Tingkat-tingkat Tauhid

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Baik tauhid maupun kemusyrikan ada tingkatan dan tahapannya masing-masing. Sebelum kita melewati semua tahap dalam tauhid, kita belum dapat menjadi pengikut atau ahli tauhid (muwahhid) yang sejati.

Tauhid Zat Allah

Yang dimaksud dengan tauhid (keesaan) Zat Allah adalah, bahwa Allah Esa dalam Zat-Nya. Kesan pertama tentang Allah pada kita adalah, kesan bahwa Dia berdikari. Dia adalah Wujud yang tidak bergantung pada apa dan siapa pun dalam bentuk apa pun. Dalam bahasa Al-Qur’an, Dia adalah Ghani (Absolut). Segala sesuatu bergantung pada-Nya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Dia tidak membutuhkan segala sesuatu. Allah berfirman:

Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah. Dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. (QS. Fâthir: 15) Baca lebih lanjut

Konsepsi Realistis tentang Alam Semesta

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Islam adalah sebuah agama yang realistis. Arti kata “Islam” adalah tunduk, patuh, menerima. Ini menunjukkan bahwa syarat pertama menjadi seorang Muslim adalah menerima realitas dan kebenaran. Islam menolak setiap bentuk keras kepala, prasangka, taklid buta, berat sebelah dan egoisme. Islam memandang semua itu bertentangan dengan realisme dan pendekatan realistis terhadap kebenaran.

Dari sudut pandang Islam, orang yang mencari ke­benaran, namun upayanya ini menemui kegagalan, dapat dimaafkan. Menurut Islam, kalau kita secara membuta atau karena keturunan menerima kebenaran, sementara itu kita keras kepala dan angkuh, maka apa yang kita lakukan itu tak ada nilainya.

Seorang Muslim sejati, baik laki-laki maupun perempuan, mesti dengan gairah menerima kebenaran di mana pun kebenaran itu didapatinya. Sejauh menyangkut menuntut ilmu pengetahuan, seorang Muslim tidak memiliki prasangka, atau sikapnya tidak berat sebelah. Upayanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan kebenaran tidak hanya pada masa tertentu dalam hidupnya dan juga tidak hanya di wilayah tertentu. Dia juga tidak menuntut ilmu pengetahuan dari orang tertentu saja. Nabi saw bersabda bahwa menuntut ilmu pengetahuan adalah wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki mau­pun perempuan. Nabi saw juga meminta kaum Muslim agar menerima ilmu pengetahuan dari seorang penyembah berhala sekalipun. Baca lebih lanjut

Konsepsi tentang Alam Semesta

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Setiap doktrin dan filsafat kehidupan tentu didasarkan pada kepercayaan, evaluasi tentang kehidupan, dan interpretasi serta analisis tentang alam semesta. Cara berpikir sebuah mazhab tentang kehidupan dan alam semesta dianggap sebagai dasar dari segenap pemikiran mazhab itu. Dasar ini disebut konsepsi mazhab itu tentang alam semesta.

Semua agama, sistem sosial, mazhab pemikiran, dan filsafat sosial didasarkan pada konsepsi tertentu tentang alam semesta. Semua sasaran yang dibeberkan sebuah mazhab, cara dan metode untuk mencapai sasaran itu, merupakan akibat wajar dari konsepsi mazhab tersebut tentang alam semesta. Baca lebih lanjut

Sumber-sumber Pemikiran dalam Islam

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir. Al-Qur’an bukan saja menunjukkan penyebab kesalahan berpikir, namun juga memerinci hal-hal yang patut dipikirkan, dan yang dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan dan informasi. Pada umumnya Islam menentang penggunaan energi untuk masalah yang tak dapat dikaji dengan saksama atau, kalau pun dapat, tidak bermanfaat bagi manusia. Nabi Muhammad saw menganggap sia-sia pengetahuan yang kalau didapat tak ada manfaatnya, dan kalau tak memilikinya tak ada mudaratnya. Di lain pihak, Islam mendorong manusia untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat dan dapat diteliti. Al-Qur’an menyebutkan tiga hal yang bermanfaat kalau dipikirkan: alam semesta, sejarah, dan hati nurani manusia.

a. Alam Semesta

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, benda-benda alam seperti bumi, langit, bintang, matahari, bulan, mendung, hujan, gerakan angin, bahtera yang berlayar di lautan, tumbuhan, binatang, dan segala yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia lewat indera, disebut sebagai hal-hal yang layak dipikirkan dalam-dalam dan disimpulkan. Sebagai contoh kami kutipkan sebuah ayat Al-Qur’an: Baca lebih lanjut

Islam Sebuah Mazhab yang Lengkap

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Islam, yang didasarkan pada konsepsi yang sempurna tentang alam semesta, merupakan sebuah mazhab yang realitistis lagi lengkap. Dalam Islam, semua aspek kebutuhan manusia, baik kebutuhan jasmaniah maupun kebutuhan spiritual, intelektual maupun mental, kebutuhan individu-individu maupun masyarakat, ke­butuhan yang berkenaan dengan dunia fana ini maupun akhirat, mendapat perhatian.

Ajaran Islam Meliputi Tiga bagian

1. Ajaran doktrinal atau prinsip pokok. Dalam ajaran doktrinal atau prinsip pokok ini, semua orang diminta beriman. Tugas yang harus ditunaikan dalam hal ini adalah semacam kerja ilmiah dan penelitian. Baca lebih lanjut

Mazhab Pemikiran atau Ideologi

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Definisi dan Arti Penting Ideologi

Apakah ideologi itu, dan bagaimana definisinya? Perlukah manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk mengikuti mazhab dan mempercayai ideologi? Apakah keberadaan ideologi diperlukan oleh orang seorang atau masyarakat? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, perlu adanya mukadimah.

Ada dua macam aktivitas manusia: yang menyenangkan dan yang politik. Aktivitas yang menyenangkan adalah aktivitas yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kesenangan atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya, karakter pembawaan atau kebiasaannya (yang juga merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman dan sudah menjadi naluri, dan bukan karakter bawaan). Misal, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air, bila dia melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu, dan kalau dia merasa ingin merokok, dia akan menyalakan rokok. Baca lebih lanjut

Keyakinan Religius

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa tanpa memiliki ideologi dan agama, manusia tak dapat hidup sehat, juga tak dapat memberikan pengabdiannya yang bermanfaat kepada umat manusia dan budaya manusia. Bila seseorang tidak memiliki ideal dan agama, maka dia akan asyik memikirkan kesejahteraan hidupnya sendiri, atau akan berubah menjadi robot tak bernyawa yang meraba-raba dalam gelap dan tak tahu tugasnya berkenaan dengan masalah moral dan sosial dalam hidup ini. Dia akan memperlihatkan reaksi yang aneh terhadap masalah moral dan sosial tersebut. Bila seseorang mengikuti suatu mazhab, ideologi atau agama, dia tahu dengan jelas tanggung jawabnya. Namun seseorang yang tanggung jawabnya tidak dijelaskan oleh mazhab atau sistem, dia akan hidup dalam kebingungan, dia terkadang ke sana dan terkadang ke situ. Dia akan menjadi makhluk yang eksentrik atau ganjil. Sesungguhnya tak mungkin ada dua pendapat mengenai perlunya mengikuti suatu mazhab atau ideologi.

Penting untuk dicatat bahwa keyakinan religius sajalah yang dapat mengubah manusia menjadi mukmin sejati, dan sanggup mengendalikan egoismenya berkat pengaruh kuat suatu doktrin dan ideologi. Keyakinan religius menciptakan dalam diri seseorang suatu kepatuhan total, hingga orang itu tidak lagi dapat meragukan doktrin-doktrin sangat sepele yang terdapat dalam mazhabnya. Dia menyimpan mazhabnya dengan mesra dalam hatinya, dan beranggapan bahwa bila tanpa mazhabnya maka hidup tak akan ada artinya, dan mendukung ideologinya dengan penuh semangat. Baca lebih lanjut

Ilmu Pengetahuan dan Agama

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama

Telah kita kaji hubungan antara sisi manusiawi manusia dan sisi hewaninya. Dengan kata lain, hubungan antara kehidupan budaya serta spiritual manusia dan kehidupan materialnya. Kini sudah jelas bahwa sisi manusiawi manusia itu eksistensinya independen dan bukanlah sekadar cermin kehidupan hewaninya. Juga sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua bagian pokok dari sisi manusiawi manusia. Kini marilah kita telaah keterkaitan yang terjadi atau yang dapat terjadi antara dua segi dari sisi manusiawi manusia itu.

Di dunia Kristiani, sayangnya, bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama mengajukan gagasan, bahwa terjadi kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama. Dasar dari gagasan ini—yang sangat merugikan ilmu pengetahuan dan agama—adalah Kitab Kejadian, Perjanjian Lama.

Dalam meriwayatkan “Kisah Adam dan Pohon Terlarang”. Kitab Kejadian, Bab II, ayat 16-17 mengatakan: Baca lebih lanjut

Manusia dan Binatang

Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari

Manusia merupakan sebangsa binatang. Dia memiliki banyak kesamaan dengan binatang lainnya. Pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakan dirinya dengan binatang lainnya, dan ciri-ciri ini menempatkannya lebih unggul daripada binatang. Ada ciri-ciri utama yang mendasar, yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sifat-sifat manusiawi manusia ditentukan oleh ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini, yang juga menjadi sumber dari apa yang dikenal sebagai budaya manusia, berkaitan dengan dua hal. Yaitu, sikap dan kecenderungan.

Pada umumnya binatang memiliki kemampuan melihat dan mengenal dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Dan dengan berbekal pengetahuan yang didapat dari melihat dan mengenal ini, binatang berupaya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti binatang lainnya, manusia juga memiliki banyak keinginan. Dan dengan bekal pengetahuan dan pengertiannya, manusia berupaya mewujudkan keinginannya. Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Bedanya adalah manusia lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih tinggi tingkat keinginannya. Baca lebih lanjut

Menapaki Jalan Spiritual: Syariat, Tharikat, dan Hakikat

Oleh: Mohammad Adlany

Dalam pandangan irfan, manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual ia kembali ke tempat asalnya, menyirnakan jaraknya dengan Dzat Tuhan, dan meniadakan dirinya sendiri dengan kedekatan kepada-nya (fana dalam asma dan sifat Tuhan) serta mengabadikan dirinya dengan kebersamaan dengan-Nya (baqa dengan dzat-Nya). Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.” (Qs. Insyiqaq: 6)

Oleh karena itu, sair suluk irfani bersifat senantiasa bergerak dan tidak konstan. Gerak dan perjalanan ini memiliki awal dan akhir, derajat dan tingkatannya yang harus dilewati dan ditapaki. Adalah sangat mungkin menggapai “hakikat” kesempurnaan manusia dan maqam kedekatan kepada Tuhan dengan melewati “tharikat” yang merupakan batin “syariat”. Dari dimensi ini, kita akan menemui kata-kata seperti “syariat”, “tharikat”, dan “hakikat” dalam ungkapan-ungkapan para urafa. Baca lebih lanjut

Pengertian ‘Arsy dan “Kursi”

Oleh: Mohammad Adlany

Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis, para penafsir al-Quran memberikan beberapa kemungkinan makna terhadap ‘arsy dan kursi.
‘Arsy secara literal berarti tahta, singgasana kerajaan dan tahta Rabbul ‘Alamin yang tidak bisa didefinisikan.[1] ‘Arsy pada prinsipnya berarti sesuatu yang memiliki atap, dan jamaknya adalah ‘urusy. Tempat duduk raja juga di sebut ‘arsy. Ini karena melihat ketinggiannya.[2]

Kursi adalah tahta, ilmu, pengetahuan, harta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.[3] 
Dalam Al-Quran, selain langit, bumi dan apa yang ada diantara keduanya, terdapat pula dua eksistensi lain dengan nama ‘arsy dan kursi.
Mengenai pengertian kata ‘arsy dan kursi, dengan menggunakan ayat-ayat dan riwayat-riwayat dari para Imam Ahlulbait Nabi As, para penafsir al-Quran menyatakan kemungkinan-kemungkinan berikut: Baca lebih lanjut

Kehendak Ilahi dan Kecenderungan Manusia kepada Keburukan

Oleh: Mohammad Adlany

Ayat yang menjadi poin pembahasan adalah ayat ke 29 surah at-Takwir, “Dan kamu tidak dapat berhendak kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam“, dan ayat yang mirip dengan ayat ini terdapat pula pada sebagian ayat ke 30 surah Ad-Dahr (Al-Insan), Dan kamu tidak mampu untuk berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Begitu pula pada ayat ke 19 surah al-Muzammil, “Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang dapat menyampaikan dirinya) kepada Tuhan-nya.

Berikut ini kami akan menganalisa ketiga ayat tersebut: Baca lebih lanjut

Fath al-Mubin Seorang Arif dan Ragam Manifestasi Ilahi

Oleh: Mohammad Adlany

Fath al-Mubin (kemenangan nyata) sesuai dengan manifestasi suatu sifat Ilahi dan berkaitan pula dengan pembahasan “wilayah” umum Ilahi dan fana. Dan dengan menjabarkan macam-macam “wilayah” Ilahi, empat tahap perjalanan (suluk) para urafa, tingkatan fana, dan tahapan kiamat personal (kiamat yang dialami oleh setiap orang) akan menjadi jelas bahwa kemenangan nyata bersesuaian atau merupakan hasil dari manifestasi tauhid perbuatan dan sifat Tuhan.

Pada tingkatan ini, walaupun kiamat kubra (besar) tidak terjadi pada arif, karena terjadinya kiamat semacam ini berhubungan dengan maqam “khafi (tersembunyi)” dan “akhfa (paling tersembunyi)” atau maqam “au adna” yang terkait “wilayah” khusus Ilahi dengan manifestasi Zat Ilahi dan kemenangan mutlak, akan tetapi hal itu bisa terwujud pada tingkatan terjadinya kiamat terendah yakni hadirnya “wajah” Allah dalam bentuk tauhid perbuatan dan sifat dalam tingkatan fana yang terendah dan “wilayah” umum Ilahi dalam kemenangan yang dekat (qarib) dan nyata (mubin). Baca lebih lanjut

Jalan Menuju Kesempurnaan

Oleh: Mohammad Adlany

Tema di atas bisa dipaparkan dalam empat bagian, yaitu: a. Definisi dari kata “sempurna” dan perbedaannya dengan kata “terpenuhi” dan “berkembang”; b. Kesempurnaan manusia; c. Kesempurnaan manusia dari perspektif Islam; dan d. Jalan menuju kesempurnaan.

  1. Definisi kata “sempurna” dan perbedaannya dengan kata “terpenuhi” dan “berkembang”.

Kata “sempurna” kadangkala diartikan dengan makna yang sinonim dengan kata “terpenuhi”, dan kadangkala dengan pengertian selain itu, namun bagaimanapun, lawan kata keduanya adalah “kurang”, sebagaimana halnya lawan kata “terpenuhi” adalah “kurang”.

Yang dimaksud dengan kesempurnaan adalah murni aktual (segalanya ada secara aktual), ketiadaan potensi atau keberadaan sifat-sifat yang mesti dimiliki oleh sesuatu. Kesempurnaan adalah kepemilikan segala hal yang mungkin dan layak untuk dimiliki oleh sesuatu. Dengan perkataan lain, kesempurnaan adalah titik akhir dan tingkatan akhir setiap sesuatu, atau keberadaan sifat-sifat yang niscaya dimiliki oleh sesuatu, dan persoalan-persoalan lain dalam batasan yang penting dan bermanfaat untuk sampai pada kesempurnaan hakikinya akan menjadi “kesempurnaan awal” dan “pengantar kesempurnaan” baginya.[1] Baca lebih lanjut