektif Teologis Mulla Sadra [1]

Oleh: Mohammad Adlany

Dalam sejarah peradaban Yunani, tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat. Contoh yang paling nyata dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak di alam dalam membuktikan adanya penggerak  yang tak terlihat (baca: Tuhan).

Tradisi argumentasi filosofis tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini kemudian secara berangsur-angsur masuk dan berpengaruh ke dalam dunia keimanan Islam. Tapi tradisi ini, mewujudkan semangat baru di bawah pengaruh doktrin-doktrin suci Islam dan kemudian secara spektakuler melahirkan filosof-filosof seperti Al Farabi dan Ibnu Sina, dan secara riil, tradisi ini juga mempengaruhi warna pemikiran teologi dan tasawuf (irfan) dalam penafsiran Islam. Baca lebih lanjut