Dimensi-dimensi Akal

Oleh: Mohammad Adlany

Para filosof membuktikan adanya beragam dimensi pada diri manusia. Pada tahapan pertama, mereka membuktikan adanya “dwi dimensi” yang dimiliki oleh manusia dan menjabarkan argumentasi untuk dimensi non-materi-nya, dengan mengatakan bahwa materi memiliki tiga karakteristik, pertama mengalami perubahan, kedua bisa dibagi, dan ketiga memiliki dimensi ruang dan waktu. Jika ketiga sifat ini diperoleh pada suatu realitas, berarti realitas tersebut adalah materi, dan apabila ketiga karakteristik materi ini tidak ditemukan pada sebuah realitas, maka realitas tersebut adalah non-materi atau metafisika. Dan karena jiwa manusia sama sekali tidak memiliki ketiga karakteristik tersebut, jadi jiwa manusia merupakan sebuah realitas non-materi dan metafisik.

Jadi, karena apa yang dipelajari oleh jiwa pada masa kanak-kanak secara permanen diketahuinya hingga usia lanjut, berarti apa yang diketahuinya tersebut konstan dan tidak berubah. Demikian juga dengan jiwa manusia yang merupakan esensi tak berkomposisi (basith), invisible, dan tak bisa dibagi, dengan arti bahwa tidak bisa digambarkan bahwa kesempurnaan ruhani sebagaimana keberanian dan ilmu manusia, bisa dibagi menjadi dua bagian. Tentu saja masing-masing kesempurnaan ini memiliki tingkatan dan antara tingkatan lemah dan tingkatan kuat terdapat perbedaan yang sangat jelas, tingkatan ilmu dan keberanian yang lemah bukan merupakan setengah dari ilmu dan keberanian. Jadi, apabila segala kesempurnaan jiwa tidak bisa dibagi, maka dikatakan bahwa jiwa pun mustahil terbagi. Baca lebih lanjut

Iklan

Letak Kesalahan dalam Pemikiran Keagamaan

Oleh: Mohammad Adlany

Akal manusia -berdasarkan apa yang telah dikatakan dalam pembahasan tentang parameter dan mizan kebenaran dalam rasionalitas dan Epistemologi- perlu melakukan berbagai peneltian, observasi, dan pencarian untuk menemukan dan menyingkap persoalan- persoalan yang hakiki dan realitas-realitas yang obyektif, dan setelah dia menemukan hakikat-hakikat tersebut, maka semestinya dia merancang dan membentuk kehidupannya yang sesuai dengan pengetahuan dan makrifat hakikinya itu dan berupaya menyesuaikan perilaku-perilakunya dengan pengetahuan yang diperolehnya, termasuk di dalamnya adalah tindakan-tindakan yang berkaitan dengan politik dan sosial kemasyarakatan.

Metode dan alur pemikiran manusia bisa jadi berada pada salah satu dari tiga jalan berikut: induksi (istiqra’), analogi (tamtsil), dan argumen (burhan).

Pada ketiga metode di atas, hanya metode argumen-lah yang akan menghasilkan suatu pengetahuan, makrifat, dan ilmu yang benar. Karena hanya dalam metode argumen-lah tercipta suatu hubungan yang bersifat pasti dan niscaya antara mukadimah-mukadimah proposisi (yakni premis mayor dan minor) dan konklusinya (hasil dan konsekuensi proposisi). Baca lebih lanjut

Korelasi Agama dan Filsafat

Oleh: Mohammad Adlany

Agama dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami secara benar bahwa pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorangpun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan kesesuaian dua arus besar ini.

Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim, dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak “ternodai” dan “tercemari” mesti dipisahkan dari pembahasan dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki. Disamping itu, masih banyak tema-tema mendasar berkisar tentang hukum-hukum eksistensi di alam yang masih membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam, dan semua ini yang hanya dapat dilakukan dengan pendekatan filsafat. Baca lebih lanjut